Pakar: Libatkan Australia, AS dan China di Ambang Perang

Jum'at, 11 Maret 2016 - 17:43 WIB
Pakar: Libatkan Australia,...
Pakar: Libatkan Australia, AS dan China di Ambang Perang
A A A
MELBOURNE - Rencana Amerika Serikat (AS) untuk menyebarkan pesawat bomber nuklir B-1 di Australia karena khawatir dengan ekspansi militer China di Asia Pasifik dianggap langkah berbahaya. Pakar keamanan global menyebut AS dan China di ambang perang dengan melibatkan Australia.

Rencana AS itu dipicu tindakan China yang dituding Pentagon melakukan militerisasi di pulau sengketa di Laut China Selatan. China telah geram dengan rencana AS untuk menyebar pesawat B-1 di Australia.

(Baca: Amerika Ingin Tempatkan Pesawat Bomber B-1 di Australia)

Profesor Joseph Siracusa, pakar pada Human Security and International Diplomacy di Royal Melbourne Institute of Technology University, mengatakan langkah AS dengan melibatkan Australia dalam kebuntuannya dengan China menunjukkan bahwa situasi di Laut China Selatan akan menjadi “subjek intensif untuk enam bulan ke depan”.

Menurut Sircusa, Beijing sebenarnya berusaha untuk hati-hati menjauhkan Australia dari konflik dengan AS terkait krisis Laut China Selatan. Tapi, kini AS melibatkan Australia dalam konflik itu.

Pemerintah Australia memainkan kartu ini dekat dengan dada. Mereka ingin dilibatkan Amerika lebih dan lebih (di Laut China Selatan),” ujarnya kepada Sputniknews, Jumat (11/3/2016).

Dia melihat militer dan publik Australia selama ini cenderung mendukung langkah pemerintah Australia. Beberapa yang kontra hanya dari komunitas akademik.

Profesor Siracua melanjutkan, Amerika telah mengambil keuntungan dari situasi sekarang, dengan bergegas untuk memperkuat hubungan mereka dengan militer Australia. Hal itu sebagai upaya Washington untuk menggeser keseimbangan kekuasaan di wilayah regional Asia.

Presiden AS, Obama telah berusaha untuk menyeimbangkan atau menggeser keseimbangan,” kata Siracusa. "Itu berarti bahwa terjadi pergeseran aset Amerika di berbagai belahan dunia,” imbuh dia.

Sementara itu, Beijing telah menempatkan sistem rudal canggih di Laut China Selatan, dan tidak mengakui hak kebebasan bernavigasi yang diklaim AS dengan alasan, wilayah kepulauan di Laut China Selatan merupakan kedaulatan Beijing.

Kami melihat banyak penumpukan (kekuatan) klimaks di sini,” kata Siracusa.”Angkatan Laut China benar-benar telah dikerahkan dengan menghentikan Angkatan Laut AS,” sambung dia.

Menurutnya, indikator ketegangan ini menjadi penegasan bahwa situasi yang terus memanas bisa tumbuh menjadi perang antara China dan AS.
(mas)
Berita Terkait
Dukung AS, Australia...
Dukung AS, Australia Tolak Klaim China atas Laut China Selatan
China: Ikut Campur Laut...
China: Ikut Campur Laut China Selatan, Australia bak Naik Kapal Bocor AS
Gentayangan di LCS,...
Gentayangan di LCS, China Sebut Pesawat Intai Australia Ancam Kedaulatan
Kapal Induk AS Gelar...
Kapal Induk AS Gelar Latihan di Laut China Selatan
Dekati Kepulauan Paracel,...
Dekati Kepulauan Paracel, China Kirim Peringatan ke Kapal Berpeluru Kendali AS
Kirim Kapal Perang Berpeluru...
Kirim Kapal Perang Berpeluru Kendali, AS Tantang Klaim China di LCS
Berita Terkini
Saat Banyak Orang Bermigrasi...
Saat Banyak Orang Bermigrasi ke Berlin, tapi 288.000 Warga Jermah Justru Pilih Tinggalkan Negaranya
2 jam yang lalu
Zelensky Ditekan untuk...
Zelensky Ditekan untuk Pecat Jenderal Tertinggi Ukraina di Tengah Perang Melawan Rusia
3 jam yang lalu
Khalil al-Hayya Jadi...
Khalil al-Hayya Jadi Pemimpin Hamas, Perjuangan Gaza Makin Konfrontatif atau Pragmatis?
3 jam yang lalu
Profil Sheikh Miqdad,...
Profil Sheikh Miqdad, Ulama Palestina yang Ditangkap Pasukan Indonesia dan Dikhawatirkan Diserahkan ke Israel
4 jam yang lalu
4 Fakta Film Odyssey...
4 Fakta Film Odyssey yang Picu Ketegangan, dari Isu Kulit Hitam hingga Transgender
4 jam yang lalu
Langka, Kapal Perang...
Langka, Kapal Perang China Latihan Tembak di Dalam ZEE Jepang
5 jam yang lalu
Infografis
Bagher Ghalibaf, Negosiator...
Bagher Ghalibaf, Negosiator Iran dan Tangan Kanan Mojtaba yang Mampu Tundukkan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved