Rusia: Operasi Militer di Suriah Harus Seizin Damaskus
Jum'at, 30 Oktober 2015 - 21:31 WIB
Rusia: Operasi Militer di Suriah Harus Seizin Damaskus
A
A
A
MOSKOW - Rusia menyatakan, tidak ada negara yang dapat menggunakan kekuatan militernya di Suriah tanpa persetujuan pemerintahan Presiden Bashar al-Ashad. Hal itu diungkapkan oleh Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Ryabkov saat menanggapi pertanyaan tentang prospek Amerika Serikat (AS) melancarkan operasi darat di Suriah.
"Pertanyaan tentang menggunakan kekuatan militer dalam bentuk apapun tanpa persetujuan Damaskus, bagi kami tidak dapat diterima," kata Ryabkov, seperti dilansir Reuters dari kantor berita TASS, Jumat (30/10/2015).
Sebelumnya, pemerintah AS tengah mempertimbangkan untuk melakukan serangan darat di Suriah dan mengirimkan helikopter tempur ke Irak untuk menghadapi ISIS. Nantinya, penempatan personel dan perangkat militer AS akan dirancang secara khusus. Hal ini dilakukan agar bisa mendapatkan kemajuan yang spesifik dengan obyek tertentu di Suriah dan Irak. (Baca juga: AS Siapkan Strategi Baru Perangi ISIS di Suriah dan Irak)
Selain itu, keberadaan pasukan darat AS akan membantu serangan udara yang dilakukan oleh pasukan koalisi. Sedangkan di Irak, keberadaan pasukan darat AS dapat meningkatkan kemampuan militer Irak untuk merebut sejumlah wilayah yang dikuasai oleh ISIS.
Namun belum sempat terealisasi, usulan ini telah ditolak oleh pemerintak Irak. Juru bicara Perdana Menteri Irak Haider al-Abadi, Sa'ad al-Hadithi mengatakan, pemerintah Irak menyatakan tidak meminta dan tidak perlu bantuan pasukan AS dalam operasi lapangan seperti yang dijanjikan oleh Pentagon.
"Pertanyaan tentang menggunakan kekuatan militer dalam bentuk apapun tanpa persetujuan Damaskus, bagi kami tidak dapat diterima," kata Ryabkov, seperti dilansir Reuters dari kantor berita TASS, Jumat (30/10/2015).
Sebelumnya, pemerintah AS tengah mempertimbangkan untuk melakukan serangan darat di Suriah dan mengirimkan helikopter tempur ke Irak untuk menghadapi ISIS. Nantinya, penempatan personel dan perangkat militer AS akan dirancang secara khusus. Hal ini dilakukan agar bisa mendapatkan kemajuan yang spesifik dengan obyek tertentu di Suriah dan Irak. (Baca juga: AS Siapkan Strategi Baru Perangi ISIS di Suriah dan Irak)
Selain itu, keberadaan pasukan darat AS akan membantu serangan udara yang dilakukan oleh pasukan koalisi. Sedangkan di Irak, keberadaan pasukan darat AS dapat meningkatkan kemampuan militer Irak untuk merebut sejumlah wilayah yang dikuasai oleh ISIS.
Namun belum sempat terealisasi, usulan ini telah ditolak oleh pemerintak Irak. Juru bicara Perdana Menteri Irak Haider al-Abadi, Sa'ad al-Hadithi mengatakan, pemerintah Irak menyatakan tidak meminta dan tidak perlu bantuan pasukan AS dalam operasi lapangan seperti yang dijanjikan oleh Pentagon.
(ian)