Aksi Menakjubkan Rusia di Suriah Dinilai Rusak Reputasi AS
Senin, 12 Oktober 2015 - 16:31 WIB
Aksi Menakjubkan Rusia di Suriah Dinilai Rusak Reputasi AS
A
A
A
WASHINGTON - Rentetan serangan militer menakjubkan Rusia di Suriah dinilai sudah merusak reputasi Amerika Serikat (AS). Pentagon pun dituding menyebarkan informasi yang salah untuk menyudutkan Rusia dalam operasi militernya di Suriah.
Komentar itu disampaikan mantan perwira intelijen Marinir AS, Scott Ritter. Salah satu upaya AS untuk menyudutkan Rusia adalah dengan mencoba meremehkan serangan rudal-rudal jelalah kapal-kapal perang Kremlin dari Laut Kaspia beberapa hari lalu.
Seperti diketahui, Pentagon menuduh empat dari 26 serangan rudal jelajah yang ditembakkan kapal-kapal perang Rusia dari Laut Kaspia dengan target ISIS di Suriah telah jatuh di Iran. Pejabat militer Iran, Jenderal Mousa Kamali mengatakan, tuduhan AS itu merupakan kebohongan terang-terangan.
”Ini bahaya nyata terhadap (AS), yang kehilangan reputasinya akibat aksi menakjubkan dari berbagai kekuatan militer Rusia. (AS) kehilangan muka ketika datang ke ‘pertandingan’ besar yang dimainkan hari ini sehubungan dengan Suriah, Rusia memegang hampir semua kartu,” ujar Ritter, seperti dikutip Sputnik, Senin (12/10/2015).
Menurutnya, Pentagon berusaha untuk mengalihkan perhatian dari fakta kehebatan militer Rusia dengan menyebarkan informasi seolah-olah Rusia melanggar kedaulatan Iran.
Analisa Ritter itu dia tulis dalam artikel berjudul “The Trouble with Missiles”. “Kisah nyata, ‘spin’ yang ditempatkan pada cerita oleh Pentagon adalah dugaan pelanggaran wilayah Iran yang terjadi ketika rudal tersebut menghantam bumi. Tujuannya dalam menekankan aspek cerita ini,” tulis Ritter.
Bekas pejabat militer Washington itu juga menilai ada pertaruhan harga diri AS ketika Pentagon menolak bergabung dengan pusat intelijen baru di Baghdad, di mana Rusia, Suriah, Iran dan Irak berkoordinasi dengan tujuan sama, yakni mengalahkan kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).
Komentar itu disampaikan mantan perwira intelijen Marinir AS, Scott Ritter. Salah satu upaya AS untuk menyudutkan Rusia adalah dengan mencoba meremehkan serangan rudal-rudal jelalah kapal-kapal perang Kremlin dari Laut Kaspia beberapa hari lalu.
Seperti diketahui, Pentagon menuduh empat dari 26 serangan rudal jelajah yang ditembakkan kapal-kapal perang Rusia dari Laut Kaspia dengan target ISIS di Suriah telah jatuh di Iran. Pejabat militer Iran, Jenderal Mousa Kamali mengatakan, tuduhan AS itu merupakan kebohongan terang-terangan.
”Ini bahaya nyata terhadap (AS), yang kehilangan reputasinya akibat aksi menakjubkan dari berbagai kekuatan militer Rusia. (AS) kehilangan muka ketika datang ke ‘pertandingan’ besar yang dimainkan hari ini sehubungan dengan Suriah, Rusia memegang hampir semua kartu,” ujar Ritter, seperti dikutip Sputnik, Senin (12/10/2015).
Menurutnya, Pentagon berusaha untuk mengalihkan perhatian dari fakta kehebatan militer Rusia dengan menyebarkan informasi seolah-olah Rusia melanggar kedaulatan Iran.
Analisa Ritter itu dia tulis dalam artikel berjudul “The Trouble with Missiles”. “Kisah nyata, ‘spin’ yang ditempatkan pada cerita oleh Pentagon adalah dugaan pelanggaran wilayah Iran yang terjadi ketika rudal tersebut menghantam bumi. Tujuannya dalam menekankan aspek cerita ini,” tulis Ritter.
Bekas pejabat militer Washington itu juga menilai ada pertaruhan harga diri AS ketika Pentagon menolak bergabung dengan pusat intelijen baru di Baghdad, di mana Rusia, Suriah, Iran dan Irak berkoordinasi dengan tujuan sama, yakni mengalahkan kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).
(mas)