Jika Jadi Presiden, Trump Siap Perbaiki Perjanjian Nuklir Iran
Jum'at, 04 September 2015 - 23:08 WIB
Jika Jadi Presiden, Trump Siap Perbaiki Perjanjian Nuklir Iran
A
A
A
WASHINGTON - Salah satu kandidat Presiden Amerika Serikat (AS) dari Partai Republik, Donald Trump, mendukung perjanjian nuklir Iran dengan AS dan lima negara kuat di dunia.
Kendati begitu, ia mengatakan, jika nanti terpilih menjadi Presiden AS, ia akan memperbaiki perjanjian tersebut. Ia bahkan menyebut perjanjian tersebut sebagai kontrak yang mengerikan.
"Saya akan membuat perjanjian yang begitu kuat dan jika mereka melanggarnya, maka mereka akan mendapatkan neraka sebagai bayarannya," ujar Trump saat hadir dalam program Morning Joe di MSNBC seperti dikutip dari Washington Post, Jumat (4/9/2015).
Dalam kesempatan itu ia menyatakan, kesepakatan nuklir Iran dinegosiasikan oleh orang-orang yang benar-benar kompeten. "Tidak masuk akal menolak kesepakatan nuklir dengan Iran," katanya
Ia pun menyatakan, jika Iran akan menjadi sumber teror yang mutlak dan memprediksi Teheran akan menggunakan uang dari bantuan sanksi yang diterimanya untuk menciptakan ketidakstabilan di wilayah tersebut.
"Saya akan membeli kontrak yang buruk itu," ujar miliarder real estate ini yang merasa memenuhi syarat untuk menjadi orang nomor satu di AS.
Kendati begitu, ia mengatakan, jika nanti terpilih menjadi Presiden AS, ia akan memperbaiki perjanjian tersebut. Ia bahkan menyebut perjanjian tersebut sebagai kontrak yang mengerikan.
"Saya akan membuat perjanjian yang begitu kuat dan jika mereka melanggarnya, maka mereka akan mendapatkan neraka sebagai bayarannya," ujar Trump saat hadir dalam program Morning Joe di MSNBC seperti dikutip dari Washington Post, Jumat (4/9/2015).
Dalam kesempatan itu ia menyatakan, kesepakatan nuklir Iran dinegosiasikan oleh orang-orang yang benar-benar kompeten. "Tidak masuk akal menolak kesepakatan nuklir dengan Iran," katanya
Ia pun menyatakan, jika Iran akan menjadi sumber teror yang mutlak dan memprediksi Teheran akan menggunakan uang dari bantuan sanksi yang diterimanya untuk menciptakan ketidakstabilan di wilayah tersebut.
"Saya akan membeli kontrak yang buruk itu," ujar miliarder real estate ini yang merasa memenuhi syarat untuk menjadi orang nomor satu di AS.
(esn)