Lawan Rusia, Inggris Siap Jadi Sarang Bom Nuklir AS
Senin, 08 Juni 2015 - 09:12 WIB
Lawan Rusia, Inggris Siap Jadi Sarang Bom Nuklir AS
A
A
A
LONDON - Pemerintah Inggris menyatakan kesiapannya menjadi lokasi penempatan atau "sarang" bom nuklir Amerika Serikat (AS) untuk melawan Rusia. Hal itu disampaikan Menteri Luar Negeri Inggris, Philip Hammond.
Menurutnya, menempatkan hulu ledak nuklir AS di wilayah Inggris adalah hal yang tidak dikesampingkan.”Tindakan yang sangat halus, tetapi harus,” kata Hammond dalam wawancaranya dengan BBC.
“Ada beberapa tanda-tanda mengkhawatirkan terkait meningkatkannya aktivitas baik pasukan Rusia maupun pasukan separatis pro-Rusia yang dikendalikan di Ukraina,” lanjut dia, semalam (7/8/2015).
Sebelumnya, AS sedang mempertimbangkan untuk menarik diri dari perjanjian Anti-Nuklir dengan Rusia untuk mengakhiri Perang Dingin di masa lalu. Hal itu untuk merespons apa yang Washington sebut sebagai perlawanan terhadap “agresi” Rusia. Pihak Rusia sendiri berkali-kali membantah melakukan agresi di Ukraina.
Ketika ditanya apakah Inggris benar-benar akan menjadi “tuan rumah” penempatan bom nuklir AS, Hammond berujar;”Itu akan menjadi keputusan bahwa kami akan bersama-sama jika proposisi itu di atas meja. Kami akan melihat semua pro dan kontra hingga sampai pada suatu kesimpulan.”
Hammond khawatir Rusia menggunakan doktrin “perang proxy” di Ukraina, meski hal itu juga sudah disangkal Kremlin. Menlu Inggris itu menyoroti penempatan rudal Rusia di pesisir Kaliningrad, wilayah Rusia yang persis di tengah-tengah Polandia dan Lithuania.
“Rusia perlu mendapatkan sinyal yang jelas bahwa kita tidak akan memungkinkan mereka untuk melanggar garis merah kami,” kata Hammond.
Sementara itu, Moskow telah memperingatkan bahwa penempatan rudal jelajah nuklir AS ke Eropa hanya akan menambah ketegangan yang sudah ada. Tindakana itu justru bukan meningkatkan keamanan Amerika. Moskow menuduh Washington melanggar perjanjian Anti-Nuklir atau perjanjian INF 1987, serta melancarkan perang informasi dalam upaya untuk mendiskreditkan Rusia.
Menurutnya, menempatkan hulu ledak nuklir AS di wilayah Inggris adalah hal yang tidak dikesampingkan.”Tindakan yang sangat halus, tetapi harus,” kata Hammond dalam wawancaranya dengan BBC.
“Ada beberapa tanda-tanda mengkhawatirkan terkait meningkatkannya aktivitas baik pasukan Rusia maupun pasukan separatis pro-Rusia yang dikendalikan di Ukraina,” lanjut dia, semalam (7/8/2015).
Sebelumnya, AS sedang mempertimbangkan untuk menarik diri dari perjanjian Anti-Nuklir dengan Rusia untuk mengakhiri Perang Dingin di masa lalu. Hal itu untuk merespons apa yang Washington sebut sebagai perlawanan terhadap “agresi” Rusia. Pihak Rusia sendiri berkali-kali membantah melakukan agresi di Ukraina.
Ketika ditanya apakah Inggris benar-benar akan menjadi “tuan rumah” penempatan bom nuklir AS, Hammond berujar;”Itu akan menjadi keputusan bahwa kami akan bersama-sama jika proposisi itu di atas meja. Kami akan melihat semua pro dan kontra hingga sampai pada suatu kesimpulan.”
Hammond khawatir Rusia menggunakan doktrin “perang proxy” di Ukraina, meski hal itu juga sudah disangkal Kremlin. Menlu Inggris itu menyoroti penempatan rudal Rusia di pesisir Kaliningrad, wilayah Rusia yang persis di tengah-tengah Polandia dan Lithuania.
“Rusia perlu mendapatkan sinyal yang jelas bahwa kita tidak akan memungkinkan mereka untuk melanggar garis merah kami,” kata Hammond.
Sementara itu, Moskow telah memperingatkan bahwa penempatan rudal jelajah nuklir AS ke Eropa hanya akan menambah ketegangan yang sudah ada. Tindakana itu justru bukan meningkatkan keamanan Amerika. Moskow menuduh Washington melanggar perjanjian Anti-Nuklir atau perjanjian INF 1987, serta melancarkan perang informasi dalam upaya untuk mendiskreditkan Rusia.
(mas)