Sudah Habisi 83 Wanita, Pembunuh Berantai Rusia Minta Dibebaskan untuk Perang di Ukraina

Kamis, 19 Januari 2023 - 09:21 WIB
loading...
Sudah Habisi 83 Wanita,...
Mikhail Popkov, pembunuh berantai Rusia yang telah membunuh 83 wanita, minta dibebaskan dari penjara untuk beperang di Ukraina. Foto/Twitter @JeffreyGuterman
A A A
MOSKOW - Seorang pembunuh berantai di Rusia , yang menjalani dua hukuman penjara seumur hidup karena mengaku telah membunuh 83 wanita, minta dibebaskan agar bisa ikut perang di Ukraina .

Mikhail Popkov (58) adalah seorang mantan polisi yang dihukum pada tahun 2015 atas pelecehan seksual dan pembunuhan puluhan wanita antara tahun 1992 hingga 2010. Dia telah membunuh banyak wanita di Angarsk dan Irkutsk, di Siberia, dan Vladivostok di Timur Jauh Rusia.

Pada tahun 2018, korbannya secara resmi dinyatakan sebanyak 78 wanita. Namun, dia mengakui telah membunuh 83 wanita.

Terlepas dari hukumannya, otoritas Rusia mengizinkan televisi pemerintah untuk mewawancarai Popkov—pria yang dijuluki "Manusia Serigala" dan "Maniak Angarsk".

Baca juga: Perang Ukraina Memanas, Rusia Kerahkan Rudal Antarbenua RS-24 Yars untuk Patroli Tempur

Pihak berwenang Rusia telah membuka penjara bagi narapidana untuk berperang di garis depan dalam invasi Moskow ke Ukraina dan dilaporkan menawarkan untuk membebaskan hukuman mereka jika mereka bertahan enam bulan.

Popkov mengatakan dia ingin menjadi bagian dari skema tersebut dan ketika ditanya oleh saluran berita Vesti, "Apa impian Anda?" dia menjawab, "untuk masuk tentara."

Dia mengatakan bahwa dirinya sadar pertempuran di Ukraina "bukanlah permainan komputer". "Ini bukan buku fiksi tentang pahlawan super," katanya.

"Secara realistis, bagaimana saya bisa hidup sampai Januari dan Februari, bagi saya cuaca beku yang paling dingin adalah yang terburuk," katanya, menambahkan dia tidak akan ragu untuk bergabung dengan pasukan Rusia di Ukraina.

“Dengan mempertimbangkan spesialisasi militer saya, saya pikir permintaannya cukup tinggi sekarang,” katanya meskipun mengakui bahwa dia perlu mempelajari keterampilan baru, sebagaimana dikutip Newsweek, Kamis (19/1/2023).

“Meskipun saya telah berada di penjara selama 10 tahun, saya rasa tidak akan terlalu sulit untuk mempelajari keterampilan baru,” imbuh Popkov, yang ditangkap pada tahun 2012.

Dia tidak merinci apa pengalaman militernya dan laporan media lokal mengatakan bahwa dia hanya bekerja di kepolisian dan sebagai satpam.

Layanan Penjara Federal Rusia belum berkomentar atas permintaan Popkov.

Peran yang dimainkan para narapidana dalam invasi Rusia telah mengemuka sehubungan dengan mereka yang berada di kelompok tentara bayaran Wagner Group yang dibiayai oleh sekutu Presiden Vlaidmir Putin, Yevgeny Prigozhin.

Pada hari Selasa lalu, Prigozhin mengeklaim bahwa tahanan putaran keempat yang telah menyelesaikan kontrak mereka dengan kelompok tersebut telah menerima pengampunan.

Seorang komandan Wagner, Andrei Medvedev, yang melarikan diri dari kelompok itu dan melarikan diri ke Norwegia, menggambarkan bagaimana para tahanan "digunakan sebagai umpan meriam, seperti daging."

Pada bulan Oktober, aktivis hak asasi manusia (HAM) Rusia Olga Romanova mengatakan bahwa lebih dari 20.000 tahanan Rusia telah dikirim ke perang di Ukraina.

Dia mengatakan pada bulan Agustus bahwa para tahanan yang tidak diadili juga sedang direkrut.
(min)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Putin: Negara-negara...
Putin: Negara-negara Barat Secara Terbuka Mengatakan Mereka Bersiap Perangi Rusia
Tegang dengan NATO,...
Tegang dengan NATO, Pesawat Pengebom Nuklir Rusia Berkeliaran di Arktik
Rusia Tembak Jatuh 80...
Rusia Tembak Jatuh 80 Drone Ukraina, Kremlin Luncurkan Rudal Balistik Iskander
Gelar Serangan Balasan,...
Gelar Serangan Balasan, Rusia Hancurkan Fasilitas Energi di Seluruh Ukraina
Zelensky Ancam Serang...
Zelensky Ancam Serang Belarusia, Perang Rusia-Ukraina Bisa Meluas
Menkeu AS Sebut Zelensky...
Menkeu AS Sebut Zelensky Bajingan Kecil Bertingkah seperti Mr Bean yang Sakau
Perang Rusia-Ukraina...
Perang Rusia-Ukraina Memicu Perlombaan Senjata AI
Kematian Akibat Wabah...
Kematian Akibat Wabah Ebola di RD Kongo Tembus 200 Orang
Abaikan AS, Netanyahu...
Abaikan AS, Netanyahu Ngotot Tak Akan Tarik Pasukan Israel dari Lebanon
Rekomendasi
Persaingan Pasar Game...
Persaingan Pasar Game Valorant, Intip Strategi Ekspansi Tokovalorant
Pasar Modal RI Terancam...
Pasar Modal RI Terancam Turun Kasta ke Frontier Market, MSCI Ultimatum hingga November 2026
Polisi Tangkap Taufik...
Polisi Tangkap Taufik Hidayat Penganiaya Pacar di Bandung lewat Transaksi Belanja
Berita Terkini
Trump: Produsen Mobil...
Trump: Produsen Mobil AS Bisa Produksi Rudal
Oman dan Iran Bentuk...
Oman dan Iran Bentuk Kelompok Kerja Bersama untuk Bahas Pengelolaan Selat Hormuz
Trump Batasi Israel...
Trump Batasi Israel di Berbagai Bidang, Tak Hanya di Lebanon
Iran akan Bangun Saluran...
Iran akan Bangun Saluran Komunikasi Langsung Hormuz dengan AS
Putin: Negara-negara...
Putin: Negara-negara Barat Secara Terbuka Mengatakan Mereka Bersiap Perangi Rusia
PM Pakistan: AS dan...
PM Pakistan: AS dan Iran akan Bahas Program Rudal Balistik dan Isu Nuklir dalam 60 Hari ke Depan
Infografis
AS Siapkan 100 Hari...
AS Siapkan 100 Hari Lagi untuk Damaikan Rusia dan Ukraina
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved