Parlemen Vietnam Terima Pengunduran Diri Presiden Akibat Skandal Korupsi

Rabu, 18 Januari 2023 - 23:27 WIB
loading...
Parlemen Vietnam Terima...
Parlemen Vietnam yang disebut Majelis Nasional pada Rabu (18/1/2023) menyetujui pengunduruan diri Presiden Nguyen Xuan Phuc. Foto/NBC News
A A A
HANOI - Parlemen Vietnam yang disebut Majelis Nasional pada Rabu (18/1/2023) menyetujui pengunduruan diri Presiden Nguyen Xuan Phuc, sehari setelah dia secara dramatis mengundurkan diri sebagai bagian dari gerakan anti-korupsi.

Pengunduran dirinya yang tiba-tiba dan belum pernah terjadi sebelumnya terjadi selama periode pergolakan politik yang signifikan di Vietnam, di mana pembersihan anti-korupsi dan pertempuran faksi telah menyebabkan beberapa menteri dipecat.

Media pemerintah Vietnam melaporkan, dalam pertemuan luar biasa yang tertutup bagi media internasional, lebih dari 93 persen anggota Majelis Nasional menyetujui pengunduran diri Phuc.

Tanpa pengganti yang ditunjuk, menurut konstitusi Vietnam makam wakil presiden saat ini, Vo Thi Anh Xuan, secara otomatis menjadi presiden sementara seperti dikutip dari Channel News Asia.

Vietnam yang otoriter dijalankan oleh Partai Komunis dan secara resmi dipimpin oleh sekretaris jenderal, presiden, dan perdana menteri.

Keputusan penting dibuat oleh politbiro, yang sekarang berjumlah 16 orang.

Baca: Gara-gara Ini Presiden Vietnam Mengundurkan Diri

Kepergian Phuc yang tiba-tiba adalah langkah yang sangat tidak biasa di Vietnam, di mana perubahan politik biasanya diatur dengan hati-hati, dengan penekanan pada stabilitas yang hati-hati.

Pada hari Selasa, Partai Komunis memutuskan pria berusia 68 tahun itu bertanggung jawab atas kesalahan para menteri senior di bawahnya selama masa jabatannya sebagai perdana menteri 2016 hingga 2021, sebelum ia menjadi presiden.

Dua wakil perdana menteri - Pham Binh Minh dan Vu Duc Dam - dipecat bulan ini dalam pembersihan anti-korupsi yang menyebabkan penangkapan puluhan pejabat, dengan banyak tuduhan korupsi terkait kesepakatan yang dilakukan sebagai bagian dari penanggulangan pandemi Covid-19 Vietnam.

Sekretaris Jenderal Partai Komunis Vietnam Nguyen Phu Trong - orang paling berkuasa di partai - secara luas dipandang sebagai arsitek di balik gerakan anti-korupsi, yang terbukti populer di kalangan masyarakat Vietnam.

Jonathan London, seorang pakar Vietnam kontemporer, mengatakan puncak dramatis dari kampanye tersebut adalah mengubah partai pada level tertingginya.

"Orang bisa menggunakan terminologi pembersihan politik," katanya kepada AFP.

Baca: Tim SAR Vietnam Coba Selamatkan Bocah yang Jatuh ke Lubang 35 Meter

"Tapi saya pikir itu mungkin lebih baik dipahami sebagai kebetulan persaingan internal di dalam partai dan kemudian kesalahan langkah besar yang dilakukan oleh orang-orang ini di posisi senior," ia menambahkan.

Untuk diketahui hanya satu presiden Partai Komunis yang pernah mengundurkan diri, dan itu karena alasan kesehatan.

Para pengamat terpecah atas apakah kehilangan Phuc - yang memiliki pengalaman signifikan di arena internasional - akan memiliki konsekuensi signifikan bagi negara itu.

seorang peneliti di Institut ISEAS-Yusof Ishak di Singapura, Le Hong Hiep, mengatakan sifat kolektif kepemimpinan Vietnam membuat perubahan kebijakan besar tidak mungkin terjadi.

Namun bagi London, pergantian personel berarti risiko yang ditinggalkan Vietnam dengan hanya sedikit orang dalam posisi otoritas yang memiliki pengalaman dan kompetensi di panggung internasional.

Phuc diangkat ke peran seremonial presiden pada April 2021 setelah mendapat pujian atas keberhasilan penanganan pandemi di negara itu.

Baca: Bikin Heboh, Ratu Kecantikan Vietnam Kenakan Gaun Tembus Pandang di Atas Panggung
(ian)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Biden Sebut Trump Pencundang,...
Biden Sebut Trump Pencundang, Narsis, dan Sombong
47 Pejabat Ditangkap...
47 Pejabat Ditangkap karena Korupsi, Termasuk Anggota DPR
Israel Intervensi Pilpres...
Israel Intervensi Pilpres Kolombia, Ini 4 Faktanya
Profil Abelardo De La...
Profil Abelardo De La Espriella, Pengacara Berjam Tangan Mewah yang Jadi Presiden Baru Kolombia
Israel Bunuh 3 Tentara...
Israel Bunuh 3 Tentara Lebanon, Presiden Aoun Murka
Ini Daftar Negara yang...
Ini Daftar Negara yang Hukum Mati dan Rampas Aset Koruptor, Bagaimana dengan Indonesia?
Lelang Hasil Rampasan...
Lelang Hasil Rampasan Korupsi Periode Juni 2026, KPK Bukukan Rp39,8 Miliar
Pesawat Pembawa Penerjun...
Pesawat Pembawa Penerjun Payung Jatuh di Prancis, 11 Orang Tewas
Penembakan di Fasilitas...
Penembakan di Fasilitas Remaja, 6 Orang Tewas
Rekomendasi
Nadiem Makarim Hadapi...
Nadiem Makarim Hadapi Sidang Vonis Korupsi Chromebook, Puluhan Ojol Gelar Aksi di Luar Pengadilan
Betrand Peto Ungkap...
Betrand Peto Ungkap Momen Canggung Ruben Onsu Bertemu Sarwendah Sebelum Berangkat Umrah
Mantan Menpora Dito...
Mantan Menpora Dito Ariotedjo Kembali Diperiksa KPK Jadi Saksi Kasus Dugaan Korupsi Kuota Haji
Berita Terkini
Apakah Gerakan Amal...
Apakah Gerakan Amal Bisa Menggantikan Hizbullah?
Bagaimana Program Rudal...
Bagaimana Program Rudal Iran Bertahan dari Perang dan Diplomasi? Ini Analisisnya
Indonesia Lunasi Proyek...
Indonesia Lunasi Proyek Jet Tempur KF-21 Korsel Rp6,9 Triliun, Dapat Transfer Teknologi Apa?
Rusia dan Ukraina Makin...
Rusia dan Ukraina Makin Jauh dari Perdamaian, Apa Pemicunya?
Iran Ngamuk, Luncurkan...
Iran Ngamuk, Luncurkan Serangan Siber 3 Kali Lipat terhadap Israel
Trump Ingin Beri Turki...
Trump Ingin Beri Turki Jet Tempur Siluman F-35 AS, Kongres Siap Blokir dengan Alasan S-400 Rusia
Infografis
Iran Paksa AS Terima...
Iran Paksa AS Terima Kekalahan setelah 40 Hari Berperang, Ini 10 Poin Gencatan Senjata
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved