alexametrics

Rusia: Laporan Pesawat NATO Dipakai Angkut Narkoba di Afghanistan Harus Diselidiki

loading...
Rusia: Laporan Pesawat NATO Dipakai Angkut Narkoba di Afghanistan Harus Diselidiki
Rusia bersikukuh bahwa laporan tentang kemungkinan penggunaan pesawat NATO untuk dijadikan alat angkut narkoba di Afghanistan harus diselidiki. Foto/REUTERS
A+ A-
MOSKOW - Rusia bersikukuh bahwa laporan tentang kemungkinan penggunaan pesawat NATO untuk dijadikan alat angkut narkoba di Afghanistan harus diselidiki. Hal itu disampaikan Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov.

"Kami terus menerima laporan, termasuk melalui media massa, bahwa selundupan opiat telah diatur dari Afghanistan ke negara-negara lain, termasuk ke Eropa, dengan menggunakan pesawat militer koalisi NATO," ucap Lavrov.

(Baca juga: Menlu Rusia Bantah Laporan Moskow Beri Taliban Hadiah Bunuh Tentara AS)

"Kami tidak dapat memverifikasi laporan ini 100% tetapi laporan seperti itu datang terlalu teratur untuk diabaikan," sambungnya dalam sebuah pernyataan, seperti dilansir Tass pada Minggu (12/7/2020).



Lavrov kemudian mengatakan, jika pesawat militer digunakan di Afghanistan, itu hanya mungkin pesawat milik NATO dan penerbangan semacam itu hanya dapat dilakukan oleh militer atau layanan khusus. "Tentu saja informasi seperti itu perlu diselidiki, pertama-tama di Amerika Serikat (AS)," ungkapnya.

Dia menuturkan penyelidikan juga diperlukan di negara-negara anggota NATO. Lavrov menyebut, untuk menemukan fakta yang benar-benar dapat diandalkan, dapat dikatakan bahwa selama 20 tahun kehadiran AS dan anggota NATO lainnya Afghanistan, perdagangan narkoba dari negara itu telah meningkat berkali-kali lipat.



(Baca juga: Jelang Idul Adha 1441 H, Petugas Cek Kesehatan Hewan Kurban)

"Baik AS maupun anggota koalisi lainnya telah melakukan upaya serius untuk menghentikan produksi narkoba di Afghanistan," tukasnya.
(esn)
Ikuti Kuis Berhadiah Puluhan Juta Rupiah di SINDOnews
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak