Kaleidoskop 2022: Perang Rusia-Ukraina Pecah, Dunia di Ambang Konflik Nuklir
Senin, 26 Desember 2022 - 12:42 WIB
loading...
A
A
A
"Kami tidak gila, kami menyadari apa itu senjata nuklir," katanya. "Kami tidak akan berkeliling dunia mengacungkan senjata ini seperti pisau cukur," ujarnya.
Putin juga mengeklaim bahwa Rusia memiliki senjata nuklir paling modern dan canggih di dunia, dan membandingkan strategi nuklirnya dengan Amerika Serikat (AS)—yang katanya telah melangkah lebih jauh dari Rusia dengan menempatkan senjata nuklirnya di wilayah lain.
"Kami tidak memiliki senjata nuklir, termasuk yang taktis, di wilayah negara lain, tetapi Amerika memilikinya—di Turki, dan di sejumlah negara Eropa lainnya," katanya.
Ancaman perang Ukraina berubah menjadi Perang Dunia III dan konflik nuklir semakin tumbuh. Rusia telah menggelar latihan nuklir sambil terus menginvasi Ukraina.
Pensiunan Laksamana Angkatan Laut AS Mike Mullen mengatakan Presiden Vladimir Putin dapat menyeret Amerika ke dalam Perang Dunia III jika Moskow menggunakan senjata nuklir di Ukraina.
Berbicara kepada program "Amanpour" PBS, Mullen mengatakan: "Ini benar-benar waktu yang berbahaya, terus terang saja."
"Dan perang ini perlu diakhiri tanpa senjata itu digunakan," ujarnya.
"Saya sangat takut jika senjata itu keluar, kita sangat dekat dengan Perang Dunia III dan perang dengan Rusia—tidak lagi hanya Ukraina dan Rusia," paparnya. "Ini AS dan Rusia," imbuh dia.
Satu-satunya cara perang Ukraina bisa berakhir, kata dia, adalah melalui penyelesaian yang dinegosiasikan antara Ukraina dan Rusia.
Putin mengeklaim Rusia telah siap melakukan perundingan damai untuk mengakhiri perang. Namun, kata dia, Ukraina dan sekutu Barat-nya yang menolak untuk duduk di meja perundingan.
Selama perang 10 bulan terakhir, Rusia telah mencaplok empat wilayah Ukraina; Kherson, Zaporizhia, Luhansk dan Donetsk.
Moskow menolak narasi aneksasi atau pencaplokan dan menegaskan bahwa empat wilayah itu memilih bergabung dengan Federasi Rusia melalui referendum pada Oktober lalu. Meski demikian, Kiev dan sekutu Barat-nya tidak mengakui referendum tersebut dan menganggapnya sebagai aneksasi ilegal.
Meski empat wilayah itu bergabung dengan Rusia, namun pasukan Moskow tidak sepenuhnya mengontrol wilayah tersebut. Di Kherson misalnya, pasukan Rusia telah menarik diri.
Putin juga mengeklaim bahwa Rusia memiliki senjata nuklir paling modern dan canggih di dunia, dan membandingkan strategi nuklirnya dengan Amerika Serikat (AS)—yang katanya telah melangkah lebih jauh dari Rusia dengan menempatkan senjata nuklirnya di wilayah lain.
"Kami tidak memiliki senjata nuklir, termasuk yang taktis, di wilayah negara lain, tetapi Amerika memilikinya—di Turki, dan di sejumlah negara Eropa lainnya," katanya.
Ancaman perang Ukraina berubah menjadi Perang Dunia III dan konflik nuklir semakin tumbuh. Rusia telah menggelar latihan nuklir sambil terus menginvasi Ukraina.
Pensiunan Laksamana Angkatan Laut AS Mike Mullen mengatakan Presiden Vladimir Putin dapat menyeret Amerika ke dalam Perang Dunia III jika Moskow menggunakan senjata nuklir di Ukraina.
Berbicara kepada program "Amanpour" PBS, Mullen mengatakan: "Ini benar-benar waktu yang berbahaya, terus terang saja."
"Dan perang ini perlu diakhiri tanpa senjata itu digunakan," ujarnya.
"Saya sangat takut jika senjata itu keluar, kita sangat dekat dengan Perang Dunia III dan perang dengan Rusia—tidak lagi hanya Ukraina dan Rusia," paparnya. "Ini AS dan Rusia," imbuh dia.
Satu-satunya cara perang Ukraina bisa berakhir, kata dia, adalah melalui penyelesaian yang dinegosiasikan antara Ukraina dan Rusia.
Putin mengeklaim Rusia telah siap melakukan perundingan damai untuk mengakhiri perang. Namun, kata dia, Ukraina dan sekutu Barat-nya yang menolak untuk duduk di meja perundingan.
Selama perang 10 bulan terakhir, Rusia telah mencaplok empat wilayah Ukraina; Kherson, Zaporizhia, Luhansk dan Donetsk.
Moskow menolak narasi aneksasi atau pencaplokan dan menegaskan bahwa empat wilayah itu memilih bergabung dengan Federasi Rusia melalui referendum pada Oktober lalu. Meski demikian, Kiev dan sekutu Barat-nya tidak mengakui referendum tersebut dan menganggapnya sebagai aneksasi ilegal.
Meski empat wilayah itu bergabung dengan Rusia, namun pasukan Moskow tidak sepenuhnya mengontrol wilayah tersebut. Di Kherson misalnya, pasukan Rusia telah menarik diri.
(min)
Lihat Juga :