Soal Perang di Ukraina, Putin Bilang Rusia Tak Bisa Disalahkan

Kamis, 22 Desember 2022 - 05:13 WIB
loading...
Soal Perang di Ukraina,...
Presiden Vladimir Putin mengatakan Rusia tidak bisa disalahkan atas perang di Ukraina. Foto/Ilustrasi
A A A
MOSKOW - Presiden Rusia Vladimir Putin percaya bahwa pihaknya tidak bisa disalahkan atas perang di Ukraina . Menurutnya, kedua negara "berbagi tragedi."

Selama pidato dengan pejabat militer senior yang disiarkan televisi, Presiden Rusia itu mengatakan dia terus melihat Ukraina sebagai "negara saudara."

Pada bulan Februari, Presiden Putin mengirim hingga 200.000 tentara ke Ukraina memicu perang yang telah menyebabkan ribuan kematian. Dia mengklaim konflik itu adalah "hasil dari kebijakan negara ketiga".

Teori, yang menyiratkan ekspansi Barat sebagai penyebabnya, yang telah berulang kali ditolak oleh pihak di luar Rusia.

Dalam pidatonya, Putin mengklaim bahwa Barat telah "mencuci otak" republik-republik pasca-Soviet, dimulai dengan Ukraina.

"Selama bertahun-tahun, kami mencoba membangun hubungan bertetangga yang baik dengan Ukraina, menawarkan pinjaman dan energi murah, tetapi tidak berhasil," ujarnya seperti dikutip dari BBC, Kamis (22/12/2022).

Kekhawatiran lama Presiden Putin tampaknya berasal dari pertumbuhan NATO sejak Uni Soviet runtuh pada tahun 1991.

Baca: Putin: Hampir Seluruh Potensi Militer NATO Digunakan Melawan Rusia

Tujuan awal NATO adalah untuk menantang ekspansi Rusia setelah Perang Dunia Kedua, tetapi Kremlin telah lama berargumentasi bahwa NATO menerima bekas sekutu Soviet karena itu keanggotaan blok militer itu mengancam keamanannya.

Dalam pidatonya, Presiden Putin melanjutkan: "Tidak ada yang perlu dituduhkan kepada kami. Kami selalu menganggap orang Ukraina sebagai saudara dan saya masih berpikir demikian."

"Apa yang terjadi sekarang adalah sebuah tragedi, tapi itu bukan salah kami," imbuhnya.

Pidato itu disampaikan saat pemimpin Ukraina Volodmyr Zelensky tiba di Washington untuk kunjungan pertamanya di luar Ukraina sejak Rusia menginvasi 10 bulan lalu.

Rusia telah meluncurkan lebih dari 1.000 rudal dan drone serang buatan Iran dalam gelombang serangan terhadap infrastruktur listrik Ukraina yang dimulai pada 10 Oktober.

Serangan itu telah menjerumuskan jutaan orang ke dalam kegelapan.

Baca: Putin: Rudal Hipersonik Sarmat Hampir Siap Tempur

Pejabat militer Rusia berjanji untuk melanjutkan apa yang disebut "operasi militer khusus" hingga tahun 2023.

Ketika Rusia melancarkan invasi besar-besaran pada Februari, Presiden Putin berjanji hanya tentara profesional yang akan ambil bagian.

Tetapi pada bulan September semuanya berubah ketika dia mengumumkan "mobilisasi parsial", yang berpotensi merekrut ratusan ribu warga Rusia ke dalam angkatan bersenjata.

Sekarang, Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu telah mengusulkan untuk menaikkan rentang usia wajib militer Rusia.

Di bawah undang-undang saat ini, warga Rusia berusia 18-27 dapat dipanggil untuk wajib militer. Shoigu sekarang mengusulkan ini mencakup warga negara berusia 21-30.

Shoigu juga mengumumkan rencana untuk mendirikan pangkalan di dua kota pelabuhan - Berdyansk dan Mariupol - yang direbut selama serangan Rusia.

Namun, dalam beberapa bulan terakhir pasukan Ukraina telah membuat serangkaian kemajuan besar, termasuk merebut kembali Kherson - satu-satunya ibu kota regional yang direbut oleh pasukan Rusia sejak invasi.

Baca: Sambangi Beijing, Medvedev Sampaikan Pesan Putin pada Xi Jinping
(ian)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Gelar Serangan Balasan,...
Gelar Serangan Balasan, Rusia Hancurkan Fasilitas Energi di Seluruh Ukraina
Zelensky Ancam Serang...
Zelensky Ancam Serang Belarusia, Perang Rusia-Ukraina Bisa Meluas
Menkeu AS Sebut Zelensky...
Menkeu AS Sebut Zelensky Bajingan Kecil Bertingkah seperti Mr Bean yang Sakau
Putin Terus Tebar Ancaman,...
Putin Terus Tebar Ancaman, 4 Negara ini Memiliki Bunker Nuklir Teraman di Eropa
Warga Moskow Sudah Merasakan...
Warga Moskow Sudah Merasakan Perang Ukraina di Depan Halaman Rumah
Bagaimana Industri Farmasi...
Bagaimana Industri Farmasi Besar AS Raup Untung dari Pandemi dengan Perlakukan Warga Seperti Kelinci Percobaan?
Perang Rusia-Ukraina...
Perang Rusia-Ukraina Memicu Perlombaan Senjata AI
Kematian Akibat Wabah...
Kematian Akibat Wabah Ebola di RD Kongo Tembus 200 Orang
Trump Segera Gunakan...
Trump Segera Gunakan Pesawat Air Force One Hadiah dari Qatar, Tiba di Lanud Andrews
Rekomendasi
MNC University Perkuat...
MNC University Perkuat Kolaborasi dengan Sekolah Mitra melalui Pra-Rapat Kerja Tahun Ajaran 2026/2027
Spanyol Ngamuk, Sikat...
Spanyol Ngamuk, Sikat Arab Saudi 3-0 di Babak Pertama
Pramono Bangun Pedestrian...
Pramono Bangun Pedestrian Deck Dukuh Atas untuk Tingkatkan Konektivitas
Berita Terkini
3 Alasan PM Inggris...
3 Alasan PM Inggris Starmer Akan Mundur, Popularitasnya Terus Menurun
Iran dan AS Berdamai,...
Iran dan AS Berdamai, Negara-negara Arab Bisa Bernapas Lega
Gelar Serangan Balasan,...
Gelar Serangan Balasan, Rusia Hancurkan Fasilitas Energi di Seluruh Ukraina
JD Vance: Iran dan AS...
JD Vance: Iran dan AS Bekerja Sama Mewujudkan Perdamaian dan Kemakmuran di Timur Tengah
Iran Gunakan Senjata...
Iran Gunakan Senjata Ampuh dalam Negosiasi di Swiss, Apa Itu?
Selain Ingin Perang...
Selain Ingin Perang di Lebanon Berakhir, Iran Klaim Tak Ingin Kembangkan Senjata Nuklir
Infografis
Skuad Timnas Spanyol...
Skuad Timnas Spanyol di Piala Dunia 2026, Tak Ada Pemain Real Madrid
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved