Aduh, Lebih dari 200 Pekerja Pemetik Buah Asal Indonesia Terlilit Utang di Inggris
Sabtu, 03 Desember 2022 - 05:30 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Pertahanan Rusia Diperbarui, Tentara Tak Takut Lagi Digempur HIMARS
Ketika dia diberhentikan setelah hanya dua bulan, dia masih berutang 1.700 poundsterling.
Ross Mitchell, direktur pengelola Castleton Fruit Ltd, mengatakan perkebunan tersebut telah mempekerjakan 106 pekerja Indonesia tahun ini, 70 orang di antaranya masih berada di lokasi, bekerja rata-rata kurang dari 42 jam per pekan, dengan gaji kotor mingguan rata-rata sekitar 450 poundsterling, tidak termasuk biaya seperti akomodasi.
Dia mengaku "sangat prihatin" tentang "pembayaran yang diminta oleh agen pihak ketiga" dan perusahaan mengandalkan "agen yang disetujui untuk melakukan uji tuntas untuk memastikan pekerja tidak membayar biaya yang berlebihan."
“Kami berharap badan terkait akan menangani masalah ini,” ujar dia kepada The Guardian.
Investigasi oleh surat kabar tersebut pada Agustus mengungkapkan pekerja Indonesia secara teratur mengambil hutang hingga 5.000 poundsterling untuk bekerja di Inggris selama satu musim petik buah.
“Rekrutmen AG, yang tidak ada di Indonesia, menggunakan Al Zubara Manpower yang berbasis di Jakarta untuk mencari pekerja, yang pada gilirannya menggunakan perantara pihak ketiga yang membebankan biaya tinggi kepada calon pekerja,” ungkap laporan The Guardian.
Ketika dia diberhentikan setelah hanya dua bulan, dia masih berutang 1.700 poundsterling.
Ross Mitchell, direktur pengelola Castleton Fruit Ltd, mengatakan perkebunan tersebut telah mempekerjakan 106 pekerja Indonesia tahun ini, 70 orang di antaranya masih berada di lokasi, bekerja rata-rata kurang dari 42 jam per pekan, dengan gaji kotor mingguan rata-rata sekitar 450 poundsterling, tidak termasuk biaya seperti akomodasi.
Dia mengaku "sangat prihatin" tentang "pembayaran yang diminta oleh agen pihak ketiga" dan perusahaan mengandalkan "agen yang disetujui untuk melakukan uji tuntas untuk memastikan pekerja tidak membayar biaya yang berlebihan."
“Kami berharap badan terkait akan menangani masalah ini,” ujar dia kepada The Guardian.
Investigasi oleh surat kabar tersebut pada Agustus mengungkapkan pekerja Indonesia secara teratur mengambil hutang hingga 5.000 poundsterling untuk bekerja di Inggris selama satu musim petik buah.
“Rekrutmen AG, yang tidak ada di Indonesia, menggunakan Al Zubara Manpower yang berbasis di Jakarta untuk mencari pekerja, yang pada gilirannya menggunakan perantara pihak ketiga yang membebankan biaya tinggi kepada calon pekerja,” ungkap laporan The Guardian.
Lihat Juga :