Media China: Eropa Akan Gemetar di Bawah Bayang-bayang Perang Nuklir dengan Rusia
Selasa, 04 Oktober 2022 - 07:17 WIB
loading...
A
A
A
Penasihat Keamanan Nasional AS Jake Sullivan sudah menyatakan dalam konferensi pers Gedung Putih pekan lalu bahwa NATO harus menunda pembicaraan untuk mengizinkan Ukraina bergabung dengan aliansi.
Editorial itu muncul di tengah serangkaian komentar oleh sekutu tradisional Rusia seperti India dan Republik Chechnya yang mengungkapkan keraguan atas perang atau prospek penggunaan senjata nuklir dalam konflik tersebut.
Dalam beberapa pekan terakhir, Presiden Rusia Vladimir Putin secara terbuka mengakui bahwa China sendiri telah menyatakan keprihatinannya dengan arah perang karena kedua negara telah berusaha untuk menyelaraskan diri sebagai benteng bagi Barat.
David Shullman, direktur senior Atlantic Council's Global China Hub, mengatakan kepada Newsweek, Selasa (4/10/2022), bahwa editorial Global Times tidak boleh dibaca sebagai kesediaan dari Beijing untuk mengakhiri perang, tetapi lebih merupakan seruan kepada Barat untuk menyerahkan posisi Rusia bahwa AS dan NATO harus disalahkan atas konflik tersebut.
Menurutnya, editorial itu seolah-olah menegaskan bahwa invasi Rusia ke Ukraina adalah sah dengan dalih bahwa Moskow merasa terancam oleh ekspansi NATO.
"Ya, China secara sah ingin perang berakhir, karena tidak memenuhi tujuan strategisnya dan perang jelas tidak berjalan dengan baik bagi Rusia, mitra strategis terpenting Beijing," tulis Shullman dalam email.
Editorial itu muncul di tengah serangkaian komentar oleh sekutu tradisional Rusia seperti India dan Republik Chechnya yang mengungkapkan keraguan atas perang atau prospek penggunaan senjata nuklir dalam konflik tersebut.
Dalam beberapa pekan terakhir, Presiden Rusia Vladimir Putin secara terbuka mengakui bahwa China sendiri telah menyatakan keprihatinannya dengan arah perang karena kedua negara telah berusaha untuk menyelaraskan diri sebagai benteng bagi Barat.
David Shullman, direktur senior Atlantic Council's Global China Hub, mengatakan kepada Newsweek, Selasa (4/10/2022), bahwa editorial Global Times tidak boleh dibaca sebagai kesediaan dari Beijing untuk mengakhiri perang, tetapi lebih merupakan seruan kepada Barat untuk menyerahkan posisi Rusia bahwa AS dan NATO harus disalahkan atas konflik tersebut.
Menurutnya, editorial itu seolah-olah menegaskan bahwa invasi Rusia ke Ukraina adalah sah dengan dalih bahwa Moskow merasa terancam oleh ekspansi NATO.
"Ya, China secara sah ingin perang berakhir, karena tidak memenuhi tujuan strategisnya dan perang jelas tidak berjalan dengan baik bagi Rusia, mitra strategis terpenting Beijing," tulis Shullman dalam email.
Lihat Juga :