Rusia Tuding Sekjen PBB Menyalahgunakan Otoritas

Jum'at, 30 September 2022 - 15:52 WIB
loading...
Rusia Tuding Sekjen...
Sekjen PBB Antonio Guterres dituding telah menyalahgunakan otoritas karena turut mengomentari hasil referendum 4 wilayah Ukraina yang bergabung ke Rusia. Foto/BBC
A A A
NEW YORK - Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBB seharusnya tidak mempengaruhi sikap anggota organisai. Hal itu diungkapkan delegasi Rusia untuk PBB, setelah Antonio Guterres mencap referendum di Donbass, dan Wilayah Kherson serta Zaporozhye atau Zaporozhia ilegal.

Sebelumnya Guterres mengklaim bahwa referendum, di mana orang-orang memilih untuk bergabung dengan Rusia, tidak dapat disebut sebagai ekspresi asli dari kehendak rakyat karena diadakan di daerah-daerah di bawah pendudukan Rusia.

Dia menggambarkan prosedur aksesi Republik Rakyat Donetsk dan Lugansk yang akan datang, dan negara bagian Kherson dan Zaporozhia yang memproklamirkan diri sebagai proses pencaplokan wilayah Ukraina.

"Langkah Moskow tidak dapat didamaikan dengan kerangka hukum internasional karena Piagam PBB dan Deklarasi Hubungan Persahabatan tahun 1970 melarang akuisisi teritorial yang dihasilkan dari ancaman atau penggunaan kekuatan,” kata Sekjen PBB.

Baca: Sekjen PBB: Aneksasi Rusia atas wilayah Ukraina Jadi Eskalasi Berbahaya

Misi Diplomatik Rusia untuk PBB mengatakan bahwa mereka menyesali kata-kata Guterres, yang dengan sendirinya merupakan pelanggaran terhadap Piagam PBB.

Dalam sebuah pernyataan, Misi Diplomatik Rusia mengingatkan, dokumen utama PBB mengidentifikasi sekretaris jenderal sebagai Kepala pejabat administrasi Organisasi.

“Fungsi administratif tidak memberikan sekretaris jenderal hak untuk membuat pernyataan politik atas nama PBB secara keseluruhan – karena itu milik negara-negara anggotanya – apalagi eorang diri menyampaikan interpretasi norma-norma Piagam dan dokumen-dokumen Majelis Umum,” kata Misi Diplomatik Rusia di PBB.

"Piagam PBB juga mengatakan bahwa sekretaris jenderal dan sekretariat harus selalu bertindak dengan cara yang tidak memihak dan menahan diri dari tindakan apa pun, yang mungkin mencerminkan posisi mereka sebagai pejabat internasional yang hanya bertanggung jawab kepada Organisasi,” tambah para diplomat Rusia seperti dilansir dari Russia Today, Jumat (30/9/2022).

Namun ketika menyangkut konflik di Ukraina, bunyi pernyataan itu, Guterres telah secara konsisten menunjukkan pendekatan selektif yang sama dengan negara-negara Barat kolektif, secara harfiah menempatkan dirinya dalam barisan dengan mereka.

"Alih-alih bertindak sesuai dengan tugasnya, sekretaris jenderal memilih untuk berperan penting dalam mempengaruhi posisi negara-negara anggota PBB menjelang inisiasi yang diantisipasi oleh negara-negara Barat dalam diskusi masalah referendum,” misi Rusia bersikeras.

Ukraina dan para pendukungnya seperti Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa telah menyebut referendum itu “palsu,” bersumpah untuk tidak mengakui hasilnya dan berjanji untuk menjatuhkan lebih banyak sanksi kepada Rusia jika menerima wilayah baru.

Baca: Biden: AS Tidak Akan Pernah Mengakui Klaim Rusia di Ukraina

Upacara resmi, di mana Presiden Vladimir Putin diharapkan untuk menandatangani perjanjian tentang penggabungan dua Republik Donbass dan wilayah Kherson dan Zaporozhia ke Rusia, dijadwalkan berlangsung di Moskow pada hari Jumat ini.

Baca: Teken 2 Dekrit, Putin Akui Kemerdekaan Zaporozhye dan Kherson

(ian)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Serangan Rudal Gila-gilaan...
Serangan Rudal Gila-gilaan Rusia Gempur Ibu Kota Ukraina, 27 Orang Tewas
Rusia Balas Dendam!...
Rusia Balas Dendam! Rudal dan Drone Gempur Ukraina, 11 Orang Tewas
Demi Cinta Bertaruh...
Demi Cinta Bertaruh Nyawa, Pasangan Ini Lamaran di Puncak Gedung Empire State 443 Meter
Siapa Vadym Yermolaiev?...
Siapa Vadym Yermolaiev? Taipan Ukraina yang Terluka dalam Ledakan di Monako
Italia Blokir Bantuan...
Italia Blokir Bantuan Militer NATO kepada Ukraina Senilai Rp1.436 Triliun, Sinyal Kemenangan bagi Rusia?
Paksa Rusia Mengakhiri...
Paksa Rusia Mengakhiri Perang, Ukraina Intensifkan Serangan Drone ke Moskow
Pemerintah Rusia Buka...
Pemerintah Rusia Buka Beasiswa S1 hingga S3 untuk Dosen dan Mahasiswa UNEJ
Korban Tewas Gempa Venezuela...
Korban Tewas Gempa Venezuela Hampir Tembus 2.300 Orang, Penyintas Krisis Makanan
Trump Klaim Iran Setujui...
Trump Klaim Iran Setujui Hampir Seluruh Tuntutan AS untuk Berdamai
Rekomendasi
Polisi Ungkap Peran...
Polisi Ungkap Peran 7 Tersangka Kasus Penyekapan Karyawan Percetakan di Senen
BPIP Gelar Penguatan...
BPIP Gelar Penguatan Kebajikan Pancasila, Marinus Gea: Harus Dihidupi, Bukan Sekadar Dihafalkan
Raja Juli Ngaku Diberi...
Raja Juli Ngaku Diberi Amplop oleh Bupati Kuansing, KPK: Jadi Pengayaan Informasi Penyidik
Berita Terkini
Gelombang Panas Terus...
Gelombang Panas Terus Terjadi, Warga Prancis Serbu Supermarket, Berebut Beli AC
Jenazah Anggota Keluarga...
Jenazah Anggota Keluarga Khamenei akan Dimakamkan, Termasuk Cucunya Umur 3 Tahun
Uni Eropa Sembunyikan...
Uni Eropa Sembunyikan 17 File Rahasia Gaza, PBB Sebut Israel Lakukan Genosida
Diplomat AS Ingin Ubah...
Diplomat AS Ingin Ubah Taiwan Jadi Sarang Lebah Drone
Israel Berupaya Provokasi...
Israel Berupaya Provokasi Konflik antara Tentara Lebanon dan Hizbullah
Jenazah Ali Khamenei...
Jenazah Ali Khamenei Tiba di Masjid Agung Mosalla di Teheran
Infografis
3 Alasan Greenland Jadi...
3 Alasan Greenland Jadi Kunci AS untuk Perang Nuklir Melawan Rusia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved