Giorgia Meloni Jadi Wanita Pertama yang Akan Pimpin Italia, Dicap Berbahaya bagi Eropa
Rabu, 28 September 2022 - 00:10 WIB
loading...
A
A
A
“Pidatonya bermain tentang perlunya identitas, pada ketakutan yang sangat manusiawi akan terpinggirkan atau tidak diakui."
“Di tangannya identitas menjadi alat propaganda untuk membagi dunia menjadi "Kami dan Mereka", di mana ‘mereka’ adalah komunitas LGBTQ, migran atau mereka yang tidak melihat diri mereka terwakili dalam struktur mapan atau label yang dipaksakan oleh orang lain.”
Partai Brother of Italy pimpinan Meloni, yang memiliki akar neo-fasis, dilaporkan memenangkan sekitar 26 persen suara dari pemilu, sementara koalisinya yang lebih luas mengamankan mayoritas yang jelas di Parlemen.
Dengan mantan perdana menteri Silvio Berlusconi dan Partai League yang sayap kanan pimpinan Matteo Salvini, mereka sekarang akan mulai membentuk pemerintahan paling sayap kanan sejak Perang Dunia II, sebuah proses yang kemungkinan akan memakan waktu berminggu-minggu.
Keberhasilan Meloni mewakili perubahan seismik di Italia—anggota pendiri Uni Eropa dan ekonomi terbesar ketiga zona Euro—dan untuk Uni Eropa, hanya beberapa minggu setelah kubu sayap kanan tampil kuat dalam pemilu Swedia.
Meloni menggunakan pernyataan publik pertamanya untuk menekankan persatuan, dengan mengatakan dia akan memerintah "untuk semua orang Italia".
Namun wanita berusia 45 tahun, yang partainya tidak pernah mendapat jabatan di pemerintahan, memiliki tantangan besar ke depan, mulai dari inflasi yang melonjak hingga krisis energi yang membayangi dan perang di Ukraina.
Ucapan selamat datang dari sekutu nasionalis Eropa Meloni, dari Perdana Menteri Polandia Mateusz Morawiecki hingga partai sayap kanan Spanyol; Vox.
"Meloni telah menunjukkan jalan bagi negara-negara berdaulat Eropa yang bangga dan bebas," bunyi tweet pemimpin Vox Santiago Abascal.
Namun Menteri Luar Negeri Spanyol Jose Manuel Albares memperingatkan bahwa "gerakan populis selalu tumbuh, tetapi selalu berakhir dengan cara yang sama dalam bencana".
“Di tangannya identitas menjadi alat propaganda untuk membagi dunia menjadi "Kami dan Mereka", di mana ‘mereka’ adalah komunitas LGBTQ, migran atau mereka yang tidak melihat diri mereka terwakili dalam struktur mapan atau label yang dipaksakan oleh orang lain.”
Partai Brother of Italy pimpinan Meloni, yang memiliki akar neo-fasis, dilaporkan memenangkan sekitar 26 persen suara dari pemilu, sementara koalisinya yang lebih luas mengamankan mayoritas yang jelas di Parlemen.
Dengan mantan perdana menteri Silvio Berlusconi dan Partai League yang sayap kanan pimpinan Matteo Salvini, mereka sekarang akan mulai membentuk pemerintahan paling sayap kanan sejak Perang Dunia II, sebuah proses yang kemungkinan akan memakan waktu berminggu-minggu.
Keberhasilan Meloni mewakili perubahan seismik di Italia—anggota pendiri Uni Eropa dan ekonomi terbesar ketiga zona Euro—dan untuk Uni Eropa, hanya beberapa minggu setelah kubu sayap kanan tampil kuat dalam pemilu Swedia.
Meloni menggunakan pernyataan publik pertamanya untuk menekankan persatuan, dengan mengatakan dia akan memerintah "untuk semua orang Italia".
Namun wanita berusia 45 tahun, yang partainya tidak pernah mendapat jabatan di pemerintahan, memiliki tantangan besar ke depan, mulai dari inflasi yang melonjak hingga krisis energi yang membayangi dan perang di Ukraina.
Ucapan selamat datang dari sekutu nasionalis Eropa Meloni, dari Perdana Menteri Polandia Mateusz Morawiecki hingga partai sayap kanan Spanyol; Vox.
"Meloni telah menunjukkan jalan bagi negara-negara berdaulat Eropa yang bangga dan bebas," bunyi tweet pemimpin Vox Santiago Abascal.
Namun Menteri Luar Negeri Spanyol Jose Manuel Albares memperingatkan bahwa "gerakan populis selalu tumbuh, tetapi selalu berakhir dengan cara yang sama dalam bencana".
(min)
Lihat Juga :