Giorgia Meloni Jadi Wanita Pertama yang Akan Pimpin Italia, Dicap Berbahaya bagi Eropa

Rabu, 28 September 2022 - 00:10 WIB
loading...
Giorgia Meloni Jadi Wanita Pertama yang Akan Pimpin Italia, Dicap Berbahaya bagi Eropa
Giorgia Meloni, si pengagum Mussolini akan menjadi wanita pertama yang memimpin Italia setelah partainya menang pemilu. Sosoknya dianggap berbahaya bagi seluruh Eropa. Foto/REUTERS
A A A
ROMA - Giorgia Meloni, pemimpin partai populis Eropa; Brother of Italy, meraih kemenangan dalam pemilu Italia akhir pekan lalu. Dia akan menjadi wanita pertama yang akan memimpin Italia, namun dianggap berbahaya bagi seluruh Eropa.

Anggapan muncul dari media-mediaBarat karena latar belakang pandangannya yang fasis dan radikal. Dia juga dikenal sebagai pengagum Benito Mussolini, diktator fasis Italia yang bernasib tragis.

Meloni percaya pada teori konspirasi liar tentang "great replacement [pengganti hebat]". Dia juga ingin melarang praktik ibu pengganti atau surrogacy.

Implikasi dari kemenangannya tidak akan benar-benar terwujud untuk beberapa waktu, tetapi para kritikus mengatakan itu semua buruk.

Baca juga: Tagihan Energi Menggila, 120.000 Perusahaan Italia Terancam Tutup

The Atlantic menggambarkan kemenangannya sebagai "kembalinya fasisme di Italia". Sedangkan The Guardian menulis "Meloni adalah bahaya bagi Italia dan seluruh Eropa".

Sosok Meloni mengingatkan kembali pada Benito Mussolini yang pernah menyatakan pada puncak Partai Fasis Nasional pada tahun 1927: “Seluruh ras kulit putih, ras Barat, dapat ditenggelamkan oleh ras kulit berwarna lain yang berkembang biak dengan ritme yang tidak kita ketahui.”

Di Italia, yang paling dekat untuk menggemakan pernyataan itu adalah pada tahun 2017 ketika Meloni menggunakan frasa “substitusi etnis”.

“Apa yang telah kita lihat di Italia—500.000 imigran dalam tiga tahun—di sini juga merupakan invasi yang direncanakan dan disengaja,” katanya saat itu.

“Alasan mereka mendatangkan (imigran) adalah untuk memiliki tenaga kerja murah untuk modal besar...Ini disebut substitusi etnis, dan kami tidak akan mengizinkannya.”

Dia telah men-tweet pemikirannya tentang hal itu pada banyak kesempatan sejak 2017.
Halaman :
Komentar
Copyright © 2022 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.2243 seconds (10.101#12.26)