Indonesia Patut Waspadai Pangkalan AL China di Kamboja
Selasa, 13 September 2022 - 17:02 WIB
loading...
A
A
A
“China telah berusaha untuk memperkuat kekuatan militer Kamboja untuk pendekatan perimbangan lepas pantai guna mengantisipasi kemungkinan perang proksi,” kata Rimbo Bugis kepada wartawan, Senin (12/9/2022).
“Hal ini kemungkinan besar dilakukan China untuk menghindari pengerahan secara langsung atau melibatkan Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) atau Angkatan Lautnya (PLAN) ke Kamboja,” lanjut Rimbo.
Pendirian pangkalan angkatan laut China di Kamboja, tentunya menimbulkan risiko keamanan yang besar bagi negara-negara di Asia Tenggara.
Apalagi dalam modernisasi dan perluasan Pangkalan Angkatan Laut Ream, dapat memungkinkan Angkatan Laut Kerajaan Kamboja (RCN) mengoperasikan kapal pengangkut rudal anti-kapal dan pertahanan udara seperti kapal rudal Tipe 22 (kelas Houbei) China, korvet Tipe 056, dan Tipe 054A frigat, jauh berbeda dengan kemampuan RCN sebelumnya yang hanya memiliki kemampuan mengoperasikan kapal patroli tanpa rudal anti kapal.
Bersamaan dengan pangkalan angkatan laut, China terus menggencarkan proyek pembangunan infrastruktur skala besar yang dilakukan di Kamboja.
Misalnya proyek Bandara Internasional Dara Sakor (landasan 3.900 meter) oleh Union Development Group China, dan pelabuhan laut sedalam 15 meter di Kampot, dimana pelabuhan tersebut akan memungkinkan kapal induk China serta kapal serbu amfibi Tipe 075, kapal pendarat tipe 072A dan kapal suplai armada China untuk berlayar.
“Di antara kepentingan jangka panjang China adalah mempromosikan konsep Jalan Sutra Maritim untuk mengamankan akses ke Teluk Thailand, dan memproyeksikan kekuatannya ke Samudra Hindia melalui Tanah Genting Kula,” jelas Rimbo.
Baca: China Sangkal Bangun Pangkalan Militer di Kamboja
“Hal ini kemungkinan besar dilakukan China untuk menghindari pengerahan secara langsung atau melibatkan Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) atau Angkatan Lautnya (PLAN) ke Kamboja,” lanjut Rimbo.
Pendirian pangkalan angkatan laut China di Kamboja, tentunya menimbulkan risiko keamanan yang besar bagi negara-negara di Asia Tenggara.
Apalagi dalam modernisasi dan perluasan Pangkalan Angkatan Laut Ream, dapat memungkinkan Angkatan Laut Kerajaan Kamboja (RCN) mengoperasikan kapal pengangkut rudal anti-kapal dan pertahanan udara seperti kapal rudal Tipe 22 (kelas Houbei) China, korvet Tipe 056, dan Tipe 054A frigat, jauh berbeda dengan kemampuan RCN sebelumnya yang hanya memiliki kemampuan mengoperasikan kapal patroli tanpa rudal anti kapal.
Bersamaan dengan pangkalan angkatan laut, China terus menggencarkan proyek pembangunan infrastruktur skala besar yang dilakukan di Kamboja.
Misalnya proyek Bandara Internasional Dara Sakor (landasan 3.900 meter) oleh Union Development Group China, dan pelabuhan laut sedalam 15 meter di Kampot, dimana pelabuhan tersebut akan memungkinkan kapal induk China serta kapal serbu amfibi Tipe 075, kapal pendarat tipe 072A dan kapal suplai armada China untuk berlayar.
“Di antara kepentingan jangka panjang China adalah mempromosikan konsep Jalan Sutra Maritim untuk mengamankan akses ke Teluk Thailand, dan memproyeksikan kekuatannya ke Samudra Hindia melalui Tanah Genting Kula,” jelas Rimbo.
Baca: China Sangkal Bangun Pangkalan Militer di Kamboja
Lihat Juga :