Dari Nixon hingga Trump: Presiden AS yang Diselidiki oleh FBI

Jum'at, 12 Agustus 2022 - 05:34 WIB
loading...
Dari Nixon hingga Trump:...
Dari Nixon hingga Trump: Presiden AS yang diselidiki oleh FBI. Foto/CJ US Jobs
A A A
JAKARTA - Mantan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada hari Senin mengecam "serangan mendadak" terhadap tanah miliknya di Mar-a-Lago di Florida oleh sejumlah agen FBI . Ia menyebutnya sebagai "pelanggaran penuntutan" dan "persenjataan Sistem Peradilan."

“Hal seperti ini belum pernah terjadi pada seorang Presiden Amerika Serikat sebelumnya,” kata mantan presiden itu dalam sebuah pernyataan.

“Apa perbedaan antara ini dan Watergate, di mana para agen masuk ke Komite Nasional Demokrat? Di sini, sebaliknya, Demokrat masuk ke rumah Presiden Amerika Serikat ke-45,” tambahnya, mengacu pada perampokan ilegal tahun 1972, bukan penggeledahan resmi yang disetujui oleh penegak hukum dan otoritas kehakiman.

Meskipun ini adalah pertama kalinya dalam sejarah FBI menggerebek rumah mantan presiden AS, Trump bukanlah presiden AS pertama (mantan atau menjabat) yang diselidiki oleh FBI.

Berikut adalah presiden AS lainnya yang menghadapi penyelidikan FBI, tetapi semua saat mereka masih menjabat, bukan warga negara biasa, seperti dikutip dari Anadolu, Jumat (12/8/2022).

Baca juga: Trump Ungkap Kemungkinan Trik Kotor FBI dalam Penggeledahan Kediamannya

1. Richard Nixon

Dengan pidato pengunduran diri pada 8 Agustus 1974, Richard Nixon, presiden AS ke-37, mengundurkan diri untuk menghindari pemakzulan akibat skandal Watergate.

Watergate sering disebut sebagai salah satu skandal politik terbesar dalam sejarah AS.

Skandal itu pecah pada 17 Juni 1972, ketika polisi menangkap lima pria yang membobol kantor Komite Nasional Demokrat di kompleks Watergate di Washington, sebuah insiden yang digambarkan oleh Sekretaris Pers Nixon Ron Ziegler sebagai "upaya perampokan tingkat ketiga."

The Washington Post melaporkan pada bulan Agustus bahwa cek sebesar USD25.000 yang dialokasikan untuk kampanye Nixon tahun 1972 masuk ke rekening bank salah satu pria yang ditangkap karena pembobolan.

Setelah beberapa bulan, laporan dan investigasi menunjukkan keterlibatan Gedung Putih dalam pembobolan tersebut.

Baca juga: FBI Gerebek Rumah Trump, Gedung Putih: Biden Tidak Tahu

Pada 10 Oktober 1972, wartawan Washington Post mengungkapkan bahwa agen FBI telah menemukan hubungan antara pembantu Nixon dan pembobolan Watergate. Terungkap juga bahwa sistem perekaman dipasang di Oval Office, termasuk percakapan Nixon dengan pejabat Gedung Putih.

Pengadilan pembobolan Watergate telah dimulai pada 8 Januari 1973, dan proses pemakzulan terhadap Nixon dimulai di Komite Kehakiman DPR pada 9 Mei 1974.

Menghadapi risiko pemakzulan, Nixon membuat pidato pengunduran diri, menjadi satu-satunya presiden AS yang mengundurkan diri dari jabatannya.

2. Ronald Reagan

Pemerintahan Ronald Reagan, presiden AS ke-40, yang menjabat antara 1981-1989, menghadapi penyelidikan atas skandal Iran-Contra yang melibatkan penjualan senjata rahasia AS ke Iran dengan imbalan pembebasan warga Amerika yang disandera di Lebanon oleh Hizbullah.

Pemerintahan Reagan dilaporkan menggunakan uang dari penjualan itu untuk membantu pemberontak yang mencoba menggulingkan pemerintah Nikaragua, yang dibantah oleh Reagan.

Baca juga: Partai Republik Bersumpah Selidiki Penggerebekan Rumah Trump oleh FBI

Penjualan senjata ke Iran mendapat kritik pada saat Iran menjadi sasaran embargo senjata dan merupakan paria bagi pemerintah AS, sebagian besar karena penyerbuan Kedutaan Besar AS di Teheran tahun 1979 dan selanjutnya penyanderaan 52 orang Amerika.

Beberapa pejabat Gedung Putih, termasuk anggota Dewan Keamanan Nasional Kolonel Oliver North, dihukum atas penyelidikan tersebut, tetapi tidak ada bukti yang ditemukan tentang keterlibatan Reagan.

3. Bill Clinton

Bill Clinton , presiden AS ke-42, dan istrinya (dan calon menteri luar negeri serta calon presiden) Hillary Clinton, diselidiki atas skandal Whitewater atas investasi real estat mereka di negara bagian Arkansas AS selatan sebelum keduanya mencapai Gedung Putih pada tahun 1993.

Whitewater Development Corporation adalah usaha bisnis yang gagal dari pasangan Clinton bersama dengan dua mitra bisnisnya, Jim dan Susan McDougal.

Keluarga Clinton dituduh menekan seorang bankir Arkansas untuk memberikan McDougal pinjaman ilegal, dan juga membuat "dana penipuan" untuk digunakan dalam kampanye gubernur Clinton.

Baca juga: Protes Penggerebekan FBI, Pendukung Berkumpul di Luar Kediaman Trump

Beberapa penyelidikan oleh badan-badan AS, Kongres, dan jaksa khusus diluncurkan mengenai tuduhan tersebut. Namun, keluarga Clinton dibebaskan dari kesalahan apa pun.

Bill Clinton juga menghadapi kasus pelecehan seksual terhadap pegawai magang Gedung Putih Monica Lewinsky, yang dibawa oleh mantan pegawai negara bagian Arkansas Paula Jones pada tahun 1994. Clinton membantah tuduhan itu tetapi dimakzulkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat AS karena berbohong di bawah sumpah.

Pada Februari 1999, Senat membebaskan Clinton dari kedua pasal pemakzulan, setelah itu ia menjalani sisa masa jabatan keduanya.

4. George W. Bush

George W. Bush, presiden AS ke-43, menjabat pada 2001-2009, dan beberapa anggota pemerintahannya menghadapi tuduhan membocorkan identitas agen CIA Valerie Plame kepada jurnalis Robert Nova.

Plame dan suaminya menuduh Bush melebih-lebihkan bukti untuk membenarkan perang di Irak, klaim yang terbukti seiring berjalannya waktu.

Baca juga: Gerebek Rumah Donald Trump, FBI Angkut 15 Kotak Termasuk Dokumen Rahasia

Beberapa pejabat dari pemerintahan Bush menghadapi penyelidikan yang berlangsung selama 22 bulan

Lewis "Scooter" Libby, mantan kepala staf Wakil Presiden Dick Cheney, dihukum karena berbohong kepada agen federal. Namun tidak ada bukti yang ditemukan tentang keterlibatan Bush dalam permasalahan Plame.

(ian)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Rugi Besar Akibat Kalah...
Rugi Besar Akibat Kalah Perang, Trump Minta Tambahan Dana Rp1.572 Triliun
Demi Lindungi Negara-negara...
Demi Lindungi Negara-negara Arab, AS Janjikan Perdamaian Abadi dengan Iran
Badan Intelijen AS Kehilangan...
Badan Intelijen AS Kehilangan Akses ke Alat AI Mythos 5, Apa Pemicunya?
LineShine Jadi Superkomputer...
LineShine Jadi Superkomputer Tercepat di Dunia, China Mampu Kalahkan AS
Pengaruh Wali Kota Muslim...
Pengaruh Wali Kota Muslim New York Ini Makin Kuat, Siapa yang Didukungnya Menang!
Pilot F-15 AS: Serangan...
Pilot F-15 AS: Serangan Drone Iran Membentuk Formasi Ubur-ubur
Harga Bensin di AS Tetap...
Harga Bensin di AS Tetap Mahal meski Minyak Dunia Rontok, Trump Semprot Raksasa Energi
PM Inggris Keir Starmer...
PM Inggris Keir Starmer Umumkan Pengunduran Diri
50 Senator AS Dukung...
50 Senator AS Dukung Resolusi Anti-Perang Iran, Trump Kehilangan Dukungan
Rekomendasi
Rossa Umumkan Asuh Anak...
Rossa Umumkan Asuh Anak Perempuan, Warganet Ikut Terharu
Sekolah Garda Terdepan...
Sekolah Garda Terdepan Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Belajar
Sering Dibully karena...
Sering Dibully karena Kondisi Fisiknya, Debi Ceper Mengaku Tak Pernah Sakit Hati
Berita Terkini
Mengapa Negara-negara...
Mengapa Negara-negara Arab Khawatir Kesepakatan Iran Jadi Titik Balik yang Membawa Bencana?
Ketika Paris Lebih Panas...
Ketika Paris Lebih Panas dari Makkah, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Rugi Besar Akibat Kalah...
Rugi Besar Akibat Kalah Perang, Trump Minta Tambahan Dana Rp1.572 Triliun
Demi Lindungi Negara-negara...
Demi Lindungi Negara-negara Arab, AS Janjikan Perdamaian Abadi dengan Iran
Seluruh WNI di Venezuela...
Seluruh WNI di Venezuela Aman, Gedung KBRI di Caracas Tidak Rusak
Badan Intelijen AS Kehilangan...
Badan Intelijen AS Kehilangan Akses ke Alat AI Mythos 5, Apa Pemicunya?
Infografis
4 Pemicu PM Inggris...
4 Pemicu PM Inggris Mundur, dari Pemberontakan Internal hingga Terlalu Banyak Janji
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved