Politisi Austria Desak Uni Eropa Jatuhkan Sanksi Tegas Oligarki Ukraina

Rabu, 27 Juli 2022 - 07:57 WIB
loading...
Politisi Austria Desak...
Anggota parlemen Austria Martin Graf. Foto/DerStandard
A A A
WINA - Anggota parlemen Austria Martin Graf meminta Uni Eropa (UE) menjatuhkan sanksi pada oligarki Ukraina.

Dia mengklaim oligarki Ukraina sebagai penyebab sebenarnya di balik konflik militer antara Kiev dan Moskow. Martin Graf menggambarkan kebijakan UE saat ini di Ukraina sangat cacat.

“Saya menuntut agar otoritas UE menjatuhkan sanksi pada oligarki Ukraina: sita kapal pesiar, aset, dan properti mereka dan gunakan dana ini untuk membantu pengungsi Ukraina dan untuk mengimbangi kerugian yang diderita warga UE karena sanksi (terhadap Rusia),” tulisnya dalam posting panjang di Facebook pada Senin (25/7/2022), yang menampilkan kutipan dari wawancara baru-baru ini.

Baca juga: Ukraina Minta Gas Alam Gratis dari AS, Termasuk Senjata dan Amunisi

Graf yang mewakili Partai Kebebasan Austria (FPO) sayap kanan, mengklaim oligarki telah "menyedot Ukraina hingga kering" dan "secara konsisten mendanai" perubahan rezim di Kiev dengan sedikit memperhatikan konsekuensi gejolak politik pada ekonomi negara dan masyarakat.

Dia mengatakan orang-orang yang sama, yang telah "membeli" hak untuk melakukan apa yang mereka inginkan, sekarang mendanai nasionalis Ukraina dan kelompok bersenjata ilegal.

Anggota parlemen itu menambahkan, “Oligarki telah kehilangan kontak dengan kenyataan dan memimpin Ukraina ke dalam perang."

Baca juga: Semangat Militer Ukraina Merosot, Persatuan Memudar

Graf mengatakan dia mendukung sanksi Uni Eropa terhadap oligarki Rusia tetapi bertanya-tanya mengapa Brussel tidak melakukan langkah serupa terhadap taipan Ukraina, terutama karena rakyat Ukraina dan orang-orang Eropa yang membayar harga untuk apa yang telah dilakukan orang-orang ini.

"Orang-orang ini harus dihukum atas semua yang telah mereka lakukan terhadap Ukraina dan seluruh dunia sekarang," ujar Graf.

Anggota parlemen itu juga menuduh UE diduga memaafkan tindakan oligarki Ukraina dengan membiarkan mereka "menikmati hidup mereka di Eropa."

“Jika tidak ada sanksi terhadap oligarki Ukraina, ini akan menjadi bukti korupsi di jajaran tertinggi UE,” klaim anggota parlemen Austria itu.

Graf menjabat sebagai presiden ketiga Dewan Nasional, majelis rendah parlemen Austria, antara 2008 dan 2013.

Namun, dia tidak asing dengan kontroversi dan dituduh memiliki hubungan dengan ekstremis sayap kanan dan bahkan kekebalan parlementernya dicabut kembali pada 2009 atas tuduhan penggelapan. Dia tidak pernah didakwa, dan penyelidikan dihentikan.

Partai FPO-nya juga menghadapi pengawasan atas dugaan hubungannya dengan Rusia pada 2019.

Partai itu menandatangani perjanjian kerja sama dengan Rusia Bersatu, partai besar Rusia, yang dianggap secara tradisional mendukung kebijakan Presiden Vladimir Putin.

Rusia mengirim pasukan ke Ukraina pada 24 Februari, dengan alasan kegagalan Kiev mengimplementasikan perjanjian Minsk, yang dirancang memberi wilayah Donetsk dan Lugansk status khusus di dalam negara Ukraina.

Protokol, yang ditengahi Jerman dan Prancis, pertama kali ditandatangani pada 2014.

Mantan presiden Ukraina Pyotr Poroshenko sejak itu mengakui tujuan utama Kiev adalah menggunakan gencatan senjata untuk mengulur waktu dan “menciptakan angkatan bersenjata yang kuat.”

Pada Februari 2022, Kremlin mengakui republik Donbass sebagai negara merdeka dan menuntut agar Ukraina secara resmi menyatakan dirinya sebagai negara netral yang tidak akan pernah bergabung dengan blok militer Barat mana pun. Kiev menegaskan serangan Rusia benar-benar tidak beralasan.

(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Tiru Strategi Iran,...
Tiru Strategi Iran, Ukraina Tembakkan 323 Drone ke Wilayah Rusia pada Malam Hari
Putin: Negara-negara...
Putin: Negara-negara Barat Secara Terbuka Mengatakan Mereka Bersiap Perangi Rusia
Tegang dengan NATO,...
Tegang dengan NATO, Pesawat Pengebom Nuklir Rusia Berkeliaran di Arktik
Rusia Tembak Jatuh 80...
Rusia Tembak Jatuh 80 Drone Ukraina, Kremlin Luncurkan Rudal Balistik Iskander
Gelar Serangan Balasan,...
Gelar Serangan Balasan, Rusia Hancurkan Fasilitas Energi di Seluruh Ukraina
Zelensky Ancam Serang...
Zelensky Ancam Serang Belarusia, Perang Rusia-Ukraina Bisa Meluas
Perang Rusia-Ukraina...
Perang Rusia-Ukraina Memicu Perlombaan Senjata AI
Gempa Dahsyat Venezuela:...
Gempa Dahsyat Venezuela: 3 Tewas Tertimpa Reruntuhan, Pemerintah Tetapkan Status Darurat
Iran Peringatkan Kapal-Kapal:...
Iran Peringatkan Kapal-Kapal: Selat Hormuz Masih Berbahaya!
Rekomendasi
Pengadilan Negeri Jakarta...
Pengadilan Negeri Jakarta Timur Larang Siaran Langsung Sidang Dokter Tifa terkait Ijazah Jokowi
Prabowo Singgung Pihak...
Prabowo Singgung Pihak Bikin Gaduh usai Pemilu: Kapan Kita Mau Menuju Kesejahteraan untuk Rakyat?
Mensesneg Ungkap Pemicu...
Mensesneg Ungkap Pemicu Maraknya PHK di Indonesia
Berita Terkini
Lebanon dan Israel Tandatangani...
Lebanon dan Israel Tandatangani Kesepakatan Kerangka Kerja untuk Akhiri Perang
India Tuntut Pertanggungjawaban...
India Tuntut Pertanggungjawaban atas Para Pelaku Pemboman Sekolah
AS Kembali Serang Iran,...
AS Kembali Serang Iran, IRGC Balas Gempur Pasukan Amerika
Dunia Bantu Upaya Penyelamatan,...
Dunia Bantu Upaya Penyelamatan, Korban Tewas Gempa Venezuela Capai 589 Orang
Israel Melarang Seruan...
Israel Melarang Seruan Azan di Masjid Ibrahimi Hebron, Sudah Hari Kelima
Hizbullah Sergap Unit...
Hizbullah Sergap Unit Israel di Beit Yahoun, 4 Tentara Zionis Terluka
Infografis
Empat Indikator Uni...
Empat Indikator Uni Eropa Bersiap untuk Perang Besar
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved