Profil Aidh Al-Qarni, Ulama Arab Saudi yang Pernah Jadi Korban Penyerangan di Filipina
Senin, 25 Juli 2022 - 14:21 WIB
loading...
A
A
A
Pada riwayat pendidikannya, al-Qarni pernah menimba ilmu di Madrasah Ibtidaiyah Ali Salman. Setelahnya, dia lanjut ke Ma’had Ilmi semenjak di bangku SMP. Dia menamatkan gelar sarjana (Lc), Magister (M.A), dan doktor di Universitas Islam Imam Muhammad bin Su’ud, Riyadh, Arab Saudi.
Saat berusia 23 tahun, dia telah hafal Al-Qur’an dan Kitab Bulughul Maram. Selain itu, dia juga mengajarkan sekitar 5.000-an Hadits dan 10.000-an bait syair. Sekitar 1.000-an judul kaset berisikan ceramah, kuliah, serta kumpulan syair dan puisinya telah dipublikasikan.
Selain memberikan ceramah seputar agama, al-Qarni juga menulis berbagai buku. Salah satu karyanya yang cukup terkenal adalah buku berjudul La Tahzan.
Dalam riwayat hidupnya, ulama Arab Saudi ini pernah masuk penjara. Menurutnya, dirinya berada di balik jeruji besi karena telah menulis 50 bait qasidah (puisi) yang dianggap memiliki unsur atau pengaruh politik yang berlawanan dengan pemerintah.
Sekitar tahun 2016, al-Qarni menjadi korban serangan bersenjata saat berada di Filipina.
Peristiwa tersebut terjadi setelah dia meninggalkan auditorium Universitas di Kota Zamboanga, Filipina. Sebelumnya, dia telah memberikan sebuah pidato di tempat tersebut.
Saat berusia 23 tahun, dia telah hafal Al-Qur’an dan Kitab Bulughul Maram. Selain itu, dia juga mengajarkan sekitar 5.000-an Hadits dan 10.000-an bait syair. Sekitar 1.000-an judul kaset berisikan ceramah, kuliah, serta kumpulan syair dan puisinya telah dipublikasikan.
Selain memberikan ceramah seputar agama, al-Qarni juga menulis berbagai buku. Salah satu karyanya yang cukup terkenal adalah buku berjudul La Tahzan.
Dalam riwayat hidupnya, ulama Arab Saudi ini pernah masuk penjara. Menurutnya, dirinya berada di balik jeruji besi karena telah menulis 50 bait qasidah (puisi) yang dianggap memiliki unsur atau pengaruh politik yang berlawanan dengan pemerintah.
Sekitar tahun 2016, al-Qarni menjadi korban serangan bersenjata saat berada di Filipina.
Peristiwa tersebut terjadi setelah dia meninggalkan auditorium Universitas di Kota Zamboanga, Filipina. Sebelumnya, dia telah memberikan sebuah pidato di tempat tersebut.
Lihat Juga :