Anjurkan Setop Kirim Senjata, Dubes Ukraina Hina Para Intelektual Jerman

Jum'at, 01 Juli 2022 - 16:35 WIB
loading...
Anjurkan Setop Kirim...
Duta Besar Ukraina untuk Jerman Andrey Melnik. Foto/twitter/MelnykAndrij
A A A
BERLIN - Duta Besar (Dubes) Ukraina untuk Jerman Andrey Melnik menghina sekelompok intelektual Jerman yang menulis surat terbuka yang menganjurkan diakhirinya pengiriman senjata ke Ukraina.

Para penandatangan surat terbuka itu meminta Barat membuat rezim Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky merundingkan perdamaian.



Mengomentari desakan para intelektual itu, Andrey Melnik mentweet, "Tidak lagi," pada Kamis (30/6/2022).

Dia menambahkan dalam bahasa Inggris, "Betapa sekelompok pecundang pseudo-intelektual (sic)."

Merujuk pada beberapa penandatangan dengan nama belakang mereka, Melnik menyarankan mereka, “Harus pergi ke neraka dengan nasihat kekalahan (mereka).”

Surat terbuka, yang membuat marah Dubes Ukraina itu, diterbitkan di surat kabar Jerman Die Zeit pada Rabu, berjudul “Gencatan Senjata sekarang!”

Baca juga: Daerah di Palestina yang Belum Dikuasai Israel

Di dalamnya, sekelompok 21 akademisi, filsuf, jurnalis, seniman, dan mantan diplomat Jerman mendesak, "Barat untuk mengakhiri perang Ukraina melalui negosiasi."

Menurut para penandatangan, “Adalah tugas Uni Eropa (UE) untuk memulihkan dan mengamankan perdamaian di benua itu.”

“Untuk tujuan ini, negara-negara harus membuat strategi, yang akan mengakhiri permusuhan sesegera mungkin,” saran seruan para intelektual Jerman itu.

Baca juga: Agama Warga Negara Turki dan Persentasenya

“Ukraina sejauh ini mampu mempertahankan diri dari perang agresif Rusia yang brutal berkat, antara lain, sanksi besar-besaran dan dukungan militer,” ujar mereka.

“Namun, semakin lama langkah-langkah ini berlangsung, semakin tidak jelas permainan akhir mereka,” tambah para intelektual.

Di mata para intelektual ini, sangat tidak mungkin Ukraina akan dapat memperoleh kembali kendali atas, “Semua wilayah yang diduduki termasuk wilayah Donetsk dan Lugansk serta Krimea, karena Rusia lebih unggul secara militer dan memiliki kemampuan meningkatkan eskalasi militer lebih lanjut.”

Mengingat pertimbangan ini, surat itu mendesak negara-negara Barat yang mendukung Ukraina secara militer untuk bertanya pada diri mereka sendiri, “Tujuan apa yang mereka kejar dan apakah (dan untuk berapa lama) pengiriman senjata masih merupakan cara yang benar.”

Para penandatangan melanjutkan memperingatkan, “Kelanjutan dari konflik bersenjata akan berarti ribuan kematian lagi, serta keadaan darurat kemanusiaan, ekonomi dan ekologi besar-besaran di seluruh dunia.”

Surat itu mengacu pada kekurangan pangan di Afrika dan kenaikan harga lebih jauh sebagai bukti lebih lanjut dari poin ini.

Para penulis menjelaskan, “Barat harus bersatu dalam penentangannya terhadap agresi Rusia di Ukraina dan aspirasi pembangkangan lebih lanjut.”

“Namun, kelanjutan perang di Ukraina bukanlah solusi,” tegas para intelektual Jerman.

Ini bukan pertama kalinya tokoh masyarakat Jerman menulis surat publik yang menyerukan diakhirinya pengiriman senjata Barat ke Kiev.

Banyak pengamat lain menyatakan, semakin banyak senjata Barat yang dikirim ke Kiev, perang di Ukraina akan semakin panjang dan dampaknya dirasakan semua negara di dunia.

(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Penampakan Mengerikan...
Penampakan Mengerikan 'Hujan Minyak Hitam' di Langit Moskow akibat Serangan Terbesar Ukraina
Serangan Drone Terbesar...
Serangan Drone Terbesar Ukraina Membakar Kilang Minyak Moskow, Rusia Janji Balas Dendam
Finlandia Buka Pintu...
Finlandia Buka Pintu Jadi Markas Bom Nuklir NATO, Rusia Bisa Marah
G7 Kini Fokus Memusuhi...
G7 Kini Fokus Memusuhi Rusia, Trump: Ini Perang yang Mudah Diselesaikan
Inggris, Prancis, Jerman,...
Inggris, Prancis, Jerman, dan Italia Siap Cabut Sanksi Teheran setelah Kesepakatan Damai AS-Iran
Inggris Akan Pasok Uranium...
Inggris Akan Pasok Uranium ke Ukraina dan Jatuhkan Sanksi Baru terhadap Rusia
Perang Rusia-Ukraina...
Perang Rusia-Ukraina Memicu Perlombaan Senjata AI
CDC: Wabah Ebola di...
CDC: Wabah Ebola di RD Kongo Bisa Menjadi yang Terburuk dalam Sejarah
Arkeolog Arab Saudi...
Arkeolog Arab Saudi Temukan Prasasti Bertulis Khalifah Umar bin Khattab
Rekomendasi
Bidik Penguatan Basis...
Bidik Penguatan Basis Distrik, Wakil Bupati Yan Kiraklak Resmi Pimpin DPD Partai Perindo Yalimo
Harga Minyak Dunia Sudah...
Harga Minyak Dunia Sudah Turun, PDIP Minta Pemerintah Evaluasi Harga Pertamax
Miss Indonesia 2026...
Miss Indonesia 2026 Cari 38 Finalis Terbaik, Audisi Terakhir Digelar di Jakarta
Berita Terkini
Israel Terus Serang...
Israel Terus Serang Lebanon, Utusan AS Kirim Negosiator ke Jenewa
3 Penyebab Batalnya...
3 Penyebab Batalnya Penandatanganan Perjanjian Damai AS dan Iran
Wapres Vance Batalkan...
Wapres Vance Batalkan Kunjungan ke Jenewa, Swiss: Perundingan AS-Iran Ditunda
Demo Anti-Pemerintah...
Demo Anti-Pemerintah Digelar selama 50 Hari, Bolivia Deklarasikan Status Darurat
Tanpa Bantuan AS, Trump:...
Tanpa Bantuan AS, Trump: Israel Akan Hancur
PM Meloni Kecam Trump...
PM Meloni Kecam Trump soal Minta Foto: Italia Tidak Pernah Mengemis
Infografis
3 Senjata Canggih Iran...
3 Senjata Canggih Iran yang Ciptakan Mimpi Buruk bagi AS dan Israel
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved