Israel Hendak Caplok Tepi Barat: Dunia Menentang, AS Beri Lampu Hijau

Kamis, 25 Juni 2020 - 03:32 WIB
loading...
Israel Hendak Caplok...
Seorang anak kecil membawa bendera Palestina di wilayah Nablus, Tepi Barat. Wilayah itu akan dianeksasi oleh Israel. Foto/REUTERS/Mohamad Torokman
A A A
NEW YORK - Komunitas internasional termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Eropa dan dunia Arab menentang rencana Israel mencaplok tanah Palestina di Tepi Barat. Sebaliknya, Amerika Serikat (AS) memberi lampu hijau persetujuan.

PBB, Eropa dan dunia Arab memperingatkan Israel akan menghancurkan perdamaian jika nekat menjalankan rencana aneksasi wilayah Palestina tersebut.

Satu minggu sebelum Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu diperkirakan akan memulai proses aneksasi, sebuah sesi Dewan Keamanan PBB memberikan kesempatan terakhir bagi komunitas internasional untuk mendesaknya untuk mengubah arah.

"Saya meminta pemerintah Israel untuk membatalkan rencana pencaplokannya," kata Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres dalam konferensi virtual, seperti dikutip AFP, Kamis (25/6/2020).

Koordinator PBB untuk Timur Tengah, Nickolay Mladenov, mengatakan pencaplokan itu dapat mengubah sifat hubungan Israel-Palestina. (Baca: Israel Siap Caplok Lembah Jordan, Orang Palestina Tak Diberi Kewarganegaraan )

"Ini berisiko meningkatkan upaya internasional lebih dari seperempat abad dalam mendukung negara masa depan Palestina yang hidup dalam perdamaian, keamanan dan saling (memberikan) pengakuan dengan Negara Israel," katanya.

Tujuh negara Eropa—Belgia, Inggris, Estonia, Prancis, Jerman, Irlandia dan Norwegia—dalam sebuah pernyataan bersama memperingatkan bahwa aneksasi akan sangat merusak prospek untuk melanjutkan kembali proses perdamaian Timur Tengah.

"Di bawah hukum internasional, pencaplokan akan memiliki konsekuensi bagi hubungan dekat kami dengan Israel dan tidak akan diakui oleh kami," bunyi pernyataan tersebut.

Sekretaris Jenderal Liga Arab Ahmed Aboul Gheit mengatakan pencaplokan tanah Palestina oleh Israel akan menghancurkan prospek perdamaian di masa depan dan mengancam stabilitas regional.

AS Bela Netanyahu

Tetapi pemerintahan Presiden Donald Trump, sekutu dekat Netanyahu, telah menolak untuk mengkritik aneksasi dan telah menolak konsensus dari sebagian besar dunia bahwa permukiman Israel di tanah Palestina adalah ilegal.

"Keputusan tentang Israel yang memperluas kedaulatan ke tempat-tempat itu adalah keputusan yang harus dibuat oleh orang Israel," kata Menteri Luar Negeri AS Michael Pompeo kepada wartawan di Washington.

Trump pada bulan Januari meluncurkan proposal perdamaian Timur Tengah yang akan membuka jalan bagi Israel untuk mencaplok wilayah-wilayah di sekitar pemukiman Yahudi dan Lembah Yordan yang direbutnya dalam Perang Enam Hari 1967.

Palestina, dalam proposal itu, akan memiliki negara merdeka tetapi negara yang didemiliterisasi dengan ibu kota di pinggiran Yerusalem yang diperebutkan.

Rencana itu juga menyerukan investasi ekonomi besar ke daerah-daerah Palestina, yang sebagian besar didanai oleh negara-negara Teluk Arab yang menemukan alasan bersama dengan Netanyahu dan Trump dalam permusuhannya terhadap Iran.

Namun sekutu AS, termasuk Uni Emirat Arab dan Yordania, satu dari dua negara Arab yang memiliki perjanjian damai dengan Israel, telah memperingatkan bahwa aneksasi akan membahayakan harapan negara Yahudi itu untuk memiliki hubungan yang lebih baik.

Pompeo mengesampingkan kekhawatiran seperti itu, dengan mengatakan bahwa Amerika Serikat berbicara dengan semua negara di kawasan itu tentang minggu-minggu mendatang.

"Saya hanya menyesal bahwa Otoritas Palestina telah menolak untuk berpartisipasi dalam itu," kata Pompeo. (Baca juga: Ribuan Anggota Parlemen Negara Eropa Desak Israel Batalkan Rencana Aneksasi Tepi Barat )

Palestina Desak Aksi

Di PBB, perwakilan Palestina Riyad al-Malki mengatakan pencaplokan wilayah oleh Israel akan menjadi kejahatan.

"Israel tampaknya bertekad untuk mengabaikan tanda berhenti merah besar yang komunitas internasional dirikan untuk menyelamatkan nyawa," katanya.

Dia memperingatkan bahwa orang-orang Palestina dapat mendekati Mahkamah Internasional dan mendesak negara-negara di dunia untuk menjatuhkan sanksi kepada Israel jika aneksasi nekat dilakukan.

Duta Besar Israel untuk PBB Danny Danon mengkritik Palestina, dengan mengatakan kebuntuan itu karena penolakan mereka untuk bernegosiasi.

"Beberapa komunitas internasional memilih untuk menghargai rezim Palestina dan mengabaikan kenyataan," katanya.

"Alih-alih menghadapi kepemimpinan Palestina, mereka (komunitas internasional) mencoba menenangkan mereka (Palestina) dengan membeli setiap barang busuk yang dijual warga Palestina," ujarnya.

Netanyahu dapat mulai mempertimbangkan pencaplokan pada 1 Juli di bawah kesepakatan koalisi dengan rival politiknya; Benny Gantz. Gantz cenderung lebih berhati-hati terkait rencana aneksasi, terutama dalam menilai reaksi di Amerika Serikat.

Joe Biden, calon presiden AS dari Partai Demokrat yang akan jadi lawan Trump dalam pemilihan presiden November mendatang, telah menyuarakan penentangan terhadap aneksasi.
(min)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Wanita Ini Dihujat karena...
Wanita Ini Dihujat karena Sebut Islam Organisasi Teroris, Sekarang Malah Dapat Donasi Rp2,5 Miliar
Trump Ancam Tak Tolong...
Trump Ancam Tak Tolong Negara-negara NATO karena Tolak Bantu AS Melawan Iran
Aktivis Zionis: 15 Tahun...
Aktivis Zionis: 15 Tahun Lagi, Israel Akan Perang dengan Mesir
Tuduh AS Biang Kisruh,...
Tuduh AS Biang Kisruh, Kim Jong-un: Korut Akan Jalankan Posisinya sebagai Negara Nuklir
Menteri Zionis Tolak...
Menteri Zionis Tolak Gencatan Senjata: Lebanon Seharusnya Jadi Arena Bermain Israel
Penembakan Guncang Lingkungan...
Penembakan Guncang Lingkungan Yahudi Montreal, 3 Orang Tewas, Termasuk Pelaku
Timnas Iran Tinggalkan...
Timnas Iran Tinggalkan Surat Tulisan Tangan di Ruang Ganti Piala Dunia 2026
Jelang Penandatanganan...
Jelang Penandatanganan di Jenewa, AS Rahasiakan Nota Kesepahaman Iran dari Israel
Perjanjian Damai dengan...
Perjanjian Damai dengan Iran Terancam Batal gegara Israel, Begini Tanggapan AS
Rekomendasi
Penahanan Roy Suryo...
Penahanan Roy Suryo dan Dokter Tifa Ditangguhkan Kejaksaan, Kapolri: Kewajiban Kami Telah Selesai
KTM 790 Duke 2027 Diperkenalkan...
KTM 790 Duke 2027 Diperkenalkan Kini Lebih Agresif
Beasiswa Keolahragaan...
Beasiswa Keolahragaan LPDP-Kemenpora 2026 Kembali Dibuka, Kuliah S2-S3 Gratis
Berita Terkini
Siapa Andy Burnham?...
Siapa Andy Burnham? Kandidat Kuat PM Inggris yang Suka Bermain Bola
China Tuduh Militer...
China Tuduh Militer Jepang Mengganggu Latihan Tempur Kapal Induk Liaoning
Gelombang Panas Sengat...
Gelombang Panas Sengat Eropa, 18 Orang Tewas di Prancis
Siapa Bagher Ghalibaf?...
Siapa Bagher Ghalibaf? Negosiator Iran dan Tangan Kanan Mojtaba yang Mampu Menundukkan AS
Wanita Ini Dihujat karena...
Wanita Ini Dihujat karena Sebut Islam Organisasi Teroris, Sekarang Malah Dapat Donasi Rp2,5 Miliar
Viral, Robot China Ini...
Viral, Robot China Ini Mengemis di Jalan untuk Bayar Listrik
Infografis
10 Wonderkid Calon Bintang...
10 Wonderkid Calon Bintang di Piala Dunia 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved