Inggris Akan Naikkan Batas Usia Perokok

Minggu, 22 Mei 2022 - 10:01 WIB
loading...
Inggris Akan Naikkan...
Inggris akan menaikkan batas usia perokok untuk membuat negara itu bebas rokok pada 2030. Foto/Ilustrasi
A A A
LONDON - Inggris dilaporkan akan menaikkan batas usia legal untuk perokok dari 18 menjadi 21 tahun. Hal itu tertuang dalam tinjauan "radikal" terhadap rencana untuk membuat Negeri Ratu Elizabeth itu bebas rokok pada 2030.

Menurut The Telegraph sebuah tinjauan independen yang ditugaskan oleh Menteri Kesehatan, Sajid Javid, dan dipimpin oleh mantan kepala eksekutif badan amal anak-anak Barnardo, Javed Khan, juga diharapkan untuk mendukung pajak baru atas keuntungan perusahaan tembakau.

Kajian tersebut juga diharapkan dapat merekomendasikan NHS meningkatkan upaya untuk mendorong perokok, terutama di kalangan wanita hamil, untuk beralih ke vaping dan rokok elektrik .

The Telegraph juga melaporkan bahwa Javid, yang berhenti merokok setelah menjadi Menteri Kesehatan tahun lalu, telah mempertimbangkan untuk merekomendasikan usia minimum dinaikkan menjadi 25 tahun. Dia juga dipahami mendukung perubahan besar pada kebijakan tembakau pemerintah, termasuk pengetatan aturan tentang penjualan.

Baca juga: 3 Negara di Dunia yang Mengharamkan Rokok di Negaranya

Khan mengatakan dia mendukung pendekatan "pencemar membayar" yang akan memaksa perusahaan tembakau untuk membiayai kebijakan anti-merokok. Ketika tinjauan diluncurkan, dia mengatakan temuannya akan membantu menyoroti intervensi utama yang dapat membantu pemerintah mencapai ambisinya untuk bebas rokok pada tahun 2030 dan mengatasi kesenjangan kesehatan.

"Sikap yang dia ambil dalam pertemuan yang saya lakukan dengannya cukup radikal," kata seorang sumber yang berkonsultasi dengan Khan selama peninjauan kepada Telegraph seperti dikutip dari The Guardian, Minggu (22/5/2022).

Tiga sumber dilaporkan mengatakan peninjauan, yang ditugaskan pada bulan Februari, adalah "penutup politik" untuk Javid guna menghindari Downing Street yang menyingkirkan target 2030 di tengah kekhawatiran Partai Konservatif mungkin dituduh mencoba menerapkan "negara pengasuh".

Usia minimum untuk pembelian tembakau terakhir dinaikkan dari 16 menjadi 18 di Inggris, Skotlandia dan Wales pada tahun 2007. Merokok di ruang publik tertutup dan tempat kerja dibuat ilegal di Inggris, Wales dan Irlandia Utara pada tahun yang sama, mengikuti Skotlandia yang memuatnya dalam undang-undang tahun sebelumnya.

Javid dikatakan telah melihat kebijakan di Amerika Serikat (AS), di mana usia legal adalah 21 tahun, dan Selandia Baru, di mana pembelian rokok akan selamanya ilegal bagi siapa pun yang saat ini berusia 14 tahun ke bawah.

Baca juga: Anak Muda Selandia Baru Dilarang Merokok Seumur Hidup

Telegraph melaporkan Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson, tidak percaya usia harus ditingkatkan karena usia 18 tahun diakui oleh pemerintah sebagai ambang usia yang dapat dikenakan tanggung jawab hukum.

Tinjauan itu awalnya direncanakan untuk diterbitkan minggu depan tetapi sejak itu ditunda. Setiap rekomendasi yang dihasilkan dari laporan tersebut akan dikonsultasikan sebelum pengumuman kebijakan baru.

“Menangani masalah seperti merokok adalah prioritas bagi kantor untuk peningkatan kesehatan dan kesenjangan dan bagian penting dari agenda peningkatan level pemerintah. Inilah sebabnya kami meluncurkan tinjauan independen atas ambisi berani kami untuk membuat Inggris bebas asap rokok pada tahun 2030," ujar seorang juru bicara Departemen Kesehatan dan Perawatan Sosial Inggris.

“Tinjauan ini akan memberikan saran independen berbasis bukti tentang intervensi potensial yang akan menginformasikan pendekatan kami untuk mengatasi kesenjangan kesehatan yang mencolok terkait dengan penggunaan tembakau – dan kami berharap dapat melihat laporan tersebut pada waktunya,” ia menambahkan.

Baca juga: Ingin Bebas Asap, Selandia Baru Bakal Larang Penjualan Rokok

(ian)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Inggris, Australia,...
Inggris, Australia, dan Kanada Luncurkan Dana untuk Dukung Upaya Solusi 2 Negara
Berseteru dengan PM...
Berseteru dengan PM Starmer, Menhan Inggris John Healey Mundur
4 Pemicu Kerusuhan di...
4 Pemicu Kerusuhan di Irlandia Utara, dari Agitator Sayap Kanan Picu hingga Warisan Sejarah
Kerusuhan Meluas di...
Kerusuhan Meluas di Irlandia Utara, Rumah dan Mobil Dibakar
Horor! Penyerang Berpisau...
Horor! Penyerang Berpisau Mencoba Memenggal Seorang Pria di Tempat Umum
5 Fakta Trump Ingin...
5 Fakta Trump Ingin Membeli Kepulauan Chagos yang Sangat Strategis
Ingatkan Klub Malam...
Ingatkan Klub Malam Proaktif Lapor Polisi Jika Temui Narkoba Vape, Sahroni: Laporkan atau Ditutup!
Menteri Israel Serukan...
Menteri Israel Serukan Penculikan dan Penyanderaan Wanita dan Pemuda Lebanon untuk Tekan Hizbullah
AS Ancam Serang Infrastruktur...
AS Ancam Serang Infrastruktur Iran, Presiden Pezeshkian: Mereka Putus Asa!
Rekomendasi
Mahasiswa Aliansi UNJ...
Mahasiswa Aliansi UNJ Melawan Turun ke Jalan, Ini Tuntutannya
Makin Mudah Berinvestasi,...
Makin Mudah Berinvestasi, Pegadaian dan KSEI Gandeng Tangan Kembangkan ETF Emas
Rupiah Bergejolak, Saatnya...
Rupiah Bergejolak, Saatnya Lirik Aset Global?
Berita Terkini
Netanyahu dan Trump...
Netanyahu dan Trump Bahas Nota Kesepahaman Mendatang dengan Iran
Iran Tegaskan Belum...
Iran Tegaskan Belum Ada Kesepakatan Akhir dengan AS
Terungkap, Pokemon Go...
Terungkap, Pokemon Go Bantu Militer AS Petakan Dunia
Inggris, Australia,...
Inggris, Australia, dan Kanada Luncurkan Dana untuk Dukung Upaya Solusi 2 Negara
Israel Jadi Negara yang...
Israel Jadi Negara yang Paling Banyak Diboikot di Dunia
Ayatollah Khamenei Sudah...
Ayatollah Khamenei Sudah Lebih dari 100 Hari Meninggal, Iran Tunda Lagi Penguburannya
Infografis
Skuad Timnas Inggris...
Skuad Timnas Inggris di Piala Dunia 2026, Tak Ada Pemain Liverpool
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved