Uni Eropa Jelaskan Mengapa Mereka Terus Mempersenjatai Ukraina
Kamis, 07 April 2022 - 07:27 WIB
loading...
Tentara Ukraina mengikuti latihan perang di Odessa, Ukraina, 28 Januari 2022. Foto/REUTERS
A
A
A
BRUSSELS - Diplomat top Uni Eropa (UE) Josep Borrell mengatakan blok itu mengirim senjata ke Ukraina sehingga konflik dengan Rusia tidak berakhir dengan kekalahan Kiev.
“Kami ingin ini berakhir sesegera mungkin, tetapi tidak dengan cara apa pun,” ujar Borrell kepada Parlemen Eropa pada Rabu (6/4/2022).
“Karena jika kita ingin memiliki negara yang hancur yang telah dipotong-potong secara teritorial dan dinetralisir, dengan jutaan orang di pengasingan, dan jutaan orang mati, maka tidak, kita tidak ingin perang ini berakhir seperti ini,” papar dia.
Baca juga: Putin Beri Peringatan Keras pada Barat Soal Nasionalisasi Aset
“Itulah mengapa kami harus terus mempersenjatai Ukraina… Lebih banyak senjata, itulah yang diharapkan Ukraina dari kami, dan itulah yang kami lakukan,” ungkap Borrell.
Baca juga: Kekuatan Senjata Nuklir China Diprediksi Segera Samai AS dan Rusia
Borrell dan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen akan melakukan perjalanan ke Kiev pekan ini, menurut Brussels.
Baca juga: AS Peringatkan Terobosan Nuklir China Ubah Keseimbangan Keamanan Global
Uni Eropa mengumumkan bulan lalu bahwa mereka menggandakan bantuan militer blok itu ke Ukraina menjadi USD1,1 miliar.
Seruan untuk mengirim lebih banyak senjata ke Kiev meningkat setelah Ukraina menuduh Rusia melakukan kejahatan perang di kota Bucha, dekat Kiev.
Rusia, yang pasukannya meninggalkan daerah itu pekan lalu, membantah tentaranya membunuh warga sipil di Bucha dan di tempat lain.
Moskow bersikeras Kiev melancarkan kampanye disinformasi untuk menyesatkan publik.
Moskow menyerang negara tetangganya menyusul kegagalan Ukraina mengimplementasikan ketentuan perjanjian Minsk yang ditandatangani pada 2014, dan pengakuan Rusia atas republik Donbass di Donetsk dan Lugansk.
Protokol yang ditengahi Jerman dan Prancis telah dirancang untuk mengatur status wilayah-wilayah tersebut di dalam negara Ukraina.
Rusia kini menuntut agar Ukraina secara resmi menyatakan dirinya sebagai negara netral yang tidak akan pernah bergabung dengan NATO, blok militer yang dipimpin AS.
Kiev mengatakan serangan Rusia benar-benar tidak beralasan dan membantah klaim pihaknya berencana merebut kembali kedua wilayah dengan paksa.
“Kami ingin ini berakhir sesegera mungkin, tetapi tidak dengan cara apa pun,” ujar Borrell kepada Parlemen Eropa pada Rabu (6/4/2022).
“Karena jika kita ingin memiliki negara yang hancur yang telah dipotong-potong secara teritorial dan dinetralisir, dengan jutaan orang di pengasingan, dan jutaan orang mati, maka tidak, kita tidak ingin perang ini berakhir seperti ini,” papar dia.
Baca juga: Putin Beri Peringatan Keras pada Barat Soal Nasionalisasi Aset
“Itulah mengapa kami harus terus mempersenjatai Ukraina… Lebih banyak senjata, itulah yang diharapkan Ukraina dari kami, dan itulah yang kami lakukan,” ungkap Borrell.
Baca juga: Kekuatan Senjata Nuklir China Diprediksi Segera Samai AS dan Rusia
Borrell dan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen akan melakukan perjalanan ke Kiev pekan ini, menurut Brussels.
Baca juga: AS Peringatkan Terobosan Nuklir China Ubah Keseimbangan Keamanan Global
Uni Eropa mengumumkan bulan lalu bahwa mereka menggandakan bantuan militer blok itu ke Ukraina menjadi USD1,1 miliar.
Seruan untuk mengirim lebih banyak senjata ke Kiev meningkat setelah Ukraina menuduh Rusia melakukan kejahatan perang di kota Bucha, dekat Kiev.
Rusia, yang pasukannya meninggalkan daerah itu pekan lalu, membantah tentaranya membunuh warga sipil di Bucha dan di tempat lain.
Moskow bersikeras Kiev melancarkan kampanye disinformasi untuk menyesatkan publik.
Moskow menyerang negara tetangganya menyusul kegagalan Ukraina mengimplementasikan ketentuan perjanjian Minsk yang ditandatangani pada 2014, dan pengakuan Rusia atas republik Donbass di Donetsk dan Lugansk.
Protokol yang ditengahi Jerman dan Prancis telah dirancang untuk mengatur status wilayah-wilayah tersebut di dalam negara Ukraina.
Rusia kini menuntut agar Ukraina secara resmi menyatakan dirinya sebagai negara netral yang tidak akan pernah bergabung dengan NATO, blok militer yang dipimpin AS.
Kiev mengatakan serangan Rusia benar-benar tidak beralasan dan membantah klaim pihaknya berencana merebut kembali kedua wilayah dengan paksa.
(sya)
Lihat Juga :