Stoltenberg: NATO Akan Menargetkan China

Rabu, 06 April 2022 - 05:36 WIB
loading...
Stoltenberg: NATO Akan...
NATO berencana untuk memperdalam kerja samanya dengan mitra di Asia sebagai tanggapan atas meningkatnya tantangan keamanan yang datang dari China. Foto/Ilustrasi
A A A
BRUSSELS - NATO berencana untuk memperdalam kerja samanya dengan mitra di Asia sebagai tanggapan atas meningkatnya "tantangan keamanan" yang datang dari China , yang menolak untuk mengutuk operasi militer Rusia yang sedang berlangsung di Ukraina .

Hal itu diungkapkan Sekretaris Jenderal blok pimpinan Amerika Serikat (AS) Jens Stoltenberg mengungkapkan selama konferensi pers.

Dia mengumumkan bahwa blok tersebut akan menjadi tuan rumah menteri luar negeri dari negara-negara anggota serta Finlandia, Swedia, Georgia, dan Uni Eropa.



Namun, pejabat kelahiran Norwegia itu juga mencatat bahwa mitra Asia Pasifiknya seperti Australia, Selandia Baru, Jepang, dan Korea Selatan telah diundang juga, menyatakan bahwa krisis keamanan saat ini memiliki “implikasi global.”

Para menteri akan membahas konsep strategis baru yang akan menjelaskan konflik militer di Ukraina, tetapi juga akan mencakup untuk pertama kalinya masalah pengaruh China yang semakin besar dan kebijakan koersif di panggung global yang menimbulkan tantangan sistemik bagi keamanan dan demokrasi.

“Kami melihat bahwa China tidak mau mengutuk agresi Rusia dan telah bergabung dengan Moskow dalam mempertanyakan hak negara-negara untuk memilih jalan mereka sendiri,” kata Stoltenberg, mendesak bahwa demokrasi harus membela nilai-nilai mereka melawan “kekuatan otoriter,” seperti dikutip dari Russia Today, Rabu (6/4/2022).

Baca juga: China: NATO Seharusnya Dibubarkan pada 1991 setelah Soviet Bubar

Menurut Freedom House yang didanai pemerintah AS, lima dari tiga puluh anggota NATO tidak dianggap sebagai negara demokrasi penuh. Kelimanya adalah Turki, Hongaria, Albania, Makedonia Utara & Montenegro.

Dia menyatakan harapan bahwa blok tersebut akan dapat memperdalam kerja samanya dengan mitra Asia-Pasifik di berbagai bidang seperti “kontrol senjata, siber, hibrida, dan teknologi.”

Sejak dimulainya serangan militer Rusia terhadap Ukraina, Beijing telah menahan diri untuk mengambil sikap khusus mengenai masalah ini, menyerukan resolusi damai untuk konflik tersebut tetapi menolak untuk mengutuk tindakan Moskow atau bergabung dengan sanksi ekonomi besar-besaran yang dikenakan pada Rusia oleh negara-negara seperti AS, Kanada, Inggris, Uni Eropa, Jepang, Australia, dan negara-negara lain.

Baca juga: Beijing: Klaim NATO Soal China Dukung Rusia adalah Disinformasi

Selama beberapa minggu terakhir, AS semakin menekan China untuk "memilih," dengan Joe Biden memperingatkan Beijing tentang "konsekuensi" dan "biaya" potensial jika China memilih untuk mendukung Rusia dalam konflik Ukraina, baik secara militer atau dengan membantu menghindari sanksi internasional.

Moskow menyerang tetangganya pada akhir Februari, menyusul kegagalan Ukraina untuk mengimplementasikan ketentuan perjanjian Minsk yang ditandatangani pada 2014, dan akhirnya Rusia mengakui republik Donbass di Donetsk dan Lugansk.

Protokol yang diperantarai Jerman dan Prancis telah dirancang untuk mengatur status wilayah-wilayah tersebut di dalam negara Ukraina.

Rusia kini menuntut agar Ukraina secara resmi menyatakan dirinya sebagai negara netral yang tidak akan pernah bergabung dengan blok militer NATO yang dipimpin AS. Kiev menegaskan serangan Rusia benar-benar tidak beralasan dan membantah klaim bahwa pihaknya berencana untuk merebut kembali kedua republik dengan paksa.

Baca juga: NATO Tuding China Dukung Rusia dengan Cara Ini
(ian)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Jenderal Jerman Ancam...
Jenderal Jerman Ancam Serang Dahsyat Rusia: Kami Siap Bertempur Malam Ini
China Tangkap 2 Pemimpin...
China Tangkap 2 Pemimpin Gereja Bawah Tanah yang Berpengaruh, Apa Pemicunya?
Kunjungi Pyongyang,...
Kunjungi Pyongyang, Xi Jinping Diduga Berusaha Redam Pengaruh Rusia atas Korut
Inggris Caplok Armada...
Inggris Caplok Armada Bayangan Rusia, Akankah Picu Perang Besar?
Tiru Israel, Taiwan...
Tiru Israel, Taiwan Gunakan AI untuk Rekrut Informan dan Whistleblower China
Beijing: Asing Mata-matai...
Beijing: Asing Mata-matai China, Gunakan Kura-kura dan Ikan yang Dipasang Sensor
Krisis LNG Timur Tengah,...
Krisis LNG Timur Tengah, Permintaan Batu Bara di Asia Melonjak
WNI Dikeroyok dan Dianiaya...
WNI Dikeroyok dan Dianiaya di Malaysia, Polisi Amankan 4 Orang yang Terlibat
Spesifikasi Pesawat...
Spesifikasi Pesawat Pengebom B-52 AS yang Jatuh Tak Berbekas, Dijuluki Bongsor Jelek dan Gendut
Rekomendasi
Kabupaten Bekasi dan...
Kabupaten Bekasi dan Klaten Kekeringan, Ribuan Warga Kesulitan Dapat Air Bersih
Wali Kota Agustina Tegaskan...
Wali Kota Agustina Tegaskan Kerukunan Jadi Kekuatan Utama Membangun Kota Semarang
Dulu Dibully Karena...
Dulu Dibully Karena Pendiam, Kini Syawal Adha Raih Centang Biru TikTok dan Instagram
Berita Terkini
Putin Siapkan KTT Rusia-ASEAN...
Putin Siapkan KTT Rusia-ASEAN dan Perundingan Bilateral di Sela-selanya
Pengaktifan Kembali...
Pengaktifan Kembali Transit Lewat Selat Hormuz Mungkin Perlu Waktu Beberapa Pekan
Menlu Iran Tegaskan...
Menlu Iran Tegaskan Akhir Perang Dideklarasikan Senin, Resmi Berlaku Jumat
Hamas Sambut Baik Kesepakatan...
Hamas Sambut Baik Kesepakatan AS-Iran, Serukan Penghentian Serangan di Gaza dan Lebanon
7 Fakta Unik Cape Verde,...
7 Fakta Unik Cape Verde, Negara Kecil yang Bikin Spanyol Frustrasi di Piala Dunia 2026
Inggris, Prancis, Jerman,...
Inggris, Prancis, Jerman, dan Italia Siap Cabut Sanksi Teheran setelah Kesepakatan Damai AS-Iran
Infografis
4 Keunggulan Jet Tempur...
4 Keunggulan Jet Tempur Canggih J-35 Buatan China
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved