Ukraina Klaim Hampir 5.000 Tewas di Mariupol Sejak Rusia Mulai Pengepungan
Selasa, 29 Maret 2022 - 04:05 WIB
loading...
A
A
A
Pemerintah Ukraina mengatakan, tidak mungkin untuk membuat koridor yang aman, mengutip laporan intelijen tentang kemungkinan "provokasi" Rusia di sepanjang rute. Rusia, yang menginvasi Ukraina pada 24 Februari, membantah menargetkan warga sipil dan menyalahkan Ukraina atas kegagalan berulang kali untuk menyepakati koridor yang aman bagi penduduk yang terjebak.
Baca: Ukraina: 300 Orang Dikhawatirkan Tewas dalam Serangan Rusia di Teater Mariupol
Orang-orang yang telah melarikan diri dari Mariupol telah menggambarkan betapa sulitnya hidup selama berminggu-minggu di bawah pemboman yang hampir konstan.
"Tidak ada makanan untuk anak-anak, terutama bayi. Mereka melahirkan bayi di ruang bawah tanah karena perempuan tidak punya tempat untuk melahirkan, semua rumah sakit bersalin hancur," ujar Nataliia, seorang pekerja bahan makanan dari Mariupol.
"Saya juga menemukan hari ini bahwa orang tua teman sekelas putra saya tercabik-cabik tepat di halaman, di depan matanya," lanjutnya. Dia mengatakan, warga yang terperangkap telah menghabiskan waktu mencari salju yang bisa mereka cairkan untuk mendapatkan air untuk mencuci tangan.
Valeriia, seorang siswa berusia 20 tahun dari Mariupol, mengatakan, listrik, akses internet, air dan pemanas telah terputus pada 2 Maret. Segera setelah itu, pertempuran sengit pecah di dekatnya dan sebagian rumahnya hancur.
Baca: Ukraina: 300 Orang Dikhawatirkan Tewas dalam Serangan Rusia di Teater Mariupol
Orang-orang yang telah melarikan diri dari Mariupol telah menggambarkan betapa sulitnya hidup selama berminggu-minggu di bawah pemboman yang hampir konstan.
"Tidak ada makanan untuk anak-anak, terutama bayi. Mereka melahirkan bayi di ruang bawah tanah karena perempuan tidak punya tempat untuk melahirkan, semua rumah sakit bersalin hancur," ujar Nataliia, seorang pekerja bahan makanan dari Mariupol.
"Saya juga menemukan hari ini bahwa orang tua teman sekelas putra saya tercabik-cabik tepat di halaman, di depan matanya," lanjutnya. Dia mengatakan, warga yang terperangkap telah menghabiskan waktu mencari salju yang bisa mereka cairkan untuk mendapatkan air untuk mencuci tangan.
Valeriia, seorang siswa berusia 20 tahun dari Mariupol, mengatakan, listrik, akses internet, air dan pemanas telah terputus pada 2 Maret. Segera setelah itu, pertempuran sengit pecah di dekatnya dan sebagian rumahnya hancur.
Lihat Juga :