Tak Peduli Reaksi, Senator AS Kembali Serukan Bunuh Putin

Kamis, 17 Maret 2022 - 13:46 WIB
loading...
Tak Peduli Reaksi, Senator...
Presiden Rusia Vladimir Putin. Senator AS Lindsey Graham kembali menyerukan pembunuhan Putin untuk akhiri perang di Ukraina. Foto/REUTERS/Maxim Shemetov
A A A
WASHINGTON - Senator Amerika Serikat (AS) Lindsey Graham kembali menyerukan pembunuhan terhadap Presiden Rusia Vladimir Putin untuk mengakhiri perang di Ukraina . Dia tidak peduli dengan reaksi pemerintah dan para politisi Amerika atas seruannya itu.

Senator Partai Republik ini kembali membuat seruan serupa pada Rabu waktu Washington. Dia ingin orang nomor satu Rusia itu pergi untuk selamanya.

Ditanya apakah dia masih berpikir Putin harus disingkirkan, Graham berkata: "Ya, saya harap dia akan dikeluarkan dengan satu atau lain cara."

Baca juga: Jika Perintahkan Rusia Serang AS, Putin Akan Ditembak Kepalanya

Kendati demikian, Graham menawarkan skenario alternatif di mana Putin akan ditangkap dan diadili atas kejahatan perang oleh Pengadilan Kriminal Internasional (ICC).

“Saya tidak peduli bagaimana mereka membawanya keluar. Saya tidak peduli jika kita mengirimnya ke Den Haag dan mengadilinya; Saya hanya ingin dia pergi," kata Graham, seperti dikutip New York Daily News, Kamis (17/3/2022).

Senator konservatif itu "mengaduk sarang lebah" awal bulan ini ketika dia meminta elite penguasa Rusia untuk membunuh Putin guna mengakhiri invasi ke Ukraina.

"Satu-satunya cara ini berakhir adalah seseorang di Rusia membawa orang ini keluar," tulis Graham di Twitter.

Dia kemudian menyatakan akan mendukung pemenjaraan Putin sebagai hukuman karena memerintahkan invasi.

Seruannya memicu reaksi penolakan dan kecaman luas dari seluruh spektrum politik AS, termasuk rekan separtainya; Senator Ted Cruz.

Cruz mengatakan seruan untuk pembunuhan Putin adalah seruan yang berbahaya dan impulsif yang dapat menyebabkan pemimpin Rusia menyerang Amerika.

Gedung Putih mengatakan tidak mendukung pembunuhan Putin, atau pemimpin dunia lainnya, karena perintah eksekutif yang pertama kali ditandatangani oleh Presiden Gerald Ford melarang setiap anggota pemerintah AS untuk terlibat atau berkonspirasi untuk terlibat dalam tindakan pembunuhan politik di mana saja di dunia.

Perintah eksekutif itu diberlakukan sebagai tanggapan atas pengungkapan pasca-Watergate bahwa CIA telah melakukan berbagai upaya untuk membunuh Presiden Kuba Fidel Castro.

Larangan terhadap pembunuhan politik, yang tetap merupakan istilah yang tidak ditentukan, ditetapkan oleh perintah presiden dan bukan undang-undang, berkat kompromi yang dibuat antara Kongres dan Gedung Putih pada tahun 1976.
(min)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Warga China dan Rusia...
Warga China dan Rusia Berlomba Melahirkan Bayi di AS demi Status Kewarganegaraan
Perjanjian Damai Iran...
Perjanjian Damai Iran Jadi Kekalahan Paling Memalukan bagi AS, Ini 3 Alasannya
Inggris Caplok Armada...
Inggris Caplok Armada Bayangan Rusia, Akankah Picu Perang Besar?
Beijing: Asing Mata-matai...
Beijing: Asing Mata-matai China, Gunakan Kura-kura dan Ikan yang Dipasang Sensor
Pemimpin Oposisi Zionis:...
Pemimpin Oposisi Zionis: Kesepakatan Damai AS-Iran Berarti Tak Satu Pun Tujuan Perang Israel Tercapai
Perseteruan Memanas,...
Perseteruan Memanas, Jet Tempur Swedia Cegat Pesawat Militer Rusia
Dikepung Sanksi Barat,...
Dikepung Sanksi Barat, Rusia Malah Cetak Rekor Hampir Semua Warganya Punya Kerjaan!
Presiden Jerman Akan...
Presiden Jerman Akan Kunjungi Jakarta 15 Juni, Boyong Delegasi Bisnis dan Peneliti
AS Klaim Perjanjian...
AS Klaim Perjanjian Damai dengan Iran Diteken Hari Ini, Teheran: Tak  Akan Terjadi!
Rekomendasi
Siap-siap! Harga Rumah...
Siap-siap! Harga Rumah Subsidi Bakal Naik, Ini Penyebabnya
PBNU Gelar Munas dan...
PBNU Gelar Munas dan Konbes di Ploso Kediri pada 20-23 Juni 2026, Presiden Prabowo Diundang
PKB Jabar Fest, Gus...
PKB Jabar Fest, Gus Muhaimin: Kita Tak Butuh Pemimpin Pencitraan
Berita Terkini
Warga China dan Rusia...
Warga China dan Rusia Berlomba Melahirkan Bayi di AS demi Status Kewarganegaraan
Perjanjian Damai Iran...
Perjanjian Damai Iran Jadi Kekalahan Paling Memalukan bagi AS, Ini 3 Alasannya
Setelah 4 Bulan Berperang,...
Setelah 4 Bulan Berperang, Ini 7 Hal yang Membuat Iran Lebih Kuat
Berlatih di Tijuana,...
Berlatih di Tijuana, Timnas Iran Dikawal 300 Pasukan Elite Meksiko
Jika Dicairkan, Aset...
Jika Dicairkan, Aset Beku Iran Jadi Oksigen Segar untuk Kebangkitan Ekonomi Iran
Militerisasi Jepang...
Militerisasi Jepang dan Bahaya Radiasi Radio Aktif
Infografis
Apa Itu Dilema Malaka?...
Apa Itu Dilema Malaka? Strategi AS Cekik Minyak China, Berpotensi Seret Indonesia dalam Konflik
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved