Pakar: Manuver China di Laut Natuna Utara Harus Disikapi Tegas
Rabu, 09 Maret 2022 - 19:38 WIB
loading...
A
A
A
Salah satu contohnya adalah melalui proses pembuatan Code of Conduct antara China dan negara-negara ASEAN.
ASEAN dan China ingin menciptakan Kode Perilaku untuk mengatur perilaku negara-negara di Laut China Selatan. Karena negosiasi ini memakan waktu lama, China memanfaat jeda waktu ini untuk meningkatkan kapasitas militernya. Ia lalu melakukan taktik salami dengan membangun militernya di sekitar LCS.
“Taktik Salami Ini sama seperti peribahasa pelan-pelan menjadi bukit. Jadi lama-lama mereka jadi bangun banyak pangkalan militer seperti di kepulauan Parcel,” ungkap Evan.
Secara politik, mereka juga mencari elit yang kurang mengerti dan bisa diajak kerja sama tentang isu-isu LCS. Ketergantungan ekonomi juga membuat Indonesia jadi lemah posisinya saat harus berseberangan dengan China.
Mereka juga ingin mengubah UNCLOS secara pelanpelan. “UNCLOS itu sangat sakral buat kita karena status kita sebagai negara kepulauan itu berdasarkan UNCLOS. Jadi kita sangat rugi kalau sampai UNCLOS diubah,” papar Evan.
Menurut dia, masalah pelanggaran kapal China yang masuk wilayah Indonesia di Laut Natuna Utara harus disikapi serius.
Dia meminta semua lembaga atau institusi terkait untuk focus menangani masalah itu secara integral, bukan berjalan sendiri-sendiri.
Hal itu lantaran China kadang menjebak Indonesia dengan membuat istilah baru berupaya wilayah pencarian ikan tradisional dan semacamnya demi membenarkan tindakan mereka.
Evan mengatakan, China sepertinya ingin mengubah UNCLOS, dengan begitu Indonesia nanti yang dirugikan.
Dia ingin agar Indonesia tegas saja jika memang ada pelanggaran kapal yang dilakukan China.
"Di era Bu Susi (Menteri KP), Tiongkok tidak bahagia. Kita selalu menenggelamkan kapal mereka, akhirnya mereka menawarkan joint development dan selalu menegaskan kedaulatan Indonesia atas Natuna," ucap Evan.
ASEAN dan China ingin menciptakan Kode Perilaku untuk mengatur perilaku negara-negara di Laut China Selatan. Karena negosiasi ini memakan waktu lama, China memanfaat jeda waktu ini untuk meningkatkan kapasitas militernya. Ia lalu melakukan taktik salami dengan membangun militernya di sekitar LCS.
“Taktik Salami Ini sama seperti peribahasa pelan-pelan menjadi bukit. Jadi lama-lama mereka jadi bangun banyak pangkalan militer seperti di kepulauan Parcel,” ungkap Evan.
Secara politik, mereka juga mencari elit yang kurang mengerti dan bisa diajak kerja sama tentang isu-isu LCS. Ketergantungan ekonomi juga membuat Indonesia jadi lemah posisinya saat harus berseberangan dengan China.
Mereka juga ingin mengubah UNCLOS secara pelanpelan. “UNCLOS itu sangat sakral buat kita karena status kita sebagai negara kepulauan itu berdasarkan UNCLOS. Jadi kita sangat rugi kalau sampai UNCLOS diubah,” papar Evan.
Menurut dia, masalah pelanggaran kapal China yang masuk wilayah Indonesia di Laut Natuna Utara harus disikapi serius.
Dia meminta semua lembaga atau institusi terkait untuk focus menangani masalah itu secara integral, bukan berjalan sendiri-sendiri.
Hal itu lantaran China kadang menjebak Indonesia dengan membuat istilah baru berupaya wilayah pencarian ikan tradisional dan semacamnya demi membenarkan tindakan mereka.
Evan mengatakan, China sepertinya ingin mengubah UNCLOS, dengan begitu Indonesia nanti yang dirugikan.
Dia ingin agar Indonesia tegas saja jika memang ada pelanggaran kapal yang dilakukan China.
"Di era Bu Susi (Menteri KP), Tiongkok tidak bahagia. Kita selalu menenggelamkan kapal mereka, akhirnya mereka menawarkan joint development dan selalu menegaskan kedaulatan Indonesia atas Natuna," ucap Evan.
(sya)
Lihat Juga :