Pemberontak Ukraina Minta Bantuan Militer kepada Putin

Kamis, 24 Februari 2022 - 05:22 WIB
loading...
Pemberontak Ukraina...
Pemberontak Ukraina minta bantuan militer kepada Presiden Rusia Vladimir Putin. Foto/Ilustrasi/Sindonews
A A A
MOSKOW - Republik Donbass yang baru diakui di Lugansk dan Donetsk secara resmi telah meminta bantuan militer kepada Rusia dalam surat yang diterbitkan pada hari Rabu.

Di dalamnya, para pemimpin mereka mengklaim bahwa "agresi"baru Ukraina meningkat sejak Moskow mengakui wilayah itu sebagai negara merdeka, awal pekan ini.

Kepala Republik Rakyat Donbass (DPR) dan Republik Rakyat Lugansk (LPR) menulis kepada Presiden Rusia Vladimir Putin secara terpisah, tetapi kedua surat itu bertanggal Selasa, 22 Februari.



Denis Pushilin dari DPR dan mitranya dari LPR Leonid Pasechnik menggunakan pasal tiga dan empat dari perjanjian mereka yang baru diratifikasi tentang kerja sama dan bantuan timbal balik dengan Rusia, meminta Moskow untuk “memberikan bantuan dalam memukul mundur agresi militer rezim Ukraina,” yang mereka klaim mengobarkan perang melawan mereka.

Kedua pemimpin mengajukan pasal 3 dan 4 dari perjanjian yang baru diratifikasi tentang kerja sama dan bantuan timbal balik dengan Rusia, meminta Moskow untuk “memberikan bantuan dalam memukul mundur agresi militer rezim Ukraina,” yang mereka katakan sedang dilancarkan terhadap mereka.

"Agresi Ukraina meningkat," tulis Pushilin mengutip dugaan peningkatan pemboman artileri yang menargetkan infrastruktur sipil penting dan dilaporkan menyebabkan 300.000 orang tanpa air setelah saluran air utama republik itu terkena.

Baca juga: Ukraina Panggil Warga Negara Usia 18-60 Tahun Masuk Wajib Militer Cadangan

Pemimpin DPR mengklaim Ukraina melanjutkan apa yang disebutnya "genosida" terhadap warga sipil, yang tampaknya telah memaksa evakuasi lebih dari 40.000 orang sejauh ini.

“Tindakan rezim Kiev bersaksi bahwa mereka tidak memiliki keinginan untuk melaksanakan perjanjian Minsk dan menghentikan perang di Donbass,” tulis Pasechnik, seperti dikutip dari Russia Today, Kamis (24/2/2022).

Ia menambahkan bahwa Ukraina menerima bantuan militer dari Amerika Serikat (AS) dan negara-negara Barat lainnya dan “berorientasi untuk mengakhiri berkonflik dengan LPR secara paksa.”

Pasechnik juga mencatat bahwa lebih dari 51.000 orang telah dievakuasi dari Lugansk sejauh ini, lebih dari setengahnya adalah anak-anak.

Baca juga: Ukraina Memanas, Paus Fransiskus Minta Politisi Periksa Hati Nurani Mereka

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menegaskan tidak ada serangan militer yang ditujukan ke dua wilayah itu, yang dianggap Kiev sebagai wilayah pemberontak yang "diduduki sementara". Ukraina juga menuduh DPR dan LPR melakukan insiden “false flag” terhadap warga sipil mereka sendiri untuk membenarkan “invasi Rusia.”

Donetsk dan Lugansk mendeklarasikan kemerdekaan mereka dari Ukraina pada tahun 2014, setelah protes yang didukung Barat berakhir dengan kudeta yang menggulingkan pemerintah yang terpilih secara demokratis di Kiev. Upaya militer Ukraina untuk menaklukkan daerah itu dengan paksa gagal, mengakibatkan gencatan senjata yang tidak nyaman ditandatangani di Minsk, Belarusia – pertama pada September 2014, kemudian pada Februari 2015.

Moskow telah lama menolak untuk mengakui kedua republik itu, menunjuk ke Minsk dan menyebut konflik itu sebagai masalah internal Ukraina. Namun, pada hari Senin, Putin mengatakan bahwa Kiev secara terbuka menolak untuk mematuhi kewajibannya dan menandatangani dekrit tentang pengakuan Donetsk dan Lugansk yang "sudah lama tertunda".

Baca juga: Kondisikan Keadaan Darurat Nasional, Ukraina Desak Warganya Pergi dari Rusia
(ian)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Serangan Drone Ukraina...
Serangan Drone Ukraina Meningkat, Perang Hadir di Depan Rumah Warga Rusia
140 Drone Ukraina Hajar...
140 Drone Ukraina Hajar St Petersburg, Rusia: Serangan Ini Belum Pernah Terjadi Sebelumnya
Putin Klaim Tak Melihat...
Putin Klaim Tak Melihat Adanya Provokasi dari Iran
Putin: Serangan Rudal...
Putin: Serangan Rudal Hipersonik Oreshnik Rusia terhadap Ukraina Hanya Tes, Belum Skala Penuh
PM Inggris: Rusia Akan...
PM Inggris: Rusia Akan Serang NATO 4 Tahun Lagi
Drone Ukraina Meledak...
Drone Ukraina Meledak Sendiri di Pelabuhan Negara NATO, Kyiv Tuduh Rusia Kerjai Sinyalnya
Bos Raksasa Minyak Rusia:...
Bos Raksasa Minyak Rusia: AS Untung Besar di Balik Penutupan Selat Hormuz
Laporan Media: Israel...
Laporan Media: Israel Bangun Jaringan Militer Rahasia di Azerbaijan, Dekat Perbatasan Iran
Bukan Hanya Rupiah,...
Bukan Hanya Rupiah, Won Korea Tersungkur Hadapi Dolar AS: Terburuk sejak 17 Tahun
Rekomendasi
Langkah Berani Kejagung...
Langkah Berani Kejagung Sentuh Korupsi MBG Jadi Sinyal Kuat Penegakan Hukum Tanpa Impunitas
3 Yayasan Sah di Bawah...
3 Yayasan Sah di Bawah UIN Jakarta, Pengacara: Klaim Sepihak Akan Berdampak Hukum
15.080 Peserta Siap...
15.080 Peserta Siap Ikuti Riau Bhayangkara Run 2026
Berita Terkini
5 Tradisi Unik di Dunia,...
5 Tradisi Unik di Dunia, Salah Satunya Melempar Bayi di India
Serangan Drone Ukraina...
Serangan Drone Ukraina Meningkat, Perang Hadir di Depan Rumah Warga Rusia
12,9 Juta Siswa Ikuti...
12,9 Juta Siswa Ikuti Ujian Gaokao untuk Masuk Universitas di China
Israel Bombardir Markas...
Israel Bombardir Markas Besar Hizbullah di Beirut
9 Tempat Paling Suci...
9 Tempat Paling Suci di Dunia, Nomor 5 Paling Populer bagi Orang Indonesia
6 Tradisi Teraneh di...
6 Tradisi Teraneh di Dunia, Salah Satunya Makan Abu Orang Mati
Infografis
Perang AS-Israel vs...
Perang AS-Israel vs Iran Telah Mengungkap Kelemahan Militer Inggris
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved