Vrindavan, Kota Suci Ribuan Janda India untuk Bertahan Hidup
Sabtu, 19 Februari 2022 - 12:29 WIB
loading...
A
A
A
Rumah itu menjadi fasilitas yang dikelola pemerintah India dengan sekitar 1.000 tempat tidur, kolam renang yang baru digali, makanan dan minuman, serta obat gratis.
Pengantin Hindu sering diharapkan tinggal bersama keluarga suami mereka. Kondisi ini melemahkan ikatan dengan keluarga mereka sendiri, dan menjadi janda bisa berarti bencana besar.
Tanpa suami, sebagian kecil dari sekitar 40 juta janda di India diusir dengan kekerasan dari rumah mereka sendiri setiap tahun. Data ini jelas sangat memprihatinkan.
Tetapi banyak janda terbuang di India telah melihat peningkatan yang signifikan dalam kualitas hidup mereka selama beberapa tahun terakhir.
Para janda itu kebanyakan buta huruf dan beberapa orang menikah saat masih bayi. Perbaikan nasib para janda itu karena berbagai petisi publik dan putusan pengadilan.
Pemerintah dan kelompok hak asasi manusia telah menginvestasikan puluhan juta dolar untuk mengangkat kondisi para perempuan terlantar.
Uang itu tidak hanya digunakan untuk membangun rumah kelompok bagi para janda, tetapi juga untuk mendanai pensiun dan menyediakan pelatihan kerja dan perawatan medis.
Sementara beberapa dari perubahan ini terjadi di seluruh India, mereka paling terlihat di Vrindavan.
Kota ini adalah labirin jalan-jalan sempit dan kuil-kuil batu pasir yang agung. Sepanjang hari, ribuan peziarah berkumpul untuk berdoa di bawah patung dewa raksasa.
Diyakini bahwa para janda telah berkumpul di kota itu sejak Chaitanya Mahaprabhu, tokoh reformis sosial Bengali abad ke-16, membawa sekelompok dari mereka ke sana untuk melarikan diri dari suttee.
Suttee merupakan praktik yang sekarang dilarang, di mana para janda Hindu membakar diri mereka sendiri di atas tumpukan kayu pemakaman suami mereka.
Selama bertahun-tahun, para janda di Vrindavan, yang dianggap sebagai rumah masa kanak-kanak dewa Hindu Krishna, bertahan hidup dengan menyanyikan lagu-lagu kebaktian di kuil-kuil.
Dengan menyanyikan lagu-lagu puja dewa itu mereka mendapat uang beberapa rupee sehari. Mereka pun mengemis uang dengan memakai baju sari putih.
Warna putih itu penanda bahwa warna telah hilang dari kehidupan mereka.
Tunawisma adalah hal biasa di antara para janda Vrindavan. Beberapa janda tinggal di ambang pintu.
Ketika para janda itu meninggal, pemulung sampah terkadang memasukkan tubuh mereka ke dalam kantong goni dan membuangnya ke Sungai Yamuna, menurut laporan media setempat.
Pengantin Hindu sering diharapkan tinggal bersama keluarga suami mereka. Kondisi ini melemahkan ikatan dengan keluarga mereka sendiri, dan menjadi janda bisa berarti bencana besar.
Tanpa suami, sebagian kecil dari sekitar 40 juta janda di India diusir dengan kekerasan dari rumah mereka sendiri setiap tahun. Data ini jelas sangat memprihatinkan.
Tetapi banyak janda terbuang di India telah melihat peningkatan yang signifikan dalam kualitas hidup mereka selama beberapa tahun terakhir.
Para janda itu kebanyakan buta huruf dan beberapa orang menikah saat masih bayi. Perbaikan nasib para janda itu karena berbagai petisi publik dan putusan pengadilan.
Pemerintah dan kelompok hak asasi manusia telah menginvestasikan puluhan juta dolar untuk mengangkat kondisi para perempuan terlantar.
Uang itu tidak hanya digunakan untuk membangun rumah kelompok bagi para janda, tetapi juga untuk mendanai pensiun dan menyediakan pelatihan kerja dan perawatan medis.
Sementara beberapa dari perubahan ini terjadi di seluruh India, mereka paling terlihat di Vrindavan.
Kota ini adalah labirin jalan-jalan sempit dan kuil-kuil batu pasir yang agung. Sepanjang hari, ribuan peziarah berkumpul untuk berdoa di bawah patung dewa raksasa.
Diyakini bahwa para janda telah berkumpul di kota itu sejak Chaitanya Mahaprabhu, tokoh reformis sosial Bengali abad ke-16, membawa sekelompok dari mereka ke sana untuk melarikan diri dari suttee.
Suttee merupakan praktik yang sekarang dilarang, di mana para janda Hindu membakar diri mereka sendiri di atas tumpukan kayu pemakaman suami mereka.
Selama bertahun-tahun, para janda di Vrindavan, yang dianggap sebagai rumah masa kanak-kanak dewa Hindu Krishna, bertahan hidup dengan menyanyikan lagu-lagu kebaktian di kuil-kuil.
Dengan menyanyikan lagu-lagu puja dewa itu mereka mendapat uang beberapa rupee sehari. Mereka pun mengemis uang dengan memakai baju sari putih.
Warna putih itu penanda bahwa warna telah hilang dari kehidupan mereka.
Tunawisma adalah hal biasa di antara para janda Vrindavan. Beberapa janda tinggal di ambang pintu.
Ketika para janda itu meninggal, pemulung sampah terkadang memasukkan tubuh mereka ke dalam kantong goni dan membuangnya ke Sungai Yamuna, menurut laporan media setempat.
Lihat Juga :