Inilah Penyebab Rusia dan Ukraina di Ambang Perang

Sabtu, 22 Januari 2022 - 00:55 WIB
loading...
A A A
Kelompok separatis di Donetsk dan Luhansk juga memisahkan diri dari Ukraina dengan masing-masing mendirikan "Republik Rakyat" yang otoriter dan lemah secara ekonomi.

Kedua wilayah itu menerapkan kembali hukuman mati. Mereka menjalankan lusinan kamp konsentrasi di mana para pembangkang disiksa dan dieksekusi.

Profesor Ihor Kozlovsky dari Universitas Negeri Donetsk menghabiskan hampir 700 hari di kamp konsentrasi serta penjara, dan mengatakan dia disiksa oleh separatis dan perwira Rusia yang menceritakan kembali klaim Putin tentang “peradaban Rusia”.

“Perwira itu mengatakan kepada saya, 'Tidak ada negara, adanya peradaban, dan dunia Rusia adalah peradaban, dan bagi siapa pun yang pernah menjadi bagian darinya, tidak peduli Anda menyebutnya apa, Tatar atau Ukraina, Anda tidak ada,'” katanya kepada Al Jazeera.

Perang dan cara para separatis menyalahgunakan lawan-lawan mereka serta salah mengatur ekonomi “republik” mereka, mendinginkan sentimen pro-Rusia di Ukraina.

“Secara paradoks, Rusia membantu memperkuat rasa kebangsaan Ukraina yang menurut beberapa politisi Rusia tidak benar-benar ada,” kata Ivar Dale, penasihat kebijakan senior di Komite Helsinki Norwegia, lembaga pengawas hak asasi manusia (HAM), kepada Al Jazeera.

Konflik berubah menjadi perang terpanas di Eropa. Ini telah menewaskan lebih dari 13.000 dan jutaan mengungsi.

Pada tahun 2014, militer Ukraina kekurangan perlengkapan dan demoralisasi, sementara separatis memiliki “konsultan” dan persenjataan Rusia.

Namun, hari ini, Ukraina jauh lebih kuat secara militer dan moral, dan ribuan sukarelawan yang membantu mengusir separatis siap untuk melakukannya lagi.

“Sebagai seorang veteran, saya selalu siap untuk bergabung kembali dengan militer untuk membela Ukraina jika terjadi invasi,” kata Roman Nabozhniak, yang secara sukarela memerangi separatis pada tahun 2014 dan menghabiskan 14 bulan di garis depan, kepada Al Jazeera.

Ukraina membeli atau menerima persenjataan canggih dari Barat dan Turki, termasuk rudal Javelin yang terbukti mematikan bagi tank separatis, dan drone Bayraktar yang memainkan peran penting dalam perang tahun lalu antara Azerbaijan dan Armenia.

Pemakzulan pertama mantan Presiden AS Donald Trump dipicu oleh penangguhan bantuan militer dan ekspor senjata ke Kiev. Penggantinya Joe Biden mungkin mengirim senjata mematikan dan penasihat dalam beberapa minggu mendatang.

Sementara itu, Ukraina telah mendorong pembangunan domestik dan produksi senjata– beberapa di antaranya sama efektifnya dengan persenjataan Barat.

Terlepas dari alasan ideologis dan politik, Putin telah mati-matian mencari keanggotaan Ukraina dalam blok perdagangan bebas yang didominasi Moskow yang diluncurkan pada tahun 2000.

Masyarakat Ekonomi Eurasia (EAEC) menyatukan beberapa bekas republik Soviet dan secara luas dipandang sebagai langkah pertama untuk mereinkarnasi Uni Soviet.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Anggaran Perang AS Membengkak,...
Anggaran Perang AS Membengkak, Pakar Militer Ini Sebut Pentagon Kurang Transparan
Sistem Pertahanan Udara...
Sistem Pertahanan Udara Sudah Diaktifkan, tapi Belum Ada Serangan AS ke Teheran
Presiden Zelensky Pecat...
Presiden Zelensky Pecat Panglima Militer Ukraina, Rusia Untung Besar!
6 Misi Pasukan Khusus...
6 Misi Pasukan Khusus yang Memicu Malapetaka, 2 Negara Adidaya Pernah Tumbang
Iran Lebih Suka Bombardir...
Iran Lebih Suka Bombardir Negara-negara Arab Dibandingkan Kapal Induk AS, Ini 5 Alasannya
Zelensky Ditekan untuk...
Zelensky Ditekan untuk Pecat Jenderal Tertinggi Ukraina di Tengah Perang Melawan Rusia
Eropa Mulai Terbelah,...
Eropa Mulai Terbelah, Enam Negara Tolak Sanksi Baru terhadap Rusia
Korban Tewas Gempa Venezuela...
Korban Tewas Gempa Venezuela Meningkat Jadi 5.208 Orang, 16.740 Luka-Luka
AS Habiskan Rp671 Triliun...
AS Habiskan Rp671 Triliun untuk Perang Lawan Iran, Minta Tambahan Anggaran Lagi
Rekomendasi
Riau Bhayangkara Run...
Riau Bhayangkara Run 2026 Ciptakan Efek Ekonomi Rp58,9 Miliar
Airlangga Sangkal PFII...
Airlangga Sangkal PFII Jadi Surga Pencucian Uang: Bukan untuk Dana-dana Gelap
Cara Hapus Objek Mengganggu...
Cara Hapus Objek Mengganggu di Foto dengan Galaxy S26 Series
Berita Terkini
Trump Setujui Arab Saudi...
Trump Setujui Arab Saudi Perkaya Uranium, Mungkinkan Riyadh Memiliki Bom Nuklir?
Gunakan Semut Jadi Hiasan...
Gunakan Semut Jadi Hiasan Makanan, Pemilik Restoran Berbintang Michelin Ini Dipenjara
Apa Itu Kokushobi? Cuaca...
Apa Itu Kokushobi? Cuaca Ekstrem yang Terjadi Pertama Kalinya di Jepang
Anggaran Perang AS Membengkak,...
Anggaran Perang AS Membengkak, Pakar Militer Ini Sebut Pentagon Kurang Transparan
Sistem Pertahanan Udara...
Sistem Pertahanan Udara Sudah Diaktifkan, tapi Belum Ada Serangan AS ke Teheran
CIA Akui Agresi AS ke...
CIA Akui Agresi AS ke Iran Gagal Total, Ini 4 Indikatornya
Infografis
5 Kapal Perang Paling...
5 Kapal Perang Paling Canggih di ASEAN
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved