Kapal Perang Denmark Gabung NATO di Laut Baltik, Tensi Rusia-Barat Naik

Rabu, 19 Januari 2022 - 14:02 WIB
loading...
Kapal Perang Denmark...
Kapal perang Denmark, HDMS Peter Willemoes. Foto/seaforces.org
A A A
KOPENHAGEN - Misi kapal perang Denmark, HDMS Peter Willemoes dengan 160 awak, digambarkan sebagai pemantauan dan menghalangi aktivitas Rusia di Laut Baltik.

Pakar militer menyebut Laut Baltik sebagai "halaman belakang Denmark sendiri".

Kapal fregat HDMS Peter Willemoes akan bergabung dengan armada NATO di Laut Baltik sebagai bagian dari kontribusi negara itu untuk aliansi.

Baca juga: Rusia Sebut NATO Bangun Pasukan di Dekat Belarusia

Fregat akan dilengkapi empat pesawat F-16 dan 70 tentara untuk mendukung misi kesiapsiagaan NATO di wilayah Laut Baltik.

Baca juga: Peretas Korut Dituduh Serang Rusia, Termasuk Kedubes di Indonesia

“Langkah ini diputuskan setelah NATO secara khusus menuntut peningkatan kontribusi,” ungkap Menteri Pertahanan (Menhan) Denmar Trine Bramsen, dilansir Sputnik pada Rabu (19/1/2022).

Baca juga: Misi Antariksa NASA Terancam Berantakan karena Kekurangan Astronot

Misi tersebut akan memiliki fokus khusus pada negara-negara Baltik. Menurut Angkatan Laut Denmark, tugas untuk fregat terutama akan terdiri dari menunjukkan kehadirannya, kedekatan dan solidaritasnya dengan seluruh aliansi NATO.

“Namun, karena pengerahan itu terjadi di tengah ketegangan antara Rusia dan Barat, kapal itu akan mengamati aktivitas Rusia di Laut Baltik dan mencegah Rusia meningkatkan konflik dengan Ukraina,” papar pakar militer Anders Puck Nielsen pada Radio Denmark.

Menurut Anders Puck Nielsen yang merupakan kapten angkatan laut dan analis militer di Akademi Pertahanan, kehadiran angkatan laut NATO yang meningkat di Laut Baltik harus dilihat dari dua hal.

“Pertama, idenya adalah untuk mengirim beberapa sinyal yang jelas ke Rusia dan negara-negara Baltik bahwa kita berdiri bersama di NATO, dan bahwa seluruh situasi ini sebenarnya hanya membuat kita bergerak lebih dekat bersama,” ujar dia.

“Kedua, ada tugas militer yang sangat spesifik, pengawasan, kemungkinan pencegahan, dan kemampuan mempertahankan kehadiran jika Rusia tiba-tiba meningkatkan kehadiran militer mereka di Laut Baltik,” papar Nielsen kepada Radio Denmark.

Sambil menekankan bahwa "operasi langsung" seperti itu sampai saat ini hanya terjadi di perairan yang jauh, Nielsen mengklaim misi HDMS Peter Willemoes tidak agresif dan Denmark berlayar di halaman belakangnya sendiri.

Kapten Henrik Kim Schjoldager yang memimpin kapal fregat itu mengakui "ketegangan politik" yang mendasarinya, tetapi menggambarkan misi itu sebagai misi "bisnis seperti biasa".

“The Willemoes, sebagai unit yang siap tugas, siap menyelesaikan tugas di seluruh spektrum konflik,” ujar Schjoldager mengatakan kepada Radio Denmark.

Dia menambahkan, “Itu dapat mengatasi upaya di ujung atas spektrum konflik, yang merupakan perang angkatan laut konvensional, tetapi juga sampai ke ujung bawah dengan penyelamatan laut dan bantuan untuk lalu lintas maritim lainnya.”

Pengerahan fregat Denmark sebagai bagian dari misi NATO datang setelah meningkatnya ketegangan antara Rusia dan aliansi tersebut setelah krisis Ukraina pada 2014, ketika pasukan yang didukung Barat menggulingkan pemerintah terpilih di Kiev.

Kudeta mendorong Krimea memisahkan diri dan bergabung kembali dengan Rusia setelah referendum. Situasi ini juga memicu konflik sipil di Ukraina timur.

(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
10 Mata-mata Perang...
10 Mata-mata Perang Dingin yang Tak Pernah Takut Mati
Putin: Negara-negara...
Putin: Negara-negara Barat Secara Terbuka Mengatakan Mereka Bersiap Perangi Rusia
Tegang dengan NATO,...
Tegang dengan NATO, Pesawat Pengebom Nuklir Rusia Berkeliaran di Arktik
Trump Ancam Tak Tolong...
Trump Ancam Tak Tolong Negara-negara NATO karena Tolak Bantu AS Melawan Iran
Hongaria Bersihkan Jaringan...
Hongaria Bersihkan Jaringan Viktor Orban, Ini 3 Alasan Rusia Akan Kehilangan Aliansi Utama
Rusia Tuding NATO Akan...
Rusia Tuding NATO Akan Gelar Operasi Barbarossa Hitler pada 2030, Apakah Akan Berhasil?
Teken Kerja Sama Hukum,...
Teken Kerja Sama Hukum, Indonesia dan Rusia Perkuat Mutual Legal Assistance
PM Inggris Keir Starmer...
PM Inggris Keir Starmer Umumkan Pengunduran Diri
AS Tak Akan Usik Program...
AS Tak Akan Usik Program Rudal Balistik Iran dalam Perundingan
Rekomendasi
Program Binawan Eropa...
Program Binawan Eropa Antarkan 36 Perawat Indonesia Berkarier di Eropa
Maroko Temani Brasil...
Maroko Temani Brasil ke Babak 32 Besar Piala Dunia 2026, Haiti Tersingkir
Perjuangkan Hak Daerah,...
Perjuangkan Hak Daerah, Komisi XI DPR Upayakan TKD Tak Berkurang
Berita Terkini
Demi Lindungi Negara-negara...
Demi Lindungi Negara-negara Arab, AS Janjikan Perdamaian Abadi dengan Iran
Seluruh WNI di Venezuela...
Seluruh WNI di Venezuela Aman, Gedung KBRI di Caracas Tidak Rusak
Badan Intelijen AS Kehilangan...
Badan Intelijen AS Kehilangan Akses ke Alat AI Mythos 5, Apa Pemicunya?
LineShine Jadi Superkomputer...
LineShine Jadi Superkomputer Tercepat di Dunia, China Mampu Kalahkan AS
Venezuela Diguncang...
Venezuela Diguncang Gempa M7,2 Berturut-turut, Korban Tewas Diperkirakan Ribuan Orang
AS dan Israel Jadi Sumber...
AS dan Israel Jadi Sumber Kerusakan, Iran Serukan Tatanan Baru Negara Islam
Infografis
Kehadiran Tentara NATO...
Kehadiran Tentara NATO di Ukraina Berarti Perang Habis-habisan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved