Wabah Virus Corona di Wuhan Diduga Terjadi Awal Agustus
Selasa, 09 Juni 2020 - 15:29 WIB
loading...
A
A
A
"Temuan ini juga menguatkan hipotesis bahwa virus muncul secara alami di China selatan dan berpotensi sudah beredar pada saat gugus Wuhan," ucapnya.
Dikatakan oleh Brownstein bawah sangat mudah untuk kehilangan tanda-tanda awal pandemi.
"Jika hal yang sama terjadi di AS, sangat mungkin bahwa kita dapat melewatkan sinyal-sinyal ini juga. Jadi saya pikir itu semua tentang gagasan bahwa kita perlu memperkuat upaya kesehatan masyarakat kita dan juga memperkuat pengawasan kesehatan masyarakat kita," ujarnya.
Amerika Serikat (AS) menemukan pada awal Januari bahwa epidemi berbasis pernafasan menyebar melalui Wuhan, tetapi memakan waktu berminggu-minggu sebelum kasus pertama diidentifikasi di AS di Seattle dan pemerintah federal mulai mengambil tindakan apa pun.
"Kami juga menghadapi tantangan dari kurangnya pengujian di negara ini, jadi sinyal mungkin hilang di sini, juga, bahwa transmisi sedang terjadi dan kami juga tidak mengetahuinya," kata Brownstein.
Menurut data dari Johns Hopkins University lebih dari 7 juta orang di dunia telah terinfeksi virus mematikan ini, dengan lebih dari 404.000 berujung kematian. Khusus di AS tercatat lebih dari 110.000 kematian.
Dikatakan oleh Brownstein bawah sangat mudah untuk kehilangan tanda-tanda awal pandemi.
"Jika hal yang sama terjadi di AS, sangat mungkin bahwa kita dapat melewatkan sinyal-sinyal ini juga. Jadi saya pikir itu semua tentang gagasan bahwa kita perlu memperkuat upaya kesehatan masyarakat kita dan juga memperkuat pengawasan kesehatan masyarakat kita," ujarnya.
Amerika Serikat (AS) menemukan pada awal Januari bahwa epidemi berbasis pernafasan menyebar melalui Wuhan, tetapi memakan waktu berminggu-minggu sebelum kasus pertama diidentifikasi di AS di Seattle dan pemerintah federal mulai mengambil tindakan apa pun.
"Kami juga menghadapi tantangan dari kurangnya pengujian di negara ini, jadi sinyal mungkin hilang di sini, juga, bahwa transmisi sedang terjadi dan kami juga tidak mengetahuinya," kata Brownstein.
Menurut data dari Johns Hopkins University lebih dari 7 juta orang di dunia telah terinfeksi virus mematikan ini, dengan lebih dari 404.000 berujung kematian. Khusus di AS tercatat lebih dari 110.000 kematian.
(ian)
Lihat Juga :