Pangeran Arab Saudi Meninggal Diduga karena Covid-19
Selasa, 09 Juni 2020 - 09:07 WIB
loading...
Pangeran Saud bin Abdullah bin Faisal bin Abdulaziz al-Saud dari Kerajaan Arab Saudi. Foto/eg24.news
A
A
A
RIYADH - Seorang pangeran Kerajaan Arab Saudi , Saud bin Abdullah bin Faisal bin Abdulaziz al-Saud, meninggal pada 2 Juni 2020. Sebuah laporan media Timur Tengah menyatakan sang pangeran meninggal diduga terkait infeksi virus corona SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 .
Sehari setelah kematian Pangeran Saud, seorang sumber medis mengungkapkan bahwa beberapa anggota keluarga kerajaan sedang menjalani perawatan di rumah sakit dan di vila pribadi mereka. Kondisi kesehatan mereka dilaporkan memburuk yang diduga akibat terpapar virus tersebut.
Laman Saudi Leaks melaporkan Dr Nezar Bahabri—dokter terkemuka Arab Saudi dan konsultan penyakit menular—membenarkan bahwa lebih dari 1.200 kasus infeksi virus korona kritis sedang dirawat di kerajaan dengan ventilator.
“Situasi di Jeddah dan Riyadh sangat memprihatinkan. Kami tidak mengharapkan kasus kritis mencapai angka ini," kata Bahabri dalam sebuah video.
"Saya selalu optimistis dan menyerukan agar tidak khawatir tentang peningkatan jumlah, tetapi pada saat ini, jumlah kasus kritis tidak melebihi beberapa ratus," ujarnya, sebagaimana dikutip dari Middle East Monitor, Selasa (9/6/2020).
Sehari setelah kematian Pangeran Saud, seorang sumber medis mengungkapkan bahwa beberapa anggota keluarga kerajaan sedang menjalani perawatan di rumah sakit dan di vila pribadi mereka. Kondisi kesehatan mereka dilaporkan memburuk yang diduga akibat terpapar virus tersebut.
Laman Saudi Leaks melaporkan Dr Nezar Bahabri—dokter terkemuka Arab Saudi dan konsultan penyakit menular—membenarkan bahwa lebih dari 1.200 kasus infeksi virus korona kritis sedang dirawat di kerajaan dengan ventilator.
“Situasi di Jeddah dan Riyadh sangat memprihatinkan. Kami tidak mengharapkan kasus kritis mencapai angka ini," kata Bahabri dalam sebuah video.
"Saya selalu optimistis dan menyerukan agar tidak khawatir tentang peningkatan jumlah, tetapi pada saat ini, jumlah kasus kritis tidak melebihi beberapa ratus," ujarnya, sebagaimana dikutip dari Middle East Monitor, Selasa (9/6/2020).
Lihat Juga :