NAAS, Partai Oposisi yang Ingin Bebaskan Arab Saudi dari Dinasti al-Saud
Sabtu, 04 Desember 2021 - 10:49 WIB
loading...
A
A
A
Yahya Assiri adalah Sekretaris Jenderal NAAS. Madawi al-Rasheed sebagai juru bicara. Selain keduanya, deklarasi pendirian partai juga ditandatangani oleh Ahmed Almshikhs, Saeed al-Ghamdi, Abdullah al-Ouda (putra cendekiawan Salman al-Ouda) dan Omar Al-Zahrani.
Madawi al-Rasheed dan Abdullah al-Ouda—yang juga direktur penelitian untuk Gulf Region di Democracy for the Arab World Now (DAWN), pernah menuliskan opini mereka di Washington Post tentang NAAS.
Menurut mereka, NAAS didirikan oleh sekelompok orang buangan berbasis di Inggris, Amerika Serikat, Kanada dan di tempat lain. NAAS, lanjut mereka, merupakan partai yang berakar pada prinsip-prinsip demokrasi yang berusaha memulihkan hak-hak dasar masyarakat Saudi, seperti kebebasan berbicara, akuntabilitas, pemilihan umum, dan penghormatan terhadap hukum internasional.
"Kami menganggapnya sebagai masalah mendesak untuk memecah keheningan atas represi domestik rezim Saudi yang sedang berlangsung dan pelanggaran norma-norma internasional," tulis mereka.
Kedua pentolan NAAS itu menyoroti dua tahun setelah pembunuhan brutal terhadap jurnalis pembangkang Jamal Khashoggi, di mana Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MBS) mereka sebut terus memerintah dengan pedang.
Baca jugaa: Gabungan 4.000 Pangeran, Kekayaan Keluarga Kerajaan Arab Saudi Kalahkan Orang Terkaya Sejagat
Dari penahanan para aktivis, feminis dan intelektual di Arab Saudi dan penganiayaan para kritikus di luar negeri, hingga perang Saudi yang telah berlangsung selama lima tahun di Yaman, rezim al-Saud terus lolos dari pembunuhan. Sementara itu, masyarakat sipil Saudi yang lemah dan ketakutan tetap kehilangan hak untuk menentang penindasan dengan cara damai, dan kepuasan serta keterlibatan beberapa aktor internasional telah menguatkan MBS.
Madawi al-Rasheed dan Abdullah al-Ouda—yang juga direktur penelitian untuk Gulf Region di Democracy for the Arab World Now (DAWN), pernah menuliskan opini mereka di Washington Post tentang NAAS.
Menurut mereka, NAAS didirikan oleh sekelompok orang buangan berbasis di Inggris, Amerika Serikat, Kanada dan di tempat lain. NAAS, lanjut mereka, merupakan partai yang berakar pada prinsip-prinsip demokrasi yang berusaha memulihkan hak-hak dasar masyarakat Saudi, seperti kebebasan berbicara, akuntabilitas, pemilihan umum, dan penghormatan terhadap hukum internasional.
"Kami menganggapnya sebagai masalah mendesak untuk memecah keheningan atas represi domestik rezim Saudi yang sedang berlangsung dan pelanggaran norma-norma internasional," tulis mereka.
Kedua pentolan NAAS itu menyoroti dua tahun setelah pembunuhan brutal terhadap jurnalis pembangkang Jamal Khashoggi, di mana Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MBS) mereka sebut terus memerintah dengan pedang.
Baca jugaa: Gabungan 4.000 Pangeran, Kekayaan Keluarga Kerajaan Arab Saudi Kalahkan Orang Terkaya Sejagat
Dari penahanan para aktivis, feminis dan intelektual di Arab Saudi dan penganiayaan para kritikus di luar negeri, hingga perang Saudi yang telah berlangsung selama lima tahun di Yaman, rezim al-Saud terus lolos dari pembunuhan. Sementara itu, masyarakat sipil Saudi yang lemah dan ketakutan tetap kehilangan hak untuk menentang penindasan dengan cara damai, dan kepuasan serta keterlibatan beberapa aktor internasional telah menguatkan MBS.
Lihat Juga :