Diduga Korban Rasisme, 3 Pengusaha China Dibunuh dan Dibakar di Zambia

Minggu, 07 Juni 2020 - 20:43 WIB
loading...
A A A
“Orang-orang Zambia merasa bahwa Chinaperlahan-lahan mengambil kendali atas tanah dan urusan mereka, dan bahwa China sekarang menerima perlakuan istimewa dari para pejabat pemerintah,” kata Haggai. “Kami telah melihat banyak orang China memperoleh tanah yang luas."

Pengaruh China adalah masalah penangkal petir politik di negara itu. Pada tahun 2018, seorang politisi dari Lusaka mengusulkan untuk membangun sebuah kota di China, di mana para ekspatriat China akan membatasi diri untuk melakukan bisnis kecil mereka, setelah orang-orang Zambia mengeluh bahwa orang asing terlibat dalam perdagangan mereka seperti beternak ayam dan menjalankan restoran dan ruang santai, yang secara tradisional domain mereka.

Sebelum itu, pada tahun 2006, mendiang politisi Zambia; Michael Sata, mengklaim bahwa 80.000 orang China "menyerang" Zambia ketika dia mencalonkan diri sebagai presiden dengan kampanye xenophobia, yang menyebabkan serangan rasial di tempat kerja yang dipimpin oleh orang China. Pedagang China kala itu harus memblokade toko mereka dari serangan penjarah. Jumlah sebenarnya orang China di negara ini jauh lebih rendah.

Sata pernah mengancam untuk mengakui Taiwan sebagai negara merdeka sebelum menjabat, ketika dia akhirnya menjadi presiden pada upaya keempatnya pada tahun 2011. Faktanya, dia memeluk China sebagai "teman sepanjang masa Zambia" dan mengabaikan janji kampanyenya.

Wali Kota Sampa adalah keponakan Sata, dan dia kemungkinan mengerti betapa sulitnya garis keras tentang China akan bermain dengan para pemilih dalam pemilu.

Pada saat ketegangan rasial global meningkat, Haggai mengatakan Sampa harus berhati-hati dalam bahasa yang dia gunakan ketika berbicara tentang kehadiran orang China untuk menghindari peningkatan xenophobia.

“Tentu saja, dia memiliki mandat dan tanggung jawab untuk memeriksa apa yang terjadi di perusahaan dan pabrik di wilayah yurisdiksinya, tetapi dia harus berhati-hati dengan apa yang dia katakan karena itu telah menjadi masalah yang sangat sensitif yang dapat memicu kebencian terhadap orang China," katanya.

Setelah diperingatkan untuk tetap berada di jalurnya oleh pejabat pemerintah pusat, yang mungkin menyadari ketergantungan ekonomi Zambia pada China, Sampa telah meminta maaf kepada komunitas China.

Dia berkata; "Saya ingin meminta maaf sepenuh hati...atas nada dan bahasa yang digunakan sehubungan dengan salah satu warga negara mereka, terutama penggunaan kata 'Chinaman'. Saya tidak tahu sampai sekarang bahwa ini adalah istilah yang merendahkan, tetapi sejak itu mereka telah mengajukan keluhan resmi terhadap penggunaan kata tersebut."

“Akhirnya, saya ingin meyakinkan semua investor asing di kota Lusaka bahwa kantor saya ada di sana untuk mendukung bisnis mereka 100 persen...kami akan melibatkan mereka dengan cara yang lebih sipil melalui kantor dan lembaga terkait," katanya.

Sebuah Peringatan

Ratusan orang berkumpul di tempat pembunuhan di Lusaka pada hari Senin untuk menyampaikan belasungkawa kepada para migran China yang kehilangan nyawa mereka. Orang-orang Zambia dan China berdiri berdampingan, mengenakan masker wajah, sambil berduka atas kematian.

Menurut Eric Shen, pengusaha Lusaka yang merupakan pemimpin upacara, pekerja tekstil Zambia mengatakan beberapa patah kata, yang kemudian sambutan kolega ekspatriat China.

Menurut para teman, Cao dan suaminya telah berada di Zambia selama sekitar 20 tahun dan dari gudang mereka mereka menjual tekstil, tempat tidur dan pakaian yang mereka impor dari Nantong, daerah asal mereka, China, yang terkenal dengan produksi tekstilnya.

Duta Besar Zambia untuk China Winnie N. Chibesakunda mengatakan kepada tabloid yang dikelola pemerintah The Global Times bahwa Zambia akan memperkuat langkah-langkah untuk melindungi kehidupan orang-orang China yang tinggal di negara itu. Pada Oktober 2015, tiga orang China terbunuh dalam perampokan di Kitwe, dan pada November 2017, seorang warga negara China meninggal dalam perampokan bersenjata di sabuk tembaga.

"Pemerintah Republik Zambia telah meluncurkan penyelidikan untuk membawa para pelaku tindakan mengerikan ini ke pengadilan dan akan berusaha untuk terus memperkuat langkah-langkah untuk melindungi kehidupan orang-orang China yang tinggal di Zambia," katanya.

Pihak berwenang Zambia telah menangkap dua pria dan seorang wanita yang diduga melakukan pembunuhan.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Zhao Lijian mengatakan pembunuhan itu adalah kasus yang terpisah. "Yang tidak akan memengaruhi arus utama kerja sama persahabatan antara China dan Zambia," katanya.

Shen, pengusaha yang berbasis di Lusaka, menyimpulkan; "Kegiatan kriminal semacam ini dapat terjadi di mana saja, di mana saja, kapan saja di dunia." Dia mengatakan komunitas China berusaha untuk tidak menghubungkan pembunuhan dengan kebangkitan sentimen anti-China di tempat di mana banyak orang memilih untuk pulang.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Pertama Kalinya, China...
Pertama Kalinya, China Pamer Peluncuran Rudal Hipersonik Dongfeng-17 sebagai Pesan untuk AS
Studi: Surplus Ekspor...
Studi: Surplus Ekspor China Kian Tekan Peluang Industri Negara Berkembang
AS Berencana Bangun...
AS Berencana Bangun Persediaan Senjata Siap Tempur di Australia
China Tangkap 2 Pemimpin...
China Tangkap 2 Pemimpin Gereja Bawah Tanah yang Berpengaruh, Apa Pemicunya?
Kunjungi Pyongyang,...
Kunjungi Pyongyang, Xi Jinping Diduga Berusaha Redam Pengaruh Rusia atas Korut
Tiru Israel, Taiwan...
Tiru Israel, Taiwan Gunakan AI untuk Rekrut Informan dan Whistleblower China
Standar Keselamatan...
Standar Keselamatan Kendaraan Listrik Baru China Lebih Ketat!
Jelang Penandatanganan...
Jelang Penandatanganan di Jenewa, AS Rahasiakan Nota Kesepahaman Iran dari Israel
Kisah Anjing Lucu Curi...
Kisah Anjing Lucu Curi Perhatian selama Piala Dunia 2026, Punya Arti Spesial buat Pemiliknya
Rekomendasi
Runtuhkan Dolar AS,...
Runtuhkan Dolar AS, Putin Kumpulkan 11 Pemimpin ASEAN Termasuk Indonesia
Pabrik Karet di Tangerang...
Pabrik Karet di Tangerang Kebakaran Sejak Semalam, Sudah 9 Jam Api Masih Berkobar
Dibayangi Outflow Rp4,5...
Dibayangi Outflow Rp4,5 Triliun, IHSG Pekan Ini Diprediksi Bergerak Fluktuatif
Berita Terkini
Jenderal Iran Peringatkan...
Jenderal Iran Peringatkan Pasukan Israel: Tinggalkan Lebanon atau Diusir Secara Memalukan!
Pertama Kalinya, China...
Pertama Kalinya, China Pamer Peluncuran Rudal Hipersonik Dongfeng-17 sebagai Pesan untuk AS
Yordania Gantung 6 Orang...
Yordania Gantung 6 Orang atas Tuduhan Terorisme
Aktor Breaking Bad Giancarlo...
Aktor 'Breaking Bad' Giancarlo Esposito Masuk Islam saat Syuting di Arab Saudi
Iran Jawab Ancaman Trump:...
Iran Jawab Ancaman Trump: AS Sebaiknya Berhati-hati!
Trump Ancam Serang Iran...
Trump Ancam Serang Iran Sangat Keras Jika Tak Kendalikan Hizbullah!
Infografis
Perbandingan Gaji Tentara...
Perbandingan Gaji Tentara AS dengan Rusia, China, dan Inggris
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved