Diduga Korban Rasisme, 3 Pengusaha China Dibunuh dan Dibakar di Zambia

Minggu, 07 Juni 2020 - 20:43 WIB
loading...
A A A
Dalam video itu, seorang manajer China menjawab, “Kami tidak mengizinkan mereka pulang karena masalah corona."

Sampa menjawab, “Orang China...(tidak ada) alasan untuk memperbudak mereka."

Pada hari yang sama, Sampa mengunjungi pabrik semen, di mana dia mengatakan bahwa para pekerja telah ditahan selama dua bulan.

Ketika seorang bos China menjelaskan dalam video yang di-posting Sampa di Facebook bahwa, di pabrik, semua pekerja tidak bisa keluar. Sampa menjawab; “Itu ilegal. Anda menyandera mereka. Ini adalah perbudakan."

Seorang pekerja semen Zambia mengatakan kepada CNN; “Atasan kami (warga China) telah meminta kami untuk tinggal dan bekerja dari sini sampai virus corona berakhir, karena mereka takut bahwa kami akan membuat paparan virus ke masyarakat dan bahwa kami tidak membawanya ke tempat kerja kami."

Wali Kota Lusaka Miles Sampa menanyai staf di pabrik semen Zambia tentang laporan bahwa 100 pekerja Zambia dilarang meninggalkan lokasi selama pandemi Covid-19. "Tapi mereka memberi kami makanan, jaring anti-nyamuk, dan kasur tempat kami tidur. Kami tidur seperti di kamp...tetapi beberapa rekan kami yang menolak telah diberhentikan dan mereka akan mengajukan permohonan kembali setelah perusahaan dibuka lagi," kata seorang pekerja yang tidak disebutkan namanya.

Pegawai Zambia lainnya dari perusahaan yang sama mengatakan bahwa bosnya dari China mengancam akan memukulnya jika dia menolak untuk tinggal. “Kami dipaksa oleh bos China kami dan mereka mengancam akan memukul Anda jika Anda menolak. Ini adalah bagaimana sebagian dari kita melarikan diri—saat ini, kami hanya ingin pemerintah membantu kami mengklaim upah kami yang belum dibayar," ujarnya, yang juga menolak diidentifikasi.

Ketika CNN menghubungi pabrik, seorang staf yang menolak untuk menyebutkan namanya membantah tuduhan melakukan kesalahan.

"Kami tidak mengambil mereka (sebagai) tahanan—kami hanya melindungi mereka dari penyakit corona ini," katanya. “Pekerja dibayar lebih untuk tidur di pabrik."

Dia tidak akan mengatakan jumlah upah tambahan yang diberikan, tetapi seorang karyawan mengatakan pekerja biasanya dibayar 1.600 kwacha Zambia (USD95) per bulan.

Bara Lama yang Dihidupkan Kembali

Kehadiran China di Zambia telah menjadi kontroversi selama beberapa dekade.

Pada tahun 2005, sebuah ledakan di tambang dekat Chambeshi, sebuah kota di sabuk tembaga Zambia, telah menewaskan puluhan pekerja Zambia. Lima tahun kemudian, dua manajer China menembaki pekerja Zambia yang memprotes kondisi kerja yang buruk di tambang batubara Collum. Pada 2012, pekerja Zambia membunuh seorang supervisor China di tambang yang sama.

Insiden ini telah menarik perhatian media di seluruh dunia dan sering disajikan sebagai bukti standar tenaga kerja China yang buruk—tidak hanya di Zambia tetapi di seluruh benua Afrika.

"Jadi ketika masalah mengarantina pekerja Zambia oleh bos China muncul selama pandemi Covid-19, itu menghidupkan kembali beberapa luka lama orang-orang terhadap majikan China," kata Kanenga Haggai, dosen senior di Department of Development Studies di University of Zambia dan kandidat PhD di Southeast University di China.

"Jika tidak dikelola dengan baik, itu berisiko merusak hubungan China dengan Zambia di tingkat rakyat," katanya lagi.

Hari ini, China melakukan lebih banyak perdagangan dengan Zambia daripada negara lain di Afrika kecuali Kenya. Pada 2018, perdagangan bilateral melebihi USD5 miliar.

Namun, ketika ekspor Zambia ke China cukup besar, berkat produksi tembaga, apa yang dilihat banyak orang Zambia di lapangan adalah penetrasi China dan bisnis di negara mereka. Proyek infrastruktur besar, termasuk bandara, jalan raya, dan bendungan di Zambia, telah dibangun oleh perusahaan milik negara atau terkait China.

China juga beroperasi di sektor penambangan yang penting, seperti halnya perusahaan di negara-negara asing lainnya, dan perusahaan yang didukung Beijing. Media lokal sering menerbitkan tajuk utama yang meradang, seperti judul "Bagaimana China secara perlahan menjajah ekonomi Zambia."
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Pertama Kalinya, China...
Pertama Kalinya, China Pamer Peluncuran Rudal Hipersonik Dongfeng-17 sebagai Pesan untuk AS
Studi: Surplus Ekspor...
Studi: Surplus Ekspor China Kian Tekan Peluang Industri Negara Berkembang
AS Berencana Bangun...
AS Berencana Bangun Persediaan Senjata Siap Tempur di Australia
China Tangkap 2 Pemimpin...
China Tangkap 2 Pemimpin Gereja Bawah Tanah yang Berpengaruh, Apa Pemicunya?
Kunjungi Pyongyang,...
Kunjungi Pyongyang, Xi Jinping Diduga Berusaha Redam Pengaruh Rusia atas Korut
Tiru Israel, Taiwan...
Tiru Israel, Taiwan Gunakan AI untuk Rekrut Informan dan Whistleblower China
Standar Keselamatan...
Standar Keselamatan Kendaraan Listrik Baru China Lebih Ketat!
Jelang Penandatanganan...
Jelang Penandatanganan di Jenewa, AS Rahasiakan Nota Kesepahaman Iran dari Israel
Pesawat Air Force One...
Pesawat Air Force One Hadiah dari Qatar untuk Trump Diuji Terbang
Rekomendasi
BMKG Peringatkan Siklon...
BMKG Peringatkan Siklon Tropis Mekkhala Menguat, Wilayah Ini Berpotensi Diterjang Gelombang Tinggi
Janji Manis Investasi...
Janji Manis Investasi Rp5.323 Triliun di Balik Kesepakatan Damai AS-Iran
Pabrik Karet di Tangerang...
Pabrik Karet di Tangerang Kebakaran Sejak Semalam, Sudah 9 Jam Api Masih Berkobar
Berita Terkini
Jenderal Iran Peringatkan...
Jenderal Iran Peringatkan Pasukan Israel: Tinggalkan Lebanon atau Diusir Secara Memalukan!
Pertama Kalinya, China...
Pertama Kalinya, China Pamer Peluncuran Rudal Hipersonik Dongfeng-17 sebagai Pesan untuk AS
Yordania Gantung 6 Orang...
Yordania Gantung 6 Orang atas Tuduhan Terorisme
Aktor Breaking Bad Giancarlo...
Aktor 'Breaking Bad' Giancarlo Esposito Masuk Islam saat Syuting di Arab Saudi
Iran Jawab Ancaman Trump:...
Iran Jawab Ancaman Trump: AS Sebaiknya Berhati-hati!
Trump Ancam Serang Iran...
Trump Ancam Serang Iran Sangat Keras Jika Tak Kendalikan Hizbullah!
Infografis
3 Syarat Iran di Selat...
3 Syarat Iran di Selat Hormuz: Aturan Ketat untuk Kapal yang Melintas
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved