Ribuan Anak Afghanistan di AS Menanti Orangtua yang Tak Kunjung Datang

Senin, 15 November 2021 - 23:10 WIB
loading...
Ribuan Anak Afghanistan...
Mansoor, seorang anak Afghanistan yang berada di AS, menanti kedatangan orangtuanya. FOTO/Reuters
A A A
WASHINGTON - Seorang bocah Afghanistan , Mansoor, berhasil kabur ke Amerika Serikat (AS) ketika Taliban mengambil alih Afghanistan pada Agustus silam. Kini, Mansoor tinggal dengan aman di negara bagian Washington bersama kerabat.

Dalam kekacauan seputar penarikan pasukan AS dan evakuasi lebih dari 70.000 warga Afghanistan ke AS, Mansoor dipisahkan dari orang tua dan saudara-saudaranya. Mansoor bersama seorang kerabatnya, Shogofa.

Baca: Taliban Berkuasa, Bioskop di Afghanistan Merana Tak Lagi Bisa Putar Film

Saat mereka memasuki Bandara Kabul, terdengar suara tembakan dan militer langsung menutup gerbang di antara Mansoor dan orangtuanya. Setelah tiga hari di bandara, Mansoor naik pesawat bersama Shogofa ke AS. Mansoor berharap seluruh keluarganya bisa keluar dari Afghanistan dengan penerbangan berikutnya.

Seperti dilaporkan Reuters, Minggu (14/11/2021), Shogofa berakhir di pangkalan militer AS di New Jersey dengan dua anaknya yang masih kecil, Mansoor, dan kerabat lainnya. Setelah beberapa pekan, mereka bergabung dengan saudara perempuannya, Nilofar, yang tinggal di daerah Seattle. Orangtua Mansoor saat ini masih bersembunyi di Afghanistan karena posisi ayahnya di pemerintahan Afghanistan.

Sekarang, Mansoor lebih banyak duduk sendiri dan jarang bermain dengan anak-anak lain, kata Nilofar. Keluarga meminta hanya nama depan mereka yang dipublikasikan, untuk melindungi orang tua Mansoor dan kerabat lainnya yang masih berada di Afghanistan.

Baca: Nunggak Tagihan, Taliban Berencana Beli Listrik dari Iran

“Orangtua Mansoor kemungkinan besar menghindari ponsel karena takut dilacak oleh penguasa militan Islam yang baru,” kata Nilofar. Pada 1 November, bocah itu berbicara dengan orang tuanya untuk pertama kalinya sejak dia berpisah dari mereka pada akhir Agustus.

Mansoor termasuk di antara sekitar 1.300 anak yang dievakuasi ke AS dari Afghanistan tanpa orangtua atau wali sah mereka. Menurut Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS (HHS), yang mengawasi perawatan anak di bawah umur tanpa pendamping, angka tersebut belum pernah dilaporkan sebelumnya.

Menurut para Advokat, banyak anak Afghanistan di bawah umur yang secara tidak sengaja dipisahkan dari orangtua mereka di Kabul. Situasi rumit, ditambah dengan hambatan bahasa dan kurangnya keluarga asuh yang sesuai secara budaya bagi mereka yang tidak memiliki sponsor di AS, menciptakan masalah yang rumit bagi pemerintah AS.

Tidak ada mekanisme yang jelas untuk menyatukan kembali anak-anak yang kini berada di AS dengan orangtua mereka yang masih tertahan di luar negeri. “Pemerintahan Presiden Joe Biden sedang mencari cara untuk mempercepat masuknya orangtua yang anaknya sudah berada di AS,” ujar dua pejabat AS yang meminta anonimitas.

Baca: Taliban Klaim Telah Memiliki Pemerintahan Inklusif di Afghanistan

Tanpa jalur cepat, orangtua di luar negeri kemungkinan akan terjebak dalam tumpukan panjang warga Afghanistan yang melamar masuk AS dengan alasan kemanusiaan. Sejak Agustus 2021, pemerintah AS telah menerima lebih dari 26.000 permintaan masuk sementara dari warga negara Afghanistan di luar negeri.

Kurang dari 100 aplikasi telah disetujui bersyarat sejak 1 Juli, menurut Layanan Kewarganegaraan dan Imigrasi AS (USCIS). Warga Afghanistan harus melakukan perjalanan ke negara ketiga, bahkan untuk melamar karena kedutaan AS di Kabul ditutup.

"Tidak tahu apa yang akan terjadi pada mereka, dan kemudian juga tidak tahu apakah dan bagaimana dan kapan keluarga mereka akan melarikan diri. Dan, apakah keluarga mereka akan baik-baik saja," kata Jennifer Vanegas, pengawas pengacara Pusat Hak Imigran Michigan.
(esn)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Trump Ungkap Turki Siap...
Trump Ungkap Turki Siap Gabung Perang Bersama Iran tapi Dicegah AS
Venezuela Umumkan Keadaan...
Venezuela Umumkan Keadaan Darurat setelah Diguncang 2 Gempa Dahsyat, 32 Orang Tewas
Rugi Besar Akibat Kalah...
Rugi Besar Akibat Kalah Perang, Trump Minta Tambahan Dana Rp1.572 Triliun
Demi Lindungi Negara-negara...
Demi Lindungi Negara-negara Arab, AS Janjikan Perdamaian Abadi dengan Iran
Badan Intelijen AS Kehilangan...
Badan Intelijen AS Kehilangan Akses ke Alat AI Mythos 5, Apa Pemicunya?
LineShine Jadi Superkomputer...
LineShine Jadi Superkomputer Tercepat di Dunia, China Mampu Kalahkan AS
Trump Peringatkan Iran,...
Trump Peringatkan Iran, Tarif Selat Hormuz Tak Dapat Diterima
Israel Bom Lebanon,...
Israel Bom Lebanon, Iran Murka Bakal Kembali Tutup Selat Hormuz
2 Gempa Dahsyat M7,2-7,5...
2 Gempa Dahsyat M7,2-7,5 Guncang Venezuela, 32 Orang Tewas 700 Luka
Rekomendasi
Tanpa Kompensasi, Harga...
Tanpa Kompensasi, Harga Asli Pertamax Tembus Rp20.000 per Liter
Miyako Gelar Lomba Desain,...
Miyako Gelar Lomba Desain, Ajak Mahasiswa Berkreasi dan Dukung Pendidikan di NTT
Ekuador vs Jerman: Der...
Ekuador vs Jerman: Der Panzer Kejar Angka 12
Berita Terkini
Trump Ungkap Turki Siap...
Trump Ungkap Turki Siap Gabung Perang Bersama Iran tapi Dicegah AS
Iran Peringatkan Kapal-kapal...
Iran Peringatkan Kapal-kapal Tidak Melintasi Selat Hormuz Tanpa Izin
Korban Gempa Venezuela...
Korban Gempa Venezuela Bertambah, 164 Orang Tewas, 971 Luka-luka
Menlu Iran Bilang Hamas:...
Menlu Iran Bilang Hamas: Gaza Penting dalam Negosiasi dengan AS
Netanyahu Terpaksa Terima...
Netanyahu Terpaksa Terima Gencatan Senjata, Israel Bersiap Tarik Pasukan
PBB Ungkap Israel Bunuh...
PBB Ungkap Israel Bunuh Lebih dari 20.000 Anak Palestina
Infografis
Skuad Timnas Spanyol...
Skuad Timnas Spanyol di Piala Dunia 2026, Tak Ada Pemain Real Madrid
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved