Jenderal AS Kritik Ruwetnya Birokrasi Pentagon, China Sudah Tes Ratusan Senjata Hipersonik
Jum'at, 29 Oktober 2021 - 10:48 WIB
loading...
A
A
A
Milley menyebut ancaman rudal hipersonik China sebagai "sangat dekat" dengan apa yang dia sebut "momen Sputnik."
Sebutan itu tampaknya merujuk pada fakta Uni Soviet adalah yang pertama di dunia yang meluncurkan satelit buatan, mengambil tempat pertama dalam perlombaan luar angkasa yang benar-benar mengejutkan AS.
"Bukan hanya Amerika Serikat tetapi Amerika Serikat dan sekutu kami karena itulah hal yang benar-benar mengubah permainan," ujar Hyten.
Dia menekankan, "Jika hanya Amerika Serikat, itu akan menjadi masalah dalam lima tahun. Tetapi jika itu Amerika Serikat dan sekutu kita, saya pikir kita bisa baik untuk sementara waktu."
Pengembangan senjata hipersonik, menurut Hyten, menunjukkan perbedaan besar antara pendekatan AS dan China.
Dalam lima tahun terakhir, dia mengklaim, AS telah melakukan sembilan tes hipersonik, sedangkan "China telah melakukan ratusan."
"Satu digit versus ratusan bukanlah tempat yang baik," papar Hyten.
Dia memperingatkan, "Sekarang itu tidak berarti bahwa kita tidak bergerak cepat dalam proses pengembangan hipersonik, apa yang dikatakannya kepada Anda adalah bahwa pendekatan kita terhadap pengembangan pada dasarnya berbeda."
Secara eksplisit, sang jenderal mengecam pendekatan AS terhadap uji coba senjata baru yang gagal, membahas uji coba rudal hipersonik yang gagal pekan lalu oleh militer AS.
Saat itu, tes senjata hipersonik gagal setelah pendorong roket yang dirancang untuk mempercepat kendaraan luncur ke kecepatan hipersonik rusak.
Secara khusus, Hyten memuji pendekatan pengembangan senjata di Korea Utara (Korut), “Pemimpin Korut Kim Jong-un memutuskan tidak membunuh ilmuwan dan insinyur ketika mereka gagal, dia memutuskan mendorongnya dan membiarkan mereka belajar dari kegagalan."
Sebutan itu tampaknya merujuk pada fakta Uni Soviet adalah yang pertama di dunia yang meluncurkan satelit buatan, mengambil tempat pertama dalam perlombaan luar angkasa yang benar-benar mengejutkan AS.
"Bukan hanya Amerika Serikat tetapi Amerika Serikat dan sekutu kami karena itulah hal yang benar-benar mengubah permainan," ujar Hyten.
Dia menekankan, "Jika hanya Amerika Serikat, itu akan menjadi masalah dalam lima tahun. Tetapi jika itu Amerika Serikat dan sekutu kita, saya pikir kita bisa baik untuk sementara waktu."
Pengembangan senjata hipersonik, menurut Hyten, menunjukkan perbedaan besar antara pendekatan AS dan China.
Dalam lima tahun terakhir, dia mengklaim, AS telah melakukan sembilan tes hipersonik, sedangkan "China telah melakukan ratusan."
"Satu digit versus ratusan bukanlah tempat yang baik," papar Hyten.
Dia memperingatkan, "Sekarang itu tidak berarti bahwa kita tidak bergerak cepat dalam proses pengembangan hipersonik, apa yang dikatakannya kepada Anda adalah bahwa pendekatan kita terhadap pengembangan pada dasarnya berbeda."
Secara eksplisit, sang jenderal mengecam pendekatan AS terhadap uji coba senjata baru yang gagal, membahas uji coba rudal hipersonik yang gagal pekan lalu oleh militer AS.
Saat itu, tes senjata hipersonik gagal setelah pendorong roket yang dirancang untuk mempercepat kendaraan luncur ke kecepatan hipersonik rusak.
Secara khusus, Hyten memuji pendekatan pengembangan senjata di Korea Utara (Korut), “Pemimpin Korut Kim Jong-un memutuskan tidak membunuh ilmuwan dan insinyur ketika mereka gagal, dia memutuskan mendorongnya dan membiarkan mereka belajar dari kegagalan."
Lihat Juga :