Penjaga Kamp Konsentrasi Nazi Berusia 100 Tahun Diadili di Jerman

Kamis, 07 Oktober 2021 - 18:23 WIB
loading...
Penjaga Kamp Konsentrasi...
Josef S yang berumur 21 tahun saat jadi penjaga di kamp Sachsenhausen pada 1942, hadir di pengadilan. Foto/REUTERS
A A A
BERLIN - Tujuh puluh enam tahun setelah berakhirnya Perang Dunia Kedua, seorang mantan penjaga kamp konsentrasi Nazi Jerman (SS) diadili. Dia dituduh membantu pembunuhan 3.518 tahanan.

Sidang digelar di Sachsenhausen dekat Berlin, Jerman, pada Kamis (7/10/2021).

Mantan penjaga yang dipanggil Josef S itu dituduh terlibat dalam penembakan tawanan perang Soviet dan pembunuhan orang-orang lainnya dengan gas Zyklon B.

Baca juga: Inilah Suasana Ngeri setelah Gempa 5,7 SR Menerjang Pakistan

Waktu hampir habis bagi para penjahat era Nazi untuk diadili dan dia adalah terdakwa tertua sejauh ini yang diadili.

Baca juga: Gempa Guncang Pakistan, 20 Orang Tewas di Provinsi Balochistan

Baru dalam beberapa tahun terakhir Nazi berpangkat rendah diadili.

Baca juga: Musuh Sekaligus Pengkritik Perang Narkoba Duterte Maju Pilpres Filipina

Sepuluh tahun yang lalu, hukuman mantan pengawal SS John Demjanjuk menjadi preseden yang memungkinkan jaksa menuntut orang-orang karena membantu dan bersekongkol dengan kejahatan Nazi dalam Perang Dunia Kedua. Sampai saat itu, partisipasi langsung dalam pembunuhan harus dibuktikan.

Diidentifikasi sebagai Josef S, karena undang-undang privasi Jerman, terdakwa dibawa ke ruang olahraga yang disesuaikan secara khusus di satu penjara di Brandenburg an der Havel, tempat persidangan dimulai dengan keamanan yang ketat.

Dia tiba di pengadilan dengan kursi roda dan memegang tas kerja.

Josef S telah tinggal di daerah Brandenburg selama bertahun-tahun. Dia dilaporkan bekerja sebagai tukang kunci, dan belum berbicara secara terbuka tentang persidangan.

Pengacaranya, Stefan Waterkamp, mengatakan kepada pengadilan bahwa terdakwa tidak akan berkomentar di persidangan atas tuduhan terhadapnya. Dia akan, bagaimanapun, berbicara tentang keadaan pribadinya pada sidang Jumat.

Josef S berusia 21 tahun ketika dia pertama kali menjadi penjaga di Sachsenhausen pada 1942.

Sekarang hampir 101 tahun, dia dianggap dapat hadir di pengadilan hingga dua setengah jam sehari. Sidang akan berlangsung hingga Januari mendatang.

Jaksa penuntut umum Cyrill Klement mengatakan kepada pengadilan tentang pembunuhan sistematis di Sachsenhausen antara 1941 dan 1945. "Terdakwa mendukung ini dengan sadar dan sukarela, setidaknya dengan hati-hati melaksanakan tugas jaga, yang terintegrasi sempurna ke dalam rezim pembunuhan," papar dia.

Puluhan ribu orang tewas di kamp di Oranienburg, utara Berlin, termasuk pejuang perlawanan, pemeluk Yahudi, lawan politik, homoseksual dan tawanan perang.

Satu kamar gas dipasang di Sachsenhausen pada 1943 dan 3.000 orang dibantai di kamp saat perang hampir berakhir karena mereka dianggap "tidak layak untuk berbaris".

Persidangan Kamis sangat penting bagi 17 penggugat bersama, termasuk para penyintas Sachsenhausen.

Christoffel Heijer berusia enam tahun ketika terakhir kali melihat ayahnya, Johan Hendrik Heijer, yang merupakan salah satu dari 71 pejuang perlawanan Belanda yang ditembak mati di kamp tersebut.

"Pembunuhan bukanlah takdir, itu bukan kejahatan yang dapat dihapus secara hukum oleh waktu," ujar dia kepada Berliner Zeitung.

Leon Schwarzenbaum, yang berusia 100 tahun yang selamat dari Sachsenhausen, mengatakan, “Ini adalah pengadilan terakhir bagi teman-teman dan kenalan saya dan orang yang saya cintai yang dibunuh." Dia berharap itu akan berakhir dengan hukuman terakhir.

Meski demikian, kebanyakan penjaga kamp Nazi tidak akan diadili.
(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Menhan Negara NATO Salahkan...
Menhan Negara NATO Salahkan Trump atas Penutupan Selat Hormuz
Israel Marah setelah...
Israel Marah setelah Presiden Belarusia Samakan Pembantaian Gaza dengan Holocaust Nazi
Inggris, Prancis, Jerman,...
Inggris, Prancis, Jerman, dan Italia Siap Cabut Sanksi Teheran setelah Kesepakatan Damai AS-Iran
Jenderal Jerman Ancam...
Jenderal Jerman Ancam Serang Dahsyat Rusia: Kami Siap Bertempur Malam Ini
Jenderal Jerman Duga...
Jenderal Jerman Duga Rusia Bakal Kerahkan Senjata Nuklir ke Luar Angkasa, Bisa Picu Kiamat Satelit
Eks Kepala AL Jerman:...
Eks Kepala AL Jerman: Uni Eropa Bisa 'Berjalan Tanpa Sadar' Menuju Perang Melawan Rusia
Jamu Presiden Steinmeier,...
Jamu Presiden Steinmeier, Prabowo Sebut Jerman Jadi Inspirasi Inovasi Teknologi
Gelombang Panas Dahsyat...
Gelombang Panas Dahsyat Landa Eropa, Picu Lebih dari 200 Kematian di Spanyol dan Prancis
Paris Melarang Warganya...
Paris Melarang Warganya Minum Alkohol di Tempat Umum Mulai Hari Ini
Rekomendasi
HUT ke-499, Pramono-Rano...
HUT ke-499, Pramono-Rano Resmi Luncurkan Logo 5 Abad Jakarta
3 Prioritas Pramono...
3 Prioritas Pramono Anung Jelang 5 Abad Kota Jakarta
Boni Hargens: Peningkatan...
Boni Hargens: Peningkatan Kepercayaan Publik kepada Polri Perkuat Stabilitas Demokrasi
Berita Terkini
Finlandia Izinkan Wilayahnya...
Finlandia Izinkan Wilayahnya Jadi Lokasi Pengerahan Senjata Nuklir NATO, Rusia Terancam
Eks Menteri Zionis:...
Eks Menteri Zionis: Trump Permalukan Netanyahu dan Israel dengan Penghinaan yang Belum Pernah Terjadi Sebelumnya
3 Alasan Denmark Larang...
3 Alasan Denmark Larang Mengumandangkan Azan, Tidak Ingin Seperti Islamabad
6 Fakta NATO Jelang...
6 Fakta NATO Jelang KTT Ankara, Memiliki 3,3 Juta Prajurit dan Anggaran Militer Terbesar di Dunia
Pakar Militer Ini Ungkap...
Pakar Militer Ini Ungkap AS dan Iran Masih Berusaha Raih Klaim Kemenangan
Penasihat Mojtaba Khamenei:...
Penasihat Mojtaba Khamenei: Iran Akan Selalu Cepat dan Tegas Setiap Serangan AS
Infografis
20 Universitas Terbaik...
20 Universitas Terbaik di Indonesia Versi QS WUR 2027
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved