Kematian Global Akibat COVID-19 Capai 5 Juta Saat Varian Delta Menyapu Dunia

Minggu, 03 Oktober 2021 - 07:54 WIB
loading...
Kematian Global Akibat...
Kematian global akibat COVID-19 tembus 5 juta saat varian Delta menyapu dunia. Foto/Ilustrasi
A A A
JAKARTA - Kematian akibat COVID-19 di seluruh dunia telah melampaui angka 5 juta, menurut penghitungan Reuters, dengan orang-orang yang tidak divaksinasi secara khusus terpapar varian Delta yang mematikan.

Varian ini telah mengekspos perbedaan yang luas dalam tingkat vaksinasi antara negara-negara kaya dan miskin, dan akibat dari keraguan terhadap vaksin di beberapa negara barat.

Lebih dari setengah dari semua kematian global yang dilaporkan dalam tujuh hari rata-rata berada di Amerika Serikat, Rusia, Brasil, Meksiko, dan India.

"Sementara butuh lebih dari setahun untuk jumlah kematian COVID-19 mencapai 2,5 juta, 2,5 juta kematian berikutnya dicatat hanya dalam waktu kurang dari delapan bulan," menurut analisis Reuters, Minggu (3/10/2021).

Rata-rata 8.000 kematian dilaporkan setiap hari di seluruh dunia selama seminggu terakhir, atau sekitar lima kematian setiap menitnya. Namun, tingkat kematian global telah melambat dalam beberapa pekan terakhir.

Baca juga: Vaksin Sinovac Diakui, Warga Indonesia Bisa Masuk Australia

Amerika Serikat, yang telah berjuang melawan misinformasi vaksin yang telah menyebabkan sekitar sepertiga populasinya menghindari vaksinasi, melampaui 700.000 kematian pada hari Jumat, korban tertinggi di negara mana pun.

Kasus dan rawat inap di AS cenderung lebih rendah, tetapi pejabat kesehatan bersiap untuk kemungkinan peningkatan kasus karena cuaca yang lebih dingin memaksa lebih banyak aktivitas di dalam ruangan.

Rusia melaporkan 887 kematian terkait virus Corona pada hari Jumat, jumlah kematian satu hari terbesar yang tercatat sejak pandemi dimulai dan hari keempat berturut-turut mencatat rekor di angka itu. Hanya 33% dari populasi Rusia yang memenuhi syarat telah menerima dosis vaksin pertama.

Menurut analisis Reuters sebagai sebuah kawasan, Amerika Selatan memiliki angka kematian tertinggi di dunia, terhitung 21% dari semua kematian yang dilaporkan, diikuti oleh Amerika Utara dan Eropa Timur yang masing-masing menyumbang lebih dari 14% dari semua kematian.

Namun, India, salah satu negara pertama yang dirusak oleh varian Delta, telah berubah dari rata-rata 4.000 kematian per hari menjadi kurang dari 300 saat kampanye vaksinasi diluncurkan.

Baca juga: Australia Siap Membuka Diri Kembali pada Dunia

Analisis Reuters dari Our World in Data menunjukkan sekitar 47% dari populasi India yang memenuhi syarat telah menerima suntikan pertama, dengan pejabat memberikan sekitar 7.896.950 dosis per hari selama seminggu terakhir.

Varian Delta sekarang menjadi strain dominan di seluruh dunia dan telah dilaporkan di 187 dari 194 negara anggota Organisasi Kesehatan Dunia.

Sementara itu dalam beberapa hari terakhir ada peningkatan fokus untuk mendapatkan vaksin ke negara-negara miskin, di mana banyak orang belum menerima dosis pertama, bahkan ketika rekan-rekan mereka di belahan dunia lain yang lebih kaya mulai diberikan suntikan booster.

Menurut Our World in Data, lebih dari separuh dunia belum menerima setidaknya satu dosis vaksin COVID-19.

Organisasi Kesehatan Dunia, WHO , minggu ini mengatakan program distribusi COVAX untuk pertama kalinya akan mendistribusikan vaksin hanya ke negara-negara dengan tingkat cakupan terendah.

Baca juga: Kasus Baru dan Angka Kematian Akibat COVID-19 di Dunia Turun

Dipimpin bersama oleh WHO, COVAX sejak Januari lalu telah mengalokasikan sebagian besar dosis secara proporsional di antara 140-plus negara penerima sesuai dengan ukuran populasi.

"Untuk pasokan Oktober kami merancang metodologi yang berbeda, hanya mencakup peserta dengan sumber pasokan rendah," terang Mariangela Simao, Asisten Direktur Jenderal WHO untuk Akses Vaksin, dalam rekaman presentasi konferensi pekan lalu yang diposting di situs web WHO.
(ian)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Bagaimana Industri Farmasi...
Bagaimana Industri Farmasi Besar AS Raup Untung dari Pandemi dengan Perlakukan Warga Seperti Kelinci Percobaan?
Kepala WHO Kunjungi...
Kepala WHO Kunjungi Pusat Wabah Ebola
Disebut Calon Kuat Jadi...
Disebut Calon Kuat Jadi Direktur Jenderal WHO, Menkes Budi: Saya akan Konfirmasi
Kepala WHO Peringatkan...
Kepala WHO Peringatkan Lebih Banyak Kasus Hantavirus akan Muncul
WHO: Wabah Hantavirus...
WHO: Wabah Hantavirus Bukan Awal Pandemi Covid-19 Berikutnya
WHO Peringatkan Skenario...
WHO Peringatkan Skenario Nuklir Terburuk di Iran, Rusia Kutuk Serangan Israel
Zat Kimia Persisten...
Zat Kimia Persisten Ditemukan dalam 98,8% Darah Warga AS
Penembakan Massal di...
Penembakan Massal di Sekolah Filipina Tewaskan 3 Siswa, 2 Pelaku Remaja Ditahan
AS Tak Akan Usik Program...
AS Tak Akan Usik Program Rudal Balistik Iran dalam Perundingan
Rekomendasi
Buku Sang Arsitek Presisi...
Buku Sang Arsitek Presisi Polri Ulas Kepemimpinan Kapolri Listyo Sigit Prabowo
Perburuan Sepatu Emas...
Perburuan Sepatu Emas Piala Dunia 2026: Messi Dihantui Haaland dan Mbappe!
Mengapa Hari Asyura...
Mengapa Hari Asyura Begitu Istimewa? Ini Keutamaan, Peristiwa Besar, dan Fadhilah Puasanya
Berita Terkini
Pengaruh Wali Kota Muslim...
Pengaruh Wali Kota Muslim New York Ini Makin Kuat, Siapa yang Didukungnya Menang!
Menteri Zionis: AS Akan...
Menteri Zionis: AS Akan Segera Berada di Jalur Bentrokan dengan Israel
Rusia Klaim Senjata...
Rusia Klaim Senjata Nuklir Jadi Satu-satunya Jaminan pada Perang Global, Ini 3 Alasannya
Bill Gates Ngaku Jadi...
Bill Gates Ngaku Jadi Korban Epstein, tapi Fakta Berbicara Lain
10 Tahun Brexit, Mayoritas...
10 Tahun Brexit, Mayoritas Rakyat Inggris Menyesal!
Israel Intervensi Pilpres...
Israel Intervensi Pilpres Kolombia, Ini 4 Faktanya
Infografis
WHO Cabut Status Covid-19...
WHO Cabut Status Covid-19 sebagai Darurat Kesehatan Global
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved