Peneliti: Obat Malaria Rekomendasi Trump Bisa Berbahaya untuk Pasien Covid-19
Selasa, 02 Juni 2020 - 02:32 WIB
loading...
A
A
A
Dia mengatakan, chloroquine adalah obat yang lebih tua, yang diketahui memiliki lebih banyak komplikasi, sedangkan hydroxychloroquine adalah bentuk yang lebih baru dengan komplikasi yang lebih sedikit. Patel menuturkan, dia dan timya memasukkan keduanya dalam penelitiannya, karena dia menemukan bahwa orang-orang menggunakan keduanya di seluruh dunia.
(Baca: Incar Pariwisata Medis, Thailand Kembangkan Vaksin Covid-19 )
Dalam laporannya, Patel mengatakan bahwa ada peningkatan 4,3 hingga 8,1% risiko pasien Covid-19 yang memakai chloroquine atau HCQ yang mengembangkan de-novo ventricular arrhythmia dibandingkan dengan mereka yang berada dalam "kelompok kontrol" yang hanya memiliki peningkatan risiko 0,3% untuk mengembangkan kondisi itu.
"Ini berarti ada peningkatan risiko detak jantung abnormal baru dan bisa sangat serius pada pasien yang dirawat di rumah sakit dengan COVID-19 dan yang juga mungkin memiliki masalah medis lainnya seperti tekanan darah tinggi, kolesterol, gagal jantung, gagal ginjal, atau yang lebih tua dan/atau kelebihan berat badan." ucapnya.
Patel kemudian mengatakan, regulator tidak boleh melonggarkan obat yang tidak terbukti tanpa pengawasan yang tepat. Semua obat, jelasnya, hanya boleh digunakan di bawah bimbingan dokter dan di bawah uji klinis atau pendaftaran untuk tidak hanya mengevaluasi manfaat tetapi, yang paling penting, kerusakan yang tidak diketahui.
(Baca: Incar Pariwisata Medis, Thailand Kembangkan Vaksin Covid-19 )
Dalam laporannya, Patel mengatakan bahwa ada peningkatan 4,3 hingga 8,1% risiko pasien Covid-19 yang memakai chloroquine atau HCQ yang mengembangkan de-novo ventricular arrhythmia dibandingkan dengan mereka yang berada dalam "kelompok kontrol" yang hanya memiliki peningkatan risiko 0,3% untuk mengembangkan kondisi itu.
"Ini berarti ada peningkatan risiko detak jantung abnormal baru dan bisa sangat serius pada pasien yang dirawat di rumah sakit dengan COVID-19 dan yang juga mungkin memiliki masalah medis lainnya seperti tekanan darah tinggi, kolesterol, gagal jantung, gagal ginjal, atau yang lebih tua dan/atau kelebihan berat badan." ucapnya.
Patel kemudian mengatakan, regulator tidak boleh melonggarkan obat yang tidak terbukti tanpa pengawasan yang tepat. Semua obat, jelasnya, hanya boleh digunakan di bawah bimbingan dokter dan di bawah uji klinis atau pendaftaran untuk tidak hanya mengevaluasi manfaat tetapi, yang paling penting, kerusakan yang tidak diketahui.
(esn)
Lihat Juga :