Sempat Membantah, AS Akhirnya Akui Serangan Drone di Kabul Tewaskan Warga Sipil
Sabtu, 18 September 2021 - 05:18 WIB
loading...
A
A
A
Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin juga meminta maaf atas serangan tersebut dalam sebuah pernyataan, dan menyampaikan belasungkawa kepada keluarga Zamarai Ahmadi, pengemudi mobil yang menjadi sasaran serangan tersebut.
“Kami sekarang tahu bahwa tidak ada hubungan antara Ahmadi dan ISIS-Khorasan, bahwa kegiatannya pada hari itu sama sekali tidak berbahaya dan sama sekali tidak terkait dengan ancaman yang kami yakini akan kami hadapi, dan bahwa Ahmadi korban yang sama tidak bersalahnya dengan korban lainnya yang terbunuh secara tragis,” katanya.
Baca juga: AS Bohong, Rudalnya Tewaskan 10 Orang Sekeluarga Kabul, Bukan Bomber ISIS-K
Austin mengatakan dia mengarahkan peninjauan menyeluruh dari penyelidikan yang dilakukan oleh Komando Pusat dan informasi yang membuat militer AS melakukan itu.
Austin mengatakan militer, ketika memiliki alasan untuk percaya telah mengambil nyawa yang tidak bersalah, selidiki dan, jika benar, akui.
"Tetapi kita juga harus bekerja sama kerasnya untuk mencegah terulangnya kembali, tidak peduli keadaannya, aliran data intelijen atau tekanan operasional di mana kita bekerja," tegasnya.
"Kami akan melakukannya dalam kasus ini," tukasnya.
Kelompok hak asasi manusia, Amnesty International mengatakan pengakuan militer AS adalah langkah penting menuju akuntabilitas tetapi menambahkan bahwa Washington perlu mengambil lebih banyak langkah, termasuk membayar ganti rugi kepada anggota keluarga dan penyintas serangan.
"AS sekarang harus berkomitmen untuk melakukan penyelidikan penuh, transparan, dan tidak memihak atas insiden ini. Siapa pun yang dicurigai bertanggung jawab atas kejahatan harus diadili dalam pengadilan yang adil," kata Brian Castner, penasihat krisis senior di Program Penanggulangan Krisis Amnesty International.
Baca juga: Tragis, Bermimpi Hidup di Amerika, Eks Prajurit Afghanistan Tewas dalam Serangan Udara AS
“Kami sekarang tahu bahwa tidak ada hubungan antara Ahmadi dan ISIS-Khorasan, bahwa kegiatannya pada hari itu sama sekali tidak berbahaya dan sama sekali tidak terkait dengan ancaman yang kami yakini akan kami hadapi, dan bahwa Ahmadi korban yang sama tidak bersalahnya dengan korban lainnya yang terbunuh secara tragis,” katanya.
Baca juga: AS Bohong, Rudalnya Tewaskan 10 Orang Sekeluarga Kabul, Bukan Bomber ISIS-K
Austin mengatakan dia mengarahkan peninjauan menyeluruh dari penyelidikan yang dilakukan oleh Komando Pusat dan informasi yang membuat militer AS melakukan itu.
Austin mengatakan militer, ketika memiliki alasan untuk percaya telah mengambil nyawa yang tidak bersalah, selidiki dan, jika benar, akui.
"Tetapi kita juga harus bekerja sama kerasnya untuk mencegah terulangnya kembali, tidak peduli keadaannya, aliran data intelijen atau tekanan operasional di mana kita bekerja," tegasnya.
"Kami akan melakukannya dalam kasus ini," tukasnya.
Kelompok hak asasi manusia, Amnesty International mengatakan pengakuan militer AS adalah langkah penting menuju akuntabilitas tetapi menambahkan bahwa Washington perlu mengambil lebih banyak langkah, termasuk membayar ganti rugi kepada anggota keluarga dan penyintas serangan.
"AS sekarang harus berkomitmen untuk melakukan penyelidikan penuh, transparan, dan tidak memihak atas insiden ini. Siapa pun yang dicurigai bertanggung jawab atas kejahatan harus diadili dalam pengadilan yang adil," kata Brian Castner, penasihat krisis senior di Program Penanggulangan Krisis Amnesty International.
Baca juga: Tragis, Bermimpi Hidup di Amerika, Eks Prajurit Afghanistan Tewas dalam Serangan Udara AS
(ian)
Lihat Juga :