PBB Kutuk Tindakan Keras Taliban terhadap Para Pengunjuk Rasa

Sabtu, 11 September 2021 - 05:30 WIB
loading...
PBB Kutuk Tindakan Keras...
Milisi Taliban menodongkan senjata ke arah warga sipil di Afghanistan. Foto/REUTERS
A A A
NEW YORK - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengutuk Taliban atas "tanggapan yang semakin keras" terhadap pengunjuk rasa dan para pengkritik.

Kecaman itu muncul beberapa pekan setelah Taliban mengambil alih Afghanistan dengan sangat cepat dan mengejutkan negara-negara Barat.

PBB mengatakan pejuang Taliban membunuh empat orang selama protes baru-baru ini.

Baca juga: Taliban Pukuli Wartawan Peliput Demo Wanita Afghanistan, Ini Buktinya

Demonstrasi telah terjadi di Afghanistan sejak jatuhnya Kabul pada 15 Agustus. Mereka menuntut penghormatan terhadap hak-hak perempuan dan kebebasan yang lebih besar.

Baca juga: China: Mesin-mesin Perang Amerika Serikat Jadi Taman Bermain Taliban

“Para milisi Taliban menggunakan tongkat, cambuk, dan peluru tajam untuk menghadapi para pengunjuk rasa,” ungkap laporan PBB.

Baca juga: Vatikan Bantah Paus Fransiskus Mempertanyakan Validitas Taurat

"Kami menyerukan kepada Taliban untuk segera menghentikan penggunaan kekuatan terhadap, dan penahanan sewenang-wenang, mereka yang menggunakan hak mereka untuk berkumpul secara damai dan wartawan yang meliput protes," papar juru bicara Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia dalam pernyataan pers.

Taliban merebut Afghanistan pada Agustus, menguasai pusat-pusat provinsi dan akhirnya ibukota Kabul dalam waktu kurang dari dua pekan.

AS kemudian memimpin pengangkutan udara dari bandara internasional Kabul, mengevakuasi lebih dari 120.000 orang sebelum menarik pasukannya pada 31 Agustus.

Runtuhnya Taliban mengikuti dua dekade operasi militer AS di Afghanistan, setelah pasukan Amerika dan sekutu NATO menggulingkan Taliban dari kekuasaan pada 2001 setelah serangan teror 9/11. AS akan menggelar peringatan 20 tahun serangan itu pada Sabtu (9/11).

Juru bicara PBB Ravina Shamdasani mengkritik tindakan keras Taliban terhadap demonstrasi dalam konferensi pers pada Jumat (10/9).

“Demonstrasi telah berkembang sejak 15 Agustus,” papar dia. Tetapi pada Rabu Taliban melarang pertemuan yang tidak sah, dan pada Kamis mereka memerintahkan perusahaan telekomunikasi mematikan internet seluler di Kabul.

“Sangat penting kelompok itu mendengarkan perempuan dan laki-laki Afghanistan di jalan-jalan selama masa ketidakpastian besar ini," ungkap Shamdasani.

Pernyataan PBB itu juga mencatat kematian empat orang, termasuk seorang anak laki-laki. PBB juga menyoroti pembubaran unjuk rasa dengan kekerasan dalam beberapa pekan terakhir.

Dia juga mengkritik kekerasan terhadap para jurnalis. Wartawan mengatakan kepada BBC pekan ini bahwa mereka dipukuli, ditahan dan dicambuk Taliban ketika mereka mencoba meliput unjuk rasa.

Laporan PBB muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran tentang Afghanistan setelah pengambilalihan Taliban.

Pada Jumat, Program Pangan Dunia PBB mengatakan 93% rumah tangga di negara itu tidak makan cukup makanan. Kekeringan telah memperburuk masalah pasokan bahan pakan, menyebabkan hilangnya sekitar 40% panen gandum.

The Wall Street Journal melaporkan pekerja bantuan khawatir seluruh penduduk bisa jatuh ke dalam kemiskinan dalam beberapa bulan.

Badan PBB Unesco memperingatkan negara itu menghadapi "bencana generasi" dalam pendidikan, setelah dua dekade kemajuan untuk anak-anak, terutama anak perempuan.

Laporan yang belum dikonfirmasi menunjukkan rencana Taliban mengadakan upacara untuk meresmikan pemerintahan baru mereka pada Sabtu (9/11), setelah mengumumkan kepemimpinannya pekan ini.

Ini adalah hari saat AS akan mengadakan acara untuk memperingati 20 tahun serangan teror 9/11.

Hampir 3.000 orang meninggal hari itu. Kelompok militan al-Qaeda mendalangi serangan itu, yang dipimpin Osama Bin Laden yang saat itu berada di Afghanistan dalam perlindungan Taliban.
(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Taliban Larang Warga...
Taliban Larang Warga Afghanistan Gunakan Ponsel Pintar, Jika Nekat Bakal Dihancurkan
Pakistan Gelar Serangan...
Pakistan Gelar Serangan Udara di Afghanistan, 13 Orang Tewas
Jerman Gagal Peroleh...
Jerman Gagal Peroleh Kursi di Dewan Keamanan PBB untuk Pertama Kali
Hukum Baru Taliban:...
Hukum Baru Taliban: Diamnya Gadis Perawan Berarti Persetujuan untuk Menikah
Afghanistan: Pakistan...
Afghanistan: Pakistan Bombardir Rumah Sakit Kabul, 400 Orang Tewas!
Taliban Afghanistan...
Taliban Afghanistan Terbuka untuk Dialog setelah Pakistan Bom Kota-kota Besar
Kemenhut-ITTO Perkuat...
Kemenhut-ITTO Perkuat Kerja Sama Pengelolaan Hutan Lestari dan Industri Kayu Tropis
Gempa Guncang Venezuela,...
Gempa Guncang Venezuela, 18 Orang Diselamatkan dari Reruntuhan
Balas Dendam, Iran Hujani...
Balas Dendam, Iran Hujani Pangkalan Militer AS di Kuwait dan Bahrain dengan Rudal dan Drone
Rekomendasi
Mahasiswa Doktoral UNJ...
Mahasiswa Doktoral UNJ Perkuat Literasi Keuangan bagi Calon Guru Malaysia di UTHM
Daftar Lengkap 32 Tim...
Daftar Lengkap 32 Tim Lolos ke Fase Gugur Piala Dunia 2026
Iran Tersingkir dari...
Iran Tersingkir dari Piala Dunia 2026, Gagal Lolos Akibat Gol di Detik Terakhir
Berita Terkini
8 Pangkalan Militer...
8 Pangkalan Militer AS Diserang Iran, IRGC: Selat Hormuz Milik Kita
AS dan Iran Saling Serang...
AS dan Iran Saling Serang Lagi, Apakah Masih Ada Harapan Perdamaian di Timur Tengah?
Pembangkang China Ini...
Pembangkang China Ini Kabur ke Korea Selatan dengan Perahu Karet, Sekarang Muncul di Kanada
Iran Tuduh AS Khianati...
Iran Tuduh AS Khianati Perjanjian Damai saat Kedua Pihak Saling Serang
AS Serang 10 Target...
AS Serang 10 Target di Iran, IRGC Balas Bombardir Pangkalan Amerika di Kuwait dan Bahrain
6 Teroris Ditembak Mati...
6 Teroris Ditembak Mati usai Serang Markas Rangers Pakistan, 4 Tentara Juga Tewas
Infografis
Para Miliarder Teknologi...
Para Miliarder Teknologi Hamburkan Triliunan Rupiah untuk Riset Kehidupan Abadi
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved