Bom Bandara Kabul: 60 Warga Afghanistan dan 13 Tentara AS Tewas
Jum'at, 27 Agustus 2021 - 08:39 WIB
loading...
A
A
A
"Tiba-tiba kami mendengar suara tembakan dan kendaraan kami menjadi sasaran, jika pengemudi kami tidak berbalik, dia akan ditembak di kepala oleh seorang pria dengan AK-47," kata Paul "Pen" Farthing kepada kantor berita Press Association Inggris.
Sebelumnya, pihak AS dan sekutunya telah mengeluarkan peringatan akan kemungkinan terjadinya serangan yang ingin mengacaukan proses evakuasi. Rabu malam, Kedutaan Besar AS memperingatkan warga di tiga gerbang bandara untuk segera pergi karena ancaman keamanan yang tidak ditentukan. Australia, Inggris dan Selandia Baru juga menyarankan warganya untuk tidak pergi ke bandara pada hari berikutnya.
Baca juga: Muncul Ancaman Serangan dari ISIS, Warga Diminta Hindari Bandara Kabul
Namun juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid membantah serangan akan terjadi di bandara, di mana para pejuang kelompok itu telah dikerahkan dan kadang-kadang menggunakan taktik yang represif untuk mengendalikan massa. Setelah serangan itu terjadi, dia tampak mengabaikan kesalahannya, mencatat bahwa bandara tersebut dikendalikan oleh pasukan AS.
Sebelum ledakan, Taliban menyemprotkan meriam air ke mereka yang berkumpul di satu gerbang bandara untuk mencoba mengusir kerumunan, ketika seseorang meluncurkan tabung gas air mata di tempat lain.
Kelompok yang berafiliasi dengan ISIS mengaku bertanggung jawab atas serangan bom tersebut. Kelompok ekstrimis ini telah melakukan serangkaian serangan brutal, terutama menargetkan minoritas Syiah di Afghanistan, termasuk serangan tahun 2020 di sebuah rumah sakit bersalin di Kabul di mana mereka membunuh wanita dan bayi.
Taliban telah berperang melawan militan ISIS di Afghanistan, di mana mereka telah merebut kembali kendali negara itu setelah hampir 20 tahun mereka digulingkan dalam invasi pimpinan AS. Amerika masuk setelah serangan 11/9, yang diatur oleh al-Qaeda saat dilindungi oleh kelompok tersebut.
Sebelumnya, pihak AS dan sekutunya telah mengeluarkan peringatan akan kemungkinan terjadinya serangan yang ingin mengacaukan proses evakuasi. Rabu malam, Kedutaan Besar AS memperingatkan warga di tiga gerbang bandara untuk segera pergi karena ancaman keamanan yang tidak ditentukan. Australia, Inggris dan Selandia Baru juga menyarankan warganya untuk tidak pergi ke bandara pada hari berikutnya.
Baca juga: Muncul Ancaman Serangan dari ISIS, Warga Diminta Hindari Bandara Kabul
Namun juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid membantah serangan akan terjadi di bandara, di mana para pejuang kelompok itu telah dikerahkan dan kadang-kadang menggunakan taktik yang represif untuk mengendalikan massa. Setelah serangan itu terjadi, dia tampak mengabaikan kesalahannya, mencatat bahwa bandara tersebut dikendalikan oleh pasukan AS.
Sebelum ledakan, Taliban menyemprotkan meriam air ke mereka yang berkumpul di satu gerbang bandara untuk mencoba mengusir kerumunan, ketika seseorang meluncurkan tabung gas air mata di tempat lain.
Kelompok yang berafiliasi dengan ISIS mengaku bertanggung jawab atas serangan bom tersebut. Kelompok ekstrimis ini telah melakukan serangkaian serangan brutal, terutama menargetkan minoritas Syiah di Afghanistan, termasuk serangan tahun 2020 di sebuah rumah sakit bersalin di Kabul di mana mereka membunuh wanita dan bayi.
Taliban telah berperang melawan militan ISIS di Afghanistan, di mana mereka telah merebut kembali kendali negara itu setelah hampir 20 tahun mereka digulingkan dalam invasi pimpinan AS. Amerika masuk setelah serangan 11/9, yang diatur oleh al-Qaeda saat dilindungi oleh kelompok tersebut.
(ian)
Lihat Juga :