Wajah Baru Taliban Benar-benar Lebih Moderat atau Tampilan ‘Nazi Modern’?

Rabu, 18 Agustus 2021 - 09:10 WIB
loading...
A A A
Dia menambahkan, “Mereka akan bekerja dengan kami, bahu-membahu dengan kami. Komunitas internasional, jika mereka memiliki kekhawatiran, kami ingin meyakinkan mereka bahwa tidak akan ada diskriminasi terhadap perempuan, tetapi tentu saja dalam kerangka yang kami miliki. Wanita kami adalah Muslim. Mereka juga akan senang hidup dalam kerangka Syariah kami.”

Dia menjelaskan, “Kami berharap bahwa segera setelah konflik dengan Afghanistan selesai, kami akan membangun infrastruktur ekonomi. Untuk ini kita akan mengambil tindakan untuk kegiatan ekonomi.”

“Interaksi dengan komunitas internasional, dengan negara lain akan terus berlanjut. Kami akan bekerja pada sumber daya alam dan sumber daya kami untuk merevitalisasi ekonomi kami, untuk rekonstruksi kami, untuk kemakmuran kami,” papar pernyataan Taliban.

“Oleh karena itu Imarah Islam meminta seluruh masyarakat internasional bahwa insya Allah kita dapat segera, sebenarnya sangat cepat dapat mengubah situasi, negara secara ekonomi,” ungkap Mujahid.

Dia menegaskan, “Setiap rakyat Afghanistan ingin meningkatkan kehidupannya. Jadi, seluruh masyarakat, seluruh masyarakat akan aktif dalam perdagangan, ekonomi, dan kami berkomitmen memastikan keamanan dan setelah itu untuk membangun masyarakat kita, untuk melayani bangsa kita. Kami adalah abdi negara. Sebelum itu, kemaslahatan bangsa, baik di dunia ini maupun untuk dunia selanjutnya.”

Meski Taliban memberikan berbagai janji kebijakan yang lebih moderat, beberapa pihak khawatir dengan kebangkitan kelompok tersebut di Afghanistan.

Matt Zeller, veteran AS yang ikut bertempur di Afghanistan mengatakan, “Amerika harus menggerakkan langit dan bumi untuk menyelamatkan warga Afghanistan yang bekerja dengan AS.”

"Ini adalah orang-orang kita," ujar dia kepada BBC.

Dia menjelaskan, salah satu penerjemah asal Afghanistan telah menyelamatkan hidupnya dengan menembak mati dua pejuang Taliban.

"Setiap orang Afghanistan yang kita tinggalkan, kita akan pergi ke Nazi versi modern," papar Zeller.

Sejumlah wanita di Kabul, Afghanistan, juga tak mempercayai begitu saja janji-janji Taliban yang lebih moderat tersebut.

"Saya tidak percaya apa yang mereka katakan," ungkap seorang wanita di Kabul pada BBC. Wanita itu menyaksikan Mujahid berbicara di televisi.

"Itu tipu muslihat, dan kami dibujuk keluar untuk dihukum. Saya menolak belajar atau bekerja di bawah hukum mereka," papar wanita lain yang terlalu takut untuk meninggalkan rumah.

Terlepas dari ketidakpercayaan dan skeptisisme besar dari sejumlah perempuan Afghanistan, beberapa wanita secara mengejutkan menyambut pendekatan Taliban terhadap hak-hak perempuan.

Seorang wanita mengatakan, "Jika kita bisa bekerja dan mendapatkan pendidikan, itulah definisi kebebasan bagi saya, itu garis merah saya. Garis merah itu belum dilintasi oleh Taliban.”

“Selama hak saya untuk belajar dan bekerja dilindungi, saya tidak keberatan mengenakan jilbab. Saya tinggal di negara Islam dan saya bersedia menerima aturan berpakaian Islami selama itu bukan burka, karena itu bukan aturan berpakaian Islami,” pungkas dia.
(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
6 Misi Pasukan Khusus...
6 Misi Pasukan Khusus yang Memicu Malapetaka, 2 Negara Adidaya Pernah Tumbang
2 Negara Muslim Ini...
2 Negara Muslim Ini Saling Serang, Ini 7 Alasan Konflik Itu Tak Mudah Diselesaikan
Pakistan Gelar Serangan...
Pakistan Gelar Serangan Darat dan Udara ke Afghanistan, 29 Tentara Taliban Tewas
Taliban Larang Warga...
Taliban Larang Warga Afghanistan Gunakan Ponsel Pintar, Jika Nekat Bakal Dihancurkan
Pakistan Gelar Serangan...
Pakistan Gelar Serangan Udara di Afghanistan, 13 Orang Tewas
Hukum Baru Taliban:...
Hukum Baru Taliban: Diamnya Gadis Perawan Berarti Persetujuan untuk Menikah
Perbandingan Kekuatan...
Perbandingan Kekuatan Militer Pakistan vs Afghanistan: Bak David vs Goliath
AS Resmi Jalin Kerja...
AS Resmi Jalin Kerja Sama Nuklir dengan Arab Saudi di Tengah Konflik Iran
Trump Murka Houthi Serang...
Trump Murka Houthi Serang 2 Kapal Tanker Saudi, Ancam Gempur Iran Habis-habisan
Rekomendasi
Video Baru Bongkar Insiden...
Video Baru Bongkar Insiden Final Piala Dunia 2026, Lisandro Martinez Diduga Pukul Gavi
Momen Keakraban Cak...
Momen Keakraban Cak Imin, Dasco, dan Angela Tanoesoedibjo di Harlah ke-28 PKB
Samin Tan Cs Segera...
Samin Tan Cs Segera Disidang Kasus Korupsi Tambang
Berita Terkini
Trump Kenakan Tarif...
Trump Kenakan Tarif Besar-besaran pada Indonesia dan 59 Negara Lainnya, Ini Daftarnya
Masalah Kualitas dan...
Masalah Kualitas dan Krisis Internal Hambat Ambisi Ekspor Senjata China
Iran Nyatakan Pangkalan...
Iran Nyatakan Pangkalan Inggris Target Sah, Tentara London Siaga 24 Jam
Jet Tempur Siluman Su-57...
Jet Tempur Siluman Su-57 Rusia Seharga Rp2 Triliun Jatuh, Bukan akibat Ditembak Ukraina
Trump: Syarat Arab Saudi...
Trump: Syarat Arab Saudi Miliki Program Nuklir Harus Akui Negara Israel
Getol Kritik Netanyahu,...
Getol Kritik Netanyahu, Wali Kota New York Mamdani dan Istri Terima Ancaman Pembunuhan
Infografis
Perbandingan Jet Tempur...
Perbandingan Jet Tempur J-15 China dan F-15 Jepang, Mana Lebih Hebat?
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved