PBB: Gelombang Panas Ekstrim Bisa Semakin Sering Terjadi
Senin, 09 Agustus 2021 - 17:30 WIB
loading...
A
A
A
Misalnya, panas ekstrem, kekeringan dan angin kencang, kondisi yang dapat memicu kebakaran hutan, lebih mungkin terjadi pada saat yang bersamaan. Baca juga: Penanganan Perubahan Iklim di Indonesia Dinilai Perlu Kerja Nyata
IPCC memiliki keyakinan tingkat menengah atau tinggi bahwa banyak wilayah pertanian penting di seluruh dunia akan mengalami lebih banyak kekeringan atau hujan ekstrem. Itu termasuk bagian dari Argentina, Paraguay, Bolivia dan Brazil yang merupakan sumber utama kedelai dan komoditas global lainnya.
Friederike Otto, penulis IPCC dan ahli iklim di University of Oxford, mengatakan, wilayah yang sudah rentan terhadap kekeringan cenderung lebih sering mengalaminya, termasuk di Mediterania, Australia selatan dan Amerika Utara bagian barat.
“Peningkatan frekuensi kekeringan dan hujan lebat juga tidak saling eksklusif dan diprediksi terjadi di tempat-tempat seperti Afrika Selatan,” katanya.
“Proyeksi pada peristiwa cuaca ekstrem yang tercantum dalam laporan memperkuat pentingnya membatasi perubahan iklim ke tingkat yang ditetapkan dalam Perjanjian Paris. Jika kita stabil pada 1,5 derajat, kita bisa menghentikannya agar tidak semakin parah," tukas Otto.
IPCC memiliki keyakinan tingkat menengah atau tinggi bahwa banyak wilayah pertanian penting di seluruh dunia akan mengalami lebih banyak kekeringan atau hujan ekstrem. Itu termasuk bagian dari Argentina, Paraguay, Bolivia dan Brazil yang merupakan sumber utama kedelai dan komoditas global lainnya.
Friederike Otto, penulis IPCC dan ahli iklim di University of Oxford, mengatakan, wilayah yang sudah rentan terhadap kekeringan cenderung lebih sering mengalaminya, termasuk di Mediterania, Australia selatan dan Amerika Utara bagian barat.
“Peningkatan frekuensi kekeringan dan hujan lebat juga tidak saling eksklusif dan diprediksi terjadi di tempat-tempat seperti Afrika Selatan,” katanya.
“Proyeksi pada peristiwa cuaca ekstrem yang tercantum dalam laporan memperkuat pentingnya membatasi perubahan iklim ke tingkat yang ditetapkan dalam Perjanjian Paris. Jika kita stabil pada 1,5 derajat, kita bisa menghentikannya agar tidak semakin parah," tukas Otto.
(ian)
Lihat Juga :