Cerita Dubes Busyra Bantu Pulangkan ABK Indonesia di Djibouti
Minggu, 01 Agustus 2021 - 19:45 WIB
loading...
Duta Besar Indonesia di Ethiopia, Al Busyra Basnur menceritakan proses pemulangan anak buah kapal (ABK) Indonesia dari Djibouti. Foto/KBRI Addis Ababa
A
A
A
ADDIS ABABA - Duta Besar Indonesia di Ethiopia , Al Busyra Basnur menceritakan proses pemulangan anak buah kapal (ABK) Indonesia dari Djibouti. Djibouti adalah sebuah negara berukuran kecil dengan jumlah pendudukan hanya sekitar satu juta jiwa saja, yang masuk dalam wilayah kerja Kedutaan Besar Indonesia (KBRI) Addis Ababa.
Al Busyra menuturkan pada awal Juni, KBRI Addis Ababa menerima laporan tentang adanya 10 ABK asal Indonesia yang bekerja di sebuah kapal penangkap ikan yang beroperasi di perairan Somalia dan sekitarnya.
Kapal tersebut, jelasnya dimiliki oleh perusahaan Somalia, dengan pemilik antara lain warga negara Denmark dan Amerika Serikat (AS)yang berasal dari Somalia. ABK Indonesia tersebut bekerja di kapal itu sejak bulan April 2021.
Dia menuturkan para ABK tidak mau lagi bekerja di kapal itu dan ingin segera pulang ke Indonesia. Menurutnya, ada tiga hal yang menyebabkan mereka tidak mau lagi bekerja di kapal penangkap ikan itu.
“Pertama, tidak sesuai dengan kontrak yang mereka tandatangani di Indonesia sebelum berangkat dan menuju kapal ikan tempat mereka bekerja. Kedua, tidak merasa nyaman bekerja di kapal karena terdapat orang-orang bersenjata selama mereka menangkap ikan di laut,” ucapnya.
Al Busyra menuturkan pada awal Juni, KBRI Addis Ababa menerima laporan tentang adanya 10 ABK asal Indonesia yang bekerja di sebuah kapal penangkap ikan yang beroperasi di perairan Somalia dan sekitarnya.
Kapal tersebut, jelasnya dimiliki oleh perusahaan Somalia, dengan pemilik antara lain warga negara Denmark dan Amerika Serikat (AS)yang berasal dari Somalia. ABK Indonesia tersebut bekerja di kapal itu sejak bulan April 2021.
Dia menuturkan para ABK tidak mau lagi bekerja di kapal itu dan ingin segera pulang ke Indonesia. Menurutnya, ada tiga hal yang menyebabkan mereka tidak mau lagi bekerja di kapal penangkap ikan itu.
“Pertama, tidak sesuai dengan kontrak yang mereka tandatangani di Indonesia sebelum berangkat dan menuju kapal ikan tempat mereka bekerja. Kedua, tidak merasa nyaman bekerja di kapal karena terdapat orang-orang bersenjata selama mereka menangkap ikan di laut,” ucapnya.
Lihat Juga :