Kemlu Cari Informasi Soal Kondisi WNI di Alaska Pasca Gempa Besar

loading...
Kemlu Cari Informasi Soal Kondisi WNI di Alaska Pasca Gempa Besar
Kementerian Luar Negeri Indonesia menuturkan sedang mencari informasi mengenai kondisi WNI di Alaska pasca terjadinya gempa besar yang melanda wilayah itu. Foto/Ist
JAKARTA - Kementerian Luar Negeri Indonesia sedang mencari informasi mengenai kondisi warga negara Indonesia (WNI) di Alaska pasca terjadinya gempa besar yang melanda wilayah itu. Negara bagian Amerika Serikat (AS) diguncang gempa besar berkekuatan 8,2 skala Richter.

Menurut data USGS, gempa itu adalah yang terbesar ketujuh dalam sejarah AS, terikat dengan gempa Alaska lainnya dari tahun 1938. Ini juga merupakan gempa terbesar di Amerika Utara sejak gempa Alaska berkekuatan 8,7 pada tahun 1965.

Direktur Perlindungan Warga Negara dan Badan Hukum Indonesia (PWNI-BHI) Kementerian Luar Negeri Indonesia, Judha Nugraha jumlah WNI di Alaska yang tercatat di Konsulat Jenderal Indonesia (KJRI) San Francisco sebanyak 61 orang.

"Saat ini KJRI masih berkoordinasi dg otoritas setempat dan simpul masyarakat di Alaska mengenai WNI terdampak," ucapnya, melalui pesan singkat kepada awak media pada Kamis (29/7/2021). Baca juga: Alaska Menawarkan Vaksin COVID-19 pada Para Turis Mulai 1 Juni



Sementara itu, sebelumnya peringatan tsunami untuk Alaska dan seluruh wilayah Pasifik AS telah dicabut.

Dave Snider, koordinator peringatan tsunami Pusat Peringatan Tsunami Nasional AS (NTWC) menuturkan setelah pemantauan selama beberapa waktu, disimpulkan bahwa ancaman tsunami yang signifikan di Alaska, California, Oregon dan Washington di AS, dan provinsi British Columbia di Kanada sangat kecil terjadi.

"Mungkin ada beberapa kerusakan kecil di beberapa tempat (di Alaska), tetapi tsunami yang signifikan dan kerusakan yang signifikan dari sesuatu seperti itu tidak diperkirakan," kata Snider.

Walaupun gempa bumi dangkal di dekat daerah berpenduduk bisa berbahaya, dalam hal ini gempa dangkal tidak terlalu menimbulkan ancaman karena biasanya tidak menimbulkan tsunami besar.

"Itu benar-benar beruntung dalam hal ini, karena 8.2 benar-benar cukup kuat untuk membuat gelombang yang cukup besar," tambah Snider. Baca juga: Arkeolog Temukan Bukti yang Bisa Patahkan Klaim Columbus Lebih Dulu ke Alaska
(ian)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top