'Presiden Haiti Jovenel Moise Dibunuh oleh Agen Keamanannya Sendiri...'
Sabtu, 10 Juli 2021 - 14:39 WIB
loading...
A
A
A
PBB belum bersedia menanggapi permintaan komentar.
Washington telah mengisyaratkan kesediaannya untuk membantu penyelidikan Haiti atas pembunuhan Presiden Moise. Juru bicara Gedung Putih Jen Psaki mengatakan pada hari Jumat bahwa FBI dan pejabat senior lainnya akan menuju ke Karibia sesegera mungkin.
Pierre mengonfirmasi bahwa permintaan tersebut telah dibuat ketika pertanyaan berputar pada hari Jumat tentang siapa yang mendalangi pembunuhan yang berani itu, di mana sebagian besar anggota regu pembunuh—warga Kolombia dan AS—ditembak mati atau ditangkap, dan tidak ada motif yang jelas yang dipublikasikan.
Di tengah ketidakpastian, dua politisi kini berlomba-lomba memimpin negara berpenduduk 11 juta orang itu. Tidak ada Parlemen yang berfungsi karena telah dibubarkan.
Setelah berhari-hari lumpuh, Port-au-Prince menjadi saksi biru kembalinya orang-orang yang malu-malu ke jalan-jalan, toko-toko dibuka dan dimulainya kembali transportasi umum pada Jumat pagi—tetapi semua di bawah ketakutan.
Orang-orang berebut untuk membeli kebutuhan pokok di supermarket dan mengantre di pom bensin untuk membeli propana yang digunakan untuk memasak untuk mengantisipasi lebih banyak ketidakstabilan.
"Saya tidak tahu apa yang akan terjadi besok atau lusa di negara ini, jadi saya bersiap untuk hari-hari buruk di masa depan," kata penduduk Port-au-Prince, Marjory, kepada AFP, saat dia dan suaminya menimbun persediaan pangan yang dibeli dari sebuah toko.
"Saya memprioritaskan segala sesuatu yang bisa bertahan selama berhari-hari."
Kekerasan geng, yang marak di negara Karibia itu, juga meningkat lagi pada hari Jumat, di mana bentrokan antar kelompok telah melumpuhkan lalu lintas di jalan raya utama.
Bandara kota, yang ditutup setelah pembunuhan Presiden Moise, telah dibuka kembali. Opersional di bandara itu terpantau oleh situs Flightradar.
Tetapi ketika kejutan pembunuhan presiden itu mereda, banyak yang menuntut jawaban.
"Orang asing datang ke negara ini untuk melakukan kejahatan. Kami, warga Haiti, terkejut," kata seorang penduduk ibu kota kepada AFP.
Washington telah mengisyaratkan kesediaannya untuk membantu penyelidikan Haiti atas pembunuhan Presiden Moise. Juru bicara Gedung Putih Jen Psaki mengatakan pada hari Jumat bahwa FBI dan pejabat senior lainnya akan menuju ke Karibia sesegera mungkin.
Pierre mengonfirmasi bahwa permintaan tersebut telah dibuat ketika pertanyaan berputar pada hari Jumat tentang siapa yang mendalangi pembunuhan yang berani itu, di mana sebagian besar anggota regu pembunuh—warga Kolombia dan AS—ditembak mati atau ditangkap, dan tidak ada motif yang jelas yang dipublikasikan.
Di tengah ketidakpastian, dua politisi kini berlomba-lomba memimpin negara berpenduduk 11 juta orang itu. Tidak ada Parlemen yang berfungsi karena telah dibubarkan.
Setelah berhari-hari lumpuh, Port-au-Prince menjadi saksi biru kembalinya orang-orang yang malu-malu ke jalan-jalan, toko-toko dibuka dan dimulainya kembali transportasi umum pada Jumat pagi—tetapi semua di bawah ketakutan.
Orang-orang berebut untuk membeli kebutuhan pokok di supermarket dan mengantre di pom bensin untuk membeli propana yang digunakan untuk memasak untuk mengantisipasi lebih banyak ketidakstabilan.
"Saya tidak tahu apa yang akan terjadi besok atau lusa di negara ini, jadi saya bersiap untuk hari-hari buruk di masa depan," kata penduduk Port-au-Prince, Marjory, kepada AFP, saat dia dan suaminya menimbun persediaan pangan yang dibeli dari sebuah toko.
"Saya memprioritaskan segala sesuatu yang bisa bertahan selama berhari-hari."
Kekerasan geng, yang marak di negara Karibia itu, juga meningkat lagi pada hari Jumat, di mana bentrokan antar kelompok telah melumpuhkan lalu lintas di jalan raya utama.
Bandara kota, yang ditutup setelah pembunuhan Presiden Moise, telah dibuka kembali. Opersional di bandara itu terpantau oleh situs Flightradar.
Tetapi ketika kejutan pembunuhan presiden itu mereda, banyak yang menuntut jawaban.
"Orang asing datang ke negara ini untuk melakukan kejahatan. Kami, warga Haiti, terkejut," kata seorang penduduk ibu kota kepada AFP.
Lihat Juga :