China Desak AS dan Rusia Kurangi Jumlah Bom Nuklirnya

loading...
China Desak AS dan Rusia Kurangi Jumlah Bom Nuklirnya
Sebuah bom nuklir Amerika Serikat saat diuji coba di Enewetak Atoll, 30 Mei 1956. Foto/Stringer/REUTERS
BEIJING - Pemerintah China mendesak Amerika Serikat (AS) dan Rusia untuk mengurangi jumlah bom atau senjata nuklir yang mereka miliki. Desakan ini muncul setelah pemimpin Moskow Vladmir Putin dan pemimpin Washington Joe Biden sepakat menyingkirkan opsi perang nuklir dalam berbagai masalah.

Data yang dirangkum SINDOnews.com dari Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) menunjukkan AS memiliki 5.800 hulu ledak nuklir. Rusia memiliki 6.375 hulu ledak nuklir. China sendiri memiliki 320 hulu ledak nuklir.

Baca juga: SIPRI: 2.000 Senjata Nuklir Dunia dalam Siaga Tinggi

"Rusia dan AS harus secara substansial memangkas cadangan nuklir mereka dengan cara yang dapat diverifikasi, tidak dapat diubah, dan mengikat secara hukum untuk menciptakan kondisi bagi perlucutan senjata nuklir yang komprehensif dan lengkap,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China Zhao Lijian seperti dikutip Newsweek, Jumat (18/6/2021).



"Ini adalah cara paling efektif untuk menegakkan stabilitas strategis global dan mempromosikan perdamaian dan keamanan internasional," ujar Lijian.

Rusia, AS dan China, bersama dengan Inggris dan Prancis, dianggap sebagai lima negara nuklir, dan semuanya menandatangani Perjanjian Non-Proliferasi Senjata Nuklir (NPT).

NPT adalah sebuah perjanjian internasional yang tujuannya adalah untuk mencegah negara-negara lain memperoleh senjata nuklir, dan akhirnya mencapai perlucutan senjata nuklir.

Biden dan Putin dalam pertemuan mereka di Jenewa 16 Juni lalu sepakat untuk melanjutkan dialog tentang fase berikutnya dari pengendalian senjata untuk mengurangi risiko perang nuklir. Kedua pemimpin itu sepakat untuk membantu mengurangi ancaman karena perang nuklir tidak boleh diperjuangkan dan karena perang nuklir tidak dapat dimenangkan.

"Dalam memulai dialog stabilitas strategis, [AS dan Rusia] berusaha meletakkan dasar untuk kontrol senjata di masa depan," bunyi pernyataan bersama Putin dan Biden.

Tujuan dari dialog yang diupayakan itu, seperti dikutip AP, adalah untuk menentukan apa yang harus ditangani oleh perjanjian pengendalian senjata dan cara-cara untuk menghindari tindakan yang dapat memicu perang.



Baca juga: Bos Gangster Bilal Hamze Tewas Diberondong Peluru di CBD Sydney

Zhao mengatakan China juga memiliki rencana untuk mengadakan diskusi tentang stabilitas strategis, termasuk dialog bilateral dengan pihak-pihak terkait dengan saling menghormati dan setara.

Di saat Zhao mendesak AS dan Rusia untuk mengurangi pasokan senjata nuklirnya, seorang editor media pemerintah China menganggap persenjataan nuklir negara itu sebagai pertahanan terbaiknya.

Dalam sebuah editorial untuk Global Times, editor media tersebut Hu Xijan, menulis bahwa peningkatan jumlah hulu ledak nuklir adalah landasan pencegahan China terhadap Amerika Serikat.

"Kita harus siap menghadapi pertarungan sengit antara China dan AS," tulis Hu. "Jumlah hulu ledak nuklir China harus mencapai jumlah yang membuat elite AS menggigil jika mereka menerima gagasan untuk terlibat dalam konfrontasi militer dengan China."
(min)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top